Selasa, 22 November 2011

MUAK

Rasanya sudah lama aku tidak melakukan ini.
Meluapkan sesak jiwa setetes demi setetes walaupun tidak akan sebanding dengan genangan prahara.
Ingin rasanya meneriakkan gemuruh jiwa pada unsur bumi yang tuli walaupun itu tidak akan membendung kehancuran rasa.

Tidak usah mendengarku karena aku tidak ingin siapapun mendengar.
Tidak usah melihatku karena aku tidak ingin dilihat.
Buta dan tulilah saja kalian karena aku akan menghilang.
Menghilang seperti aku datang dan tidak pernah menjadi bagian ini.

Dan saat aku melihat bayanganku sendiri, ia berkata:
"Ini adalah sepi yang dihadiahkan waktu yang tidak pernah bertanya apakah kau mampu
Atau mungkin permainan nasip yang selalu berjalan walau kau ingin berhenti sejenak"


Kali ini saja tolong izinkan aku berkata bahwa aku tidak mampu!!!

Jumat, 21 Oktober 2011

Friday Night at Hospital

hey...
i just wanna say hey hey hey hey...


aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat aku akan berada di tempat yang banyak orang-orang keluhkan. Tapi disinilah aku berada.

saat aku ingin menyerah aku ingat bahwa kemarin aku menangis sambil menampung berkah dari langit untuk berada di sini.
dan kini di sini lah aku..

Jadi haruskah aku menyerah sekarang???

Kamis, 26 Mei 2011

SEDIH



Hey…
Salam dari ku yang bercokol di sudut hatimu
Jabatlah tangan semuku
Perkenalkan aku adalah rasa
Aku adalah bagian dari dirimu yang sering kau abaikan
Dan kadang aku kehilangan suara untuk memanggilmu
Mau tau bagaimana aku bisa bicara padamu saat ini ?...
Aku selalu ada disetiap permainan hati yang kau lakukan
Karena hanya saat itu jiwamu menjadi sarang yang nyaman untukku
Taukah kau ?...
Aku senang saat kau kalah
Aku senang saat kau menumpahkan air mata
Aku senang saat hatimu teriris
Aku menikmati setiap penderitaanmu
Karena hanya saat itulah kau menoleh padaku
Kau milikku seutuhnya saat kau tertunduk bisu disitu
Sekarang tariklah dirimu dari hingar-bingar itu dan ikut bersamaku
Hanya aku yang paling setia di setiap jalan yang kau pilih
Ayo bergegaslah...

Hey rasa...
Ku sambut salammu
Terimakasih sudah hadir
Sungguh hebat dirimu
Ku fikir aku sangat ingin berguru dan mengabdi padamu
Tapi aku tau, tempatmu terlalu kecil untukku mengayunkan tangan dan kaki
Dan ku rasa kau juga tidak memerlukan pengikut sepertiku
Terimakasih kau menarik mata dan hatiku untuk menoleh ketempatmu berada
Menundukkan wajahku dan memalingkanku dari cahaya yang membutakan itu
Aku akan duduk bersamamu sejenak
Tapi esok aku akan melupakanmu lagi
Dan sebelum aku pergi
Aku akan menoleh ke arahmu dengan senyum tipis disudut bibirku...


Tembilahan, 27 Mei 2011
So sad when I know something about you
But I think I need this feeling…




Sabtu, 07 Mei 2011

Yang Salah Hanya Awalnya

Mauris sedikit heran melihat mobil tantenya terparkir di halaman rumah. Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam rumah, mengingat hubungan tante dan mamanya tidak begitu baik. Dan benar saja, saat ia memasuki rumah terdengar suara ribut dari ruangan keluarga.
Setelah mendengar beberapa saat Mauris mengerti apa yang diributkan oleh tante dan mamanya. Yeah apalagi yang diributkan saudara kalau bukan harta warisan.
“maaf, mama dan tante buat apa sih ribut-ribut masalah yang nggak penting gini,” Mauris berusaha menengahi.
“heh anak ingusan, jangan ikut cambur kamu masalah orang tua!” bentak tantenya. Mauris hapal watak tantenya, kasar dan sombong. Dia punya pengalaman buruk dengan tantenya itu. Waktu kecil Mauris sering dimarahi dan diplototi oleh tantenya tanpa ada alasan yang jelas.
“tante sekarang dirumah ku dan jangan bikin ribut donk,” Mauris melawan karena tidak bisa menahan emosi.
“dasar anak haram, gak sopan kamu sama orang tua!” bentak tantenya lagi.
“heh kamu nggak pernah ya ngajarin anak harammu itu sopan santun!” bentaknya lagi mengarah ke mama Mauris.
Mauris terperanjat mendengar kata-kata yang dilontarkan tantenya barusan. Dia disebut ”anak haram” dan itu sungguh sangat mengejutkan.
”apa maksud tante?” tanya Mauris dengan suara menahan tangis dan kaget.
“kamu tanya sama mama kamu itu!” ujar tantenya lalu pergi meninggalkan Mauris dan mamanya yang sama-sama terdiam dengan seribu kata yang tertahan.
Dengan langkah berat Mauris mendekati mamanya yang duduk dengan kepala tertunduk di sofa ruang keluarga itu.
“tolong jelaskan ma,” pinta Mauris jantung berdebar.
“Ris, maafin mama,” ujarnya seraya menangis.
”jelaskan!”
”memang benar mama mengandung kamu sebelum menikah dengan papa. Mama nggak sengaja, mama khilaf,” terang mamanya singkat dan penuh penyesalan.
Untuk sesaat Mauris merasa dadanya sangat sesak dan ia merasa berada diwah kaki takdir yang menginjaknya sampai rata dengan tanah.
”semua . . . ”
”cukup ma, aku nggak mau dengar lagi!“ bentak Mauris lalu pergi meninggalkan rumah tanpa menghiraukan panggilan mamanya.
Selama ini ia merasa bahwa mamanya adalah manusia paling suci dan hebat di muka bumi ini. Walau hubungan mama dan papa tidak berjalan lancar tapi mama adalah mama terbaik di dunia. Mama yang mengajarkannya untuk menjaga diri. Mama yang mengajarkan keperawanan itu adalah harga diri.
Sementara papa sibuk dengan urusannya sendiri. Dia lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah, bahkan Mauris tidak pernah merasa belaian kasih sayang dari papanya. Mereka sering bertengkar karena hal-hal sepele seperti mama telat menghidangkan makan malam atau lauk yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Mauris hanya bisa menutup kupingnya rapat-rapat setiap kali mereka bertengkar. Keributan itu akan semakin gaduh saat Vina, adiknya, menangis karena tidak tahan mendengar bentakan-bentakan yang terlontar dari mulut mereka.
Mauris sering bertanya dalam hati mengapa keluarganya tidak bisa bahagia seperti keluarga teman-temannya. Ia dibesarkan dalam keluarga yang cacat tanpa tau penyebab cacatnya apa. Bahkan pernah ia menyarankan pada mama untuk menceraikan papanya. Tapi hingga saat ini tidak ada yang mau bercerai.
Sekarang pertanyaannya terjawab sudah. Selama ini mama tidak pernah mau bercerita tentang bagaimana ia bertemu dengan papa, karena ingin menutupi bahwa aku ini adalah anak diluar nikah. Ia menyadari mengapa keluarganya tidak pernah bahagia, itu semua karena dimulai dengan langkah yang salah.
Mauris memacu sepeda motornya tanpa tujuan yang pasti. Di tempat yang sepi ia lalu menumpahkan tangisnya yang sudah ditahannya dari tadi. Hari ini benar-benar berat baginya. Kenyataan ini sungguh berat baginya.
Berhari-hari ia murung dan mengunci diri di kamar. Hanya keluar untuk pergi kuliah dan baru pulang hampir tengah malam saat semua orang sudah tidur. Jika tanpa sengaja ia bertemu pandanga dengan mama, ia langsung membuang muka dan bergegas masuk ke kamarnya.
Dikampuspun Mauris yang biasa ceria tiba-tiba menjadi pendiam. Kadang saat semuanya sudah tertawa ngakak dia hanya menyunggingkan senyum tipis karena tidak begitu mengikuti obrolan teman-temannya.
“Loe napa sih Ris murung aja beberapa hari ini?” tanya Yudha, salah seorang sahabatnya.
Mauris menghela napas panjang sambil menggeleng.
”Kalau memang nggak ada masalah jangan diem donk, anak-anak kan pada bingung kalau loe diem gini,” bujuk Yudha.
”Yud, loe ngeliat gw beda nggak dari temen-temen yang lain?” tanya Mauris.
”Ya bedalah, loe tuh gila, tengil dan jail,” jawan Yudha setengah tertawa.
”Loe nggak ngeliat bintik hitam dijidat, pipi, hidung  atau dimana aja yang membuat orang-orang tau asal-muasal gw?” tanyanya lagi.
”Maksudnya apa sih Ris? Yg gw liat muka loe tuh kaya toilet lalat buang hajat,” jawab Yudha berusaha membuat lelucon.
”Ternyata gw anak haram Yud,” ujar Mauris lalu tertunduk dalam
Yudha segera menghentikan tawanya dan menatap Mauris dengan pandangan iba. Ia berusaha mencari kata-kata untuk menghibur sahabatnya itu.
“Ris, bukan cuma loe di dunia ini yang terlahir dengan cara seperti itu. Banyak, malah lebih tragis karena mereka sama sekali gak tau terlahir dari rahim siapa. Yang salah cuma awal tapi selanjutnya sama aja. Loe jangan ngejudge orang tua loe hina karena loe gak tau betapa berat hidup yang mereka jalani dulu menanggung cemoohan orang sekitar mereka. Cukup itu mereka alami dulu, jangan loe lakuin lagi sekarang,” ujar Yudha.
“Tapi . . .”
“ssssttt….” Yudha menaruh jarinya di bibir Mauris
“begitulah cara takdir membawa loe ke dunia ini dan menjadikan loe sahabat gw yang paling gw sayang,” ujar Yudha sambil memeluknya erat.
“sekarang loe samperin mama loe sana, kemaren dia nelpon gw nanyain loe,” suruh Yudha sembari melepaskan pelukannya.
Tapi belum sempat ia melagkah, handphonenya berbunyi dan terdengar suara diseberang sana menyampaikan berita yang membuat dunianya berhenti berputar.
Mauris memacu langkahnya menuju ruang ICU. Mamanya terbaring lemah bersimbah darah karena baru saja menjadi korban tabrak lari. Dokte berusaha keras membantu tapi keadaannya sangat kritis. Mauris tak kuasa menahan tangis saat berada disamping mamanya tak bergerak.
”mama bangun,” pintanya sesungutan.
Dua hari mamanya koma karena mengalami pendarahan otak. Akhirnya sore itu jemari mama menggapai kepala Mauris yang tengah tertidur di samping tempat tidur perawatan.
”mama . . . ” panggil mauris berlinang air mata.
Air mata mengalir dari sudut mata mamanya. Ia memandang Mauris tanpa berkedip dan seulas senyuman tersungging di bibirnya yang tertutup alat bantu pernapasan. Beberapa detik kemudian genggaman tangannya perlahan melemah dan terus melemah sampai tangan itu tak ada tenaga lagi.
***

Jumat, 06 Mei 2011

Suatu Sore



Sebuah tamparan hebat ku rasakan saat melihat dia pergi. Mataku tak kuasa melihat walau semuanya tampak samar dibalik butir-butir air mata yang mengalir deras. Aku seperti sebuah titik yang secepat putaran waktu menghilang ditelan layar putih yang kosong. dan saat aku membuka mata semuanya terasa begitu sepi dan tiada siapapun disini.

Seandainya aku boleh meminta pada Tuhan, aku ingin hari itu tidak pernah ada. Hari dimana aku memutuskan untuk pindah ke kota kecil ini dan hari dimana aku kembali membiarkan diriku terhanyut dalam sebuah perasaan yang dinamakan cinta.

Sore yang basah, seperti sore-sore sebelumnya. Sore yang selalu membuatku merasa bahagia kala melihat titik-titik bening itu jatuh ke permukaan air dan membuat lingkaran yang makin lama makin membesar.
Kali ini semua menjadi sangat luar biasa. titik-titik bening itu menjelma menjadi malaikat tanpa sayap dengan tatapan hangat dari sepasang matanya yang indah. Dan dia tengah memamerkan keelokan rupanya di hadapanku saat ini.

”ada yang bisa saya bantu mas?” tanya ku pada customer yang terpaksa ku layani karena sebenarnya jam kerjaku sudah habis. Tapi seperti biasa teman-temanku terlalu usil untuk membiarkanku meninggalkan kursi eksekusi ini lebih cepat.

”ya, saya butuh informasi yang jelas tentang produk anda ini,” pintanya seraya memegang beberapa brosur produk terbaru dari perusahaan tempatku bekerja.

Dengan cepat aku menjelaskan tanpa bermaksud menawarkan produk itu.  Aku berharap dia tidak berminat, karena jika dia mau aku akan bekerja ekstra sore ini. Tapi semuanya persis terjadi diluar keinginanku, ketertarikannya terhadap produk itu membuat kami terlibat dalam pembicaraan yang panjang dan sesekali menyangkut hal yang pribadi.

Sesekali ku tatap pemilik mata indah itu. Ada rasa damai saat ku melihat jauh ke dalam sana. Ada rasa kagum dan sedikit hayalan bodoh tentang sesuatu yang ku kira mustahil terjadi.
Oh pemilik alam semesta, betapa elok ciptaanmu yang Engkau kirimkan ke hadapanku saat ini.
”aku ingin menjadi miliknya,” bisik hatiku yang tak bisa ku paksa diam.

Entah bagaimana garis nasip meliuk-liuk hingga di sebuah malam yang syahdu aku duduk bersamanya di bawah atap malam. Walau hanya beberapa bintang yang menemani bulan yang enggan bersinar, tapi malam itu terasa sangat sempurna saat dia menggenggam tanganku dan memintaku untuk jadi miliknya.
Seluruh rasaku tumpah saat itu juga.

Rasanya aku kembali menjadi gadis remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Semua terasa begitu indah dan malam itu adalah malam yang sangat sempurna untuk mengatakan bahwa aku jatuh cinta dan aku adalah wanita yang paling bahagia saat ini.

Sekarang aku adalah pemilik mata indah itu. Rasanya ingin ku sulap dia menjadi sebuah miniatur agar bisa ku bawa ia kemapun aku pergi. Demikianlah cinta yang begitu gerlap gempita mempertontonkan keindahannya.

Semua hal biasa terasa begitu istimewa saat bersamanya. Tiada hari tanpa dirinya. Tiada kata tanpa menyebut namanya. Semua hanya dia, dia dan dia.

Hingga aku terlupa.
Senja tak selamanya jingga atau hujan tak selamanya hanya titik-titik kecil yang indah. Apalagi cinta yang kadarnya tak bisa diukur. Datang dan pergi tanpa mengenal kata permisi dan rambu-rambu. Semuanya terasa indah di awal tapi menyengsarakan di akhir.
Yang jika kehilangannya kau akan menyesalinya dari awal dan lupa memetik hikmah yang kau dapat saat bersamanya. Kenapa aku harus bertemu dia dan kemudian jatuh cinta jika hanya menorehkan luka???

Cinta berubah...
Cinta itu seperti es yang mencair lalu menjadi air dan menguap
Cinta itu tidak seperti asinnya air laut yang kadarnya tidak berubah
Dan cinta tak pernah seindah dongeng yang berakhir bahagía untuk selama-lamanya

kini si pemilik mata indah itu tak lagi ku dengar gelak tawanya. Tak lagi ku lihat keteduhan di wajahnya. Semua benar-benar sudah berubah.

“Aku sibuk dan ku harap kamu bisa ngerti,” ujarnya.
“Kenapa tiba-tiba sibuk? Dulu kamu punya banyak waktu buat aku,” protesku keras.
“terserah kamu mau bilang apa, yang jelas kondisiku sekarang memang begitu! Aku pusing karena gak cuma kerjaan aja yang ku pikirin tapi juga masalah keluarga. Dan aku harus cari solusi untuk semua masalah itu. Harus ada yang aku korbankan, dan aku ngorbanin kamu,” terangnya.

Lama aku mencari makna dari perkataannya ”mengorbankan”. Kenapa harus aku yang dikorbankan? Mengapa aku? Apakah ”dikorbankan” adalah posisi terhormat dalam sebuah kisah cinta? Apakah ”dikorbankan” adalah sebuah status yang harus membuatku bangga.
Mengapa dia tidak bersandar di pundakku jika dia sedang kehabisan akal? Atau mengapa dia tidak sedikitpun membagi laranya denganku? Bukankah bersama untuk saling berbagi dan melengkapi?

Setiap pagi aku terbangun dengan dirinya di benakku. Setiap yang ku lakukan ku berharap bisa memahami apa yang dia alami. Setiap malam aku mencoba tidur tanpa berfikir sedikitpun hal buruk tentang dirinya. Dan saat aku berangkat ke alam mimpi, ku harap bisa menemukan dia yang kemaren ku lihat dengan mata berbinar menatapku. Ku coba mencari rasa hangat yang ku rasa setiap dia menggenggam tanganku.
Tapi semakin lama rasa itu semakin kabur karena dia semakin jauh dari sisiku dan tak bisa selalu ku lihat. Aku bisa memaklumi ini saat aku berfikir dia butuh waktu untuk menyelesaikan semua urusannya. Aku bisa memahami saat aku membutuhkannya dia sedang berjuang disana untuk menata kehidupan masa depan buat kami berdua. Aku coba memahaminya walau prasangka buruk yang kerap muncul.

Aku berharap suatu sore dia hadir di hadapanku dengan senyum hangat di bibirnya dan binar di mata indahnya. Hanya itu harapan sederhana yang ku sematkan dalam hati setiap matahari mulai condong ke barat.

Entah berapa sore aku menunggu. Tapi menuju hatiku seperti jalan panjang yang tak berujung baginya. Lelah ku menunggu hingga akhirnya aku terluka oleh waktu. Kau pun berubah menjadi angan-angan buatku, hanya ada di hayalan tapi semakin pudar jika aku ingin mewujudkan.

Aku berharap dia berhenti sejenak dan duduk di hadapanku. Menatap ke dalam hatiku dan menyimak semua rasa yang timbul karena jarak yang tercipta diantara kami. Tapi itu tak kunjung terjadi hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakikhirinya.

Suatu malam yang suram. Teramat sangat galau hati ini hingga tak sepatah katapun terucap dengan pasti. Tapi ku tau dia bisa menangkap maksudku dengan jelas. Bahkan sangat jelas sehingga dia meninggalkanku tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

Cerita yang singkat. Tapi begitulah cinta menorehkan sejarahnya. Tidak peduli berapa singkatnya ia terjalin tapi luka dan air mata yang tercipta sama saja dengan cinta yang telah berabad dijalani.

Jika kemarin aku jatuh cinta seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta, kini aku seperti seseorang tua renta yang kehilangan tongkat untuknya menopang diri. Tiada siapapun di sisi dan tiada apapun di hati. Sepi dan perlahan dia mati tanpa siapapun menangisi kepergiannya.

Dan kini akhirnya ku temukan arti dari kata ”dikorbankan” adalahTIDAK DIINGINKAN.
***

Tembilahan
Selasa, 22 maret 2011





Jumat, 29 April 2011

DIALAH KEKASIHMU


Dialah Kekasihmu

Apakah kau sedang lara karena cinta? Atau kegalauan dan rasa sepi menyelimuti hatimu?
Mampirlah sebentar wahai sahabat. Duduk manis dan bacalah tulisanku ini.
Aku sering mengalami hal itu, dan setiap kali aku ingin menangis aku memejamkan mata dan mengingat saat aku berbaring manja di samping nenekku. Dia selalu mengulik kupingku dengan lembut, menggosok punggungku atau membelai rambutku agar aku tidur.
”Sudah tidur?” tanyanya kalau aku tidak bersuara. Dia tidak akan berhenti melakukan itu semua jika aku jawab belum. Dan saat aku merasa sentuhannya  mulai melemah, aku akan memanggilnya dan memintanya untuk bercerita.
Cerita tentang kasih, walau aku tidak tau persis apa maksudnya dan apa manfaatnya bagi hidupku kelak. Aku mendengar kisah kasih nenek sebelum aku mendengar dongeng tentang cinderella atau putri salju dan kisah cinta lainnya. Aku mendengar kisah cinta sejati sebelum aku menyadari ada hubungan yang begitu rumit antara laki-laki dan perempuan. Dan entah berapa kali nenek menceritakan kisah itu padaku tanpa pernah aku merasa bosan untuk mendengarnya.
Nenekku ádalah seorang janda dari seorang pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan RI. Entah bagaimana kabar si pejuang itu hingga 5 tahun ia tidak pernah kembali. Tidak ada kabar berita sehingga nenek pun menyadari bahwa dirinya sudah janda. Walau akhirnya ada kabar mengatakan bahwa telah ditemukan mayat seorang pria muda yang cirinya seperti suami nenek di sebuah penguburan massal.
Nenek hanya wanita biasa yang juga memiliki kecantikan yang dimiliki oleh semua wanita. Tapi dia adalah wanita kuat dan mandiri, dan itu yang membuatnya beda dari wanita cantik lainnya. Walau sudah janda tidak sedikit pria yang suka dan ingin menjadikannya istri. Mulai dari juragan tanah yang menyukai nenek karena kecantikannya. Tapi ia menolak karena menurutnya kecantikan hanya sementara dan jika nanti kecantikannya hilang, si juragan tanah pasti tidak akan menyukainya lagi. Nenek tidak percaya pada cinta.
Untuk menyambung hidup, nenek berjualan kue basah. Ia tidak malu menjajakan kue basah itu keliling kampung. Kemandiriannya membuat seorang pemuda yang tidak memiliki pekerjaan jatuh cinta. Ia mencintai nenekku karena nenek adalah seorang wanita yang gigih dan pintar mencari uang. Nenek juga menolak pria itu karena ia merasa akan diperbudak oleh laki-laki pemalas itu.
Banyak cinta yang datang padanya dengan berbagai alasan, Namun nenek tak tersentuh hatinya.  Hingga suatu hari seorang pria yang lebih muda darinya datang melamarnya.
”kenapa kau ingin menikahiku sementara aku lebih tua darimu,” tanya nenek pada pria muda itu.
”karena saya kasihan sama kakak’” jawab pria itu tanpa ragu.
Saat itulah hati nenek luluh lantah dan menerima pria yang lebih muda darinya itu untuk menjadi suaminya. Pria itu tidak punya pekerjaan. Ia sebatang kara karena tidak punya saudara. Tidak punya harta apapun dari warisan keluarganya. Dialah yang menjadi kakekku. Kalau boleh jujur, kakek jauh dari pantas untuk nenek. Dia adalah sosok pria yang sempurna. Bahkan aku bisa melihat betapa gagahnya ia walau sudah tua.
Hidup mereka sulit. Kakek mengerjakan apa saja untuk menafkahi nenek. Kadang jadi buruh, kadang bantu-bantu di bengkel, pokoknya apa saja agar dia bisa memberi nenekku nafkah.
Suatu hari ia memberanikan diri untuk merantau ke Riau dan tanpa sengaja bertemu dengan seorang boss perusahaan Caltex. Saat itu mobil sang boss mogok dan kakekku membantunya. Untuk membalas budi, dia mengajak kakekku untuk bekerja di perusahaan minyak itu untuk menjadi teknisi kapal.
Hidup mereka mulai berubah. Dari tidak punya apa-apa hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Kisah cinta mereka tidak berjalan seperti kisah-kisah dongeng yang berakhir bahagia tanpa cela. Kakek pernah hampir menikah lagi dengan wanita lain. Namun nenek tetap sabar hingga kakek sadar dan kembali padanya. Sejak itulah mereka selalu bersama sampai ajal menjemput kakek lebih dulu.
Aku menyaksikan betapa kakek sangat mengasihi nenek. Aku tidak pernah melihat kakek membentak nenek. Kakek tidak pernah gengsi membersihkan rumah atau memasak untuk nenek.
Aku sangat menyayangi mereka berdua, bahkan aku tidur bersama mereka. Pernah suatu malam yang sunyi, aku tersentak dan mendengar mereka bercerita sambil tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan hingga malam itu sepertinya sangat menyenangkan. Dan seingatku tak lama setelah itu kakek pergi untuk selamanya.
”nanti kalau kamu sudah besar dan ingin menikah, carilah pria yang mengasihimu, jangan yang mencintaimu,” kalimat itu yang selalu dikatakan nenek di akhir ceritanya.
”kenapa?”
”karena cinta bisa hilang kapan saja, sedangakan kasih tidak akan pernah hilang. Orang yang mengasihimu tidak akan pernah tega menyakitimu,” jawab nenek.
Aku tidak pernah paham dengan apa yang disampaikan nenek. Dari semua cerita yang ku baca, tidak ada kisah yang menceritakan bahwa sepasang kekasih bersatu karena rasa kasihan, semuanya karena karena cinta dan hanya cinta. Bagaimana mungkin nenek bisa melawan realita yang terjadi di dunia ini dengan pernyataannya.
Aku tidak pernah lupa dengan cerita-cerita itu karena saat terakhir aku bicara dengan nenekpun dia masih mengatakan hal yang sama.
***
            Seperti kebanyakan orang, aku sangat memuja cinta. Aku beralih dari cinta yang satu ke cinta yang lainnya. Mereka datang dan pergi begitu saja dan beberapa dintaranya meninggalkan duka dan luka. Kadang aku berfikir bahwa cinta itu menyakitkan. “Saat kau memutuskan untuk jatuh cinta, kau harus siap untuk terluka karena orang yang kau cinta berada di posisi yang tepat untuk menyakitimu”. Kalimat itu pernah ku baca dalam diary abangku.
Aku mengalami dan akhirnya aku memahami maksud dari pesan nenek.
Aku bertemu dengan seorang teman. Ia baru menikah dengan gadis yang sudah dipacarinya bertahun-tahun. Dia bercerita padaku bahwa dia tidak mencintai istrinya itu. Dia menikahinya karena kasihan. Kasihan karena umur gadis itu sudah tidak muda lagi, kasihan karena gadis itu selalu sabar saat dia berbuat salah. Dia menikah hanya karena kasihan. Dan baginya itu adalah alasan yang sangat buruk untuk menikah.
Mungkin alasan itu yang membuatnya berfikir punya hak untuk jatuh cinta lagi. Katanya ia belum pernah merasa benar-benar jatuh cinta dan menginginkan seorang perempaun seperti ia menginginkan gadis itu. Ia bertemu dengan gadis itu tidak lama sebelum ia menikah. Gadis itu juga membalas cintanya. Temanku itu menceritakan semua tentang calon istrinya pada gadis yang dicintainya, tapi tidak sebaliknya.
”kenapa tidak kamu ceritakan?” tanyaku heran.
”karena aku yakin dia tidak akan bisa menerimanya dan akan sangat sedih,” jawabnya.
”apakah gadis yang kamu cintai itu tidak sedih saat mengetahui kamu akan menikah?” tanyaku lagi.
”dia bisa mengerti,” jawabnya enteng.
Aku terdiam sejenak lalu airmataku mengalir sangat deras.
”kamu tau, istri kamu adalah cinta sejati mu yang akan bersama kamu sampai ujung usia nanti,” jawabku.
”kenapa?”
Aku menceritakan apa yang nenek katakan padaku. Untuk sesaat dia diam dan berusaha membantah. Tapi aku yakin dia akan memahaminya suatu saat, bahwa orang yang dinikahinya itu adalah kekasih yang sebenarnya.
Malam ini aku hampir terlelap saat ku rasakan sebuah tangan lembut seolah mengulik lembut kupingku dan ia berbisik, “kamu sudah mengerti?“
Dengan seulas senyum aku menjawab, “sudah nek.“
***
Tembilahan, 26 Maret 2011
When I feel so lonely


Senin, 04 April 2011

GILA

OMG!!!!
kegilaan apa yang tengah merasuki diri ku ini...
bagai mana mungkin aku bisa mengalami hal yang sangat tidak wajar seperti sekarang???
lebih TERTARIK PADA OM-OM KEREN dari pada cewok-cowok sepantaran...

jadi ingat artikel di sebuah blog yang memuat hasil penelitian bahwa cewek-cewek tuh lebih suka pada pria yang sudah menikah...
atau mungkin juga aku terpengaruh artikel yang mengatakan bahwa salah satu kekurangan pria yang disukai wanita adalah uban..
atau mungkin juga karena cowok-cowok yang "sewajarnya" aku taksir selalu mengecewakan???

nggak tau alasaan pastinya, yang jelas aku suka melihat om-om dengan uban yang mendominasi rambutnya. dengan perut yang sedikit buncit, suara merdu menggelegar dan penampilan yang bersih dan berwibawa, apalagi kalau kulitnya putih.. toet toetttt (^_^)
example nya Tio Pakusadewo...
kwkwkwkwkwkw 

aku rasa aku mulai GILA......
hahahahahaha.....

Sabtu, 26 Maret 2011

bukan siti nurbaya capture 21 (tamat)


ANUGERAH CINTA
Tawa canda anak-anak kampung nelayan adalah obat lain dari kegalauanku. Alangkah bahagianya menjadi anak-anak yang hidup tanpa beban, tanpa tanggungjawab dan hanya ada keceriaan. Dulupun aku merasakan kebahagiaan yang serupa bersama teman-temanku di kampung. Karena tidak ada laut atau sungai, aku anak-anak kampung lainnya berenang di kolam depan mesjid. Di sudut kolam itu ada WC umum yang didatangi oleh seluruh warga kampung karena tidak WC di rumah warga. Untunglah kolam itu banyak ikan sehingga tidak ada kotoran yang tersisa.
Setahun sekali ikan-ikan di kolam itu dipanen dan dijual pada warga kampung. Hasil penjualannya di gunakan untuk beli anak ikan baru dan selebihnya untuk pembangunan Mesjid. Ayah selalu ikut saat panen ikan. Ikan itu ditarok di dalam baskom kira-kira seminggu agar kotoran yang dimakan ikan keluar dari perutnya. Setelah itu baru giliranku dan ibu membakar atau menggoreng ikan-ikan itu. Sedangkan Aisyah kecil bermain dengan ayah. Keluarga sederhana yang bahagia.
Apakah saat ini Ayah sedang melihatku? Apakah beliau bersedih di sana? Mataku berkaca-kaca bila ingat ayah. Pastilah ayah melihat apa yang sedang ku alami saat ini. Semoga saja beliau tidak bersedih.
Saat akan memasuki halaman rumah dinasku, aku melihat sebuah Cherooki hitam parkir di sana. Dengan harap-harap cemas aku melangkah masuk ke rumah yang pintunya ternganga. Ku lihat Datuk sedng duduk di lantai yang beralas tikar di ruang depan.
Janungku berdebar kencang saat dia menoleh ke arahku. Pertanda baik atau burukkah kedatangan beliau ke sini? Dengan sedikit canggung aku duduk di hadapan beliau. Aku sama sekali tidak berani mengangkat wajahku untuk menatapnya.
”Kamu dari mana Nur?” tanya Datuk dengan suaranya yang khas.
”Nur dari pantai Pak,” jawabku agak terbata.
Keheningan kemudian tercipta diantara kami. Begitu banyak hal yang ingin ku tanyakan padanya tapi entah mengapa lidahku kelu sehingga aku tidak bisa berkaa apa-apa.
”Ehm... apa kabar kamu?” tanya Datuk lagi.
”Baik,” anggukku.
Suasana saat ini lebih kaku dari pada malam pertama kami.
”Nur, kita pulang ya,” kata Datuk membuatku kaget.
Mataku berkaca-kaca menatap wajahnya yang teduh.
”Maafkan Nur Pak?” kataku sambil menangis.
Aku menangis seperti anak-anak yang ketahuan berbuat salah oleh ayahnya. Aku meminta maaf dengan sepenuh hati. Dan seperti seorang ayah yang bijaksana Datuk memegang tanganku dan memelukku sangat erat.
Semua bebanku seakan lepas, aku bisa rasakan betapa hangat dan nyaman pelukannya. Hanya saat bersujud kepada Allah lah yang bisa mengalahkan ketenangan saat berada dalam pelukan Datuk.
”Saya yang seharusnya minta maaf Nur. Tidak seharusnya saya bersikap seperti itu sama kamu,” ujarnya.
”Tapi Pak, masalah dr Yudha....” tanyaku nada bersalah.
”Yudha sudah menjelaskan semua, dan yang paling penting dari itu semua saya mencintai kamu Nur,” ujar Datuk.
”Saya juga mencintai bapak,” ujarku dan kembali memeluknya.
***
Usai shalat isya berjamaah, aku mengganti pakaianku dengan pakaian tidur dan melepaskan jilbabku. Sementara Datuk masih duduk di atas sajadahnya dengan kepala tertunduk dalam. Aku menunggunya selesai berdoa di sofa yang ada di sudut kamar kami di rumah atas bukit.
Begitu ia selesai dan melipat sajadahnya ia lalu menoleh ke arahku. Aku jadi salah tingkah dan deg-degan ketika dia menghampiriku. Jantungku berdebar kencang saat dia mengecup keningku. Bibirnya yang merah terasa hangat menyentuh keningku. Kemudian dia memegang tanganku dan bersimpuh di hadapanku.
Aku sangat tidak enak diperlakukan seperti itu. Bagaimanapun tidak pantas seorang istri duduk lebih tinggi dari pada suaminya. Aku berniat untuk ikut duduk di lantai agar sejajar dengannya tapi dengan cepat ia menahanku.
”Nur, terimakasih karena kamu telah bersedia menjadi istri saya,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di pahaku. Dengan lembut ku belai kepalanya.
Air mata haru tiba-tiba mengalir di pipiku. Saat ini aku bisa merasakan benih cinta yang tumbuh pada dr Yudha hanya sebatas kekaguman, dan aku tidak punya asa untuk memilikinya.
Benih itu tidak pernah tumbuh dan berkembang dalam hatiku karena kemudian ia kering dan mati dan digantikan oleh ilalang. Ilalang yang tumbuh subur dan berayun gemulai mengikuti irama hati yang mulai mendendangkan lafaz cinta yang baru. Cinta untuk orang yang telah mengajarkan keiklasan padaku.
Perlahan aku duduk di hadapan Datuk dan menatapnya lekat dengan mata yang basah.
”Nur bahagia menikah dengan Bapak meskipun untuk merasakan kebahagiaan itu Nur harus melalui masa yang panjang. Nur tidak pernah merasa mencintai seseorang sebelum mencintai Bapak. Jika ada orang yang benar-benar Nur cintai itu adalah Bapak. Tidak ada orang lain yang Nur harapkan untuk memberikan kebahagian pada Nur selain Bapak,” kataku tulus.
Datuk menatap mataku lekat. Tangan Datuk yang kokoh kemudian menarikku ke dalam pelukannya yang hangat.
”Saya mencintai kamu Nur,” bisik Datuk.
Aku bahagia sekali mendengarnya. Kebahagiaan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Bahakan lebih membahagiakan dari pada saat namaku dipanggil sebagai lulusan terbaik.
Seluruh alam berbahagia malam itu menyaksikan kebahagiaanku dengan Datuk. Aku benar-benar merasakan  cinta dan kasih sayang dalam setiap sentuhan dan kata-kata yang diucapkan Datuk. Ilalang dalam hatiku menari mengikuti arah angin cinta yang terucap mesra dari bibirnya. Malam ini sebagai seorang wanita aku merasa sangat sempurna dan bahagia.
Kehidupan baru ku jalani. Kehidupan berumah tangga yang harus serba berbagi tapi sangat damai. Aku menikmati silaturrahmi yang baik antara aku dengan istri Datuk lainnya, walau kadang ada rasa cemburu. Dan ternyata rasa cemburu itu sangat nikmat. Cemburu karena cinta. Seperti permen nano-nano yang punya semua rasa.
***
Cinta memberikan kekuatan yang luar biasa dalam hidupku. Aku jadi tambah bersemangat mengerjakan pekerjaanku. Tanpa terasa masa pengabdianku di desa nelayan hanya tinggal seminggu lagi.
Aku mendapat tawaran untuk praktek di Rumah Sakit M Jamil. Dan bagiku itu adalah tawaran yang sangat menarik, menjadi dokter di rumah sakit besar. Jika aku terima aku akan praktek di tempat yang sama dengan dosen-dosenku dulu termasuk Prof Ashaluddin dan dr Yudha.
Semangaku untuk mengabdi di desa nelayan makin menggebu di akhir-akhir masa pengabdianku. SK ku juga sudah keluar sehingga aku juga bisa membuka praktek sendiri sebagai dokter umum.
Frekuensi berkunjung ke rumah warga kampung nelayan makin ku tingkatkan dan bermain bersama anak-anak kampung menikmati matahari terbenam. Saat berkumpul anak-anak itu makin seru jika Datuk datang menjemputku karena sebelum pulang Datuk ikut bermain dengan mereka dan mengajak mereka membuat istana pasir dalam berbagai kreasi. Rona kebahagiaan terlukis jelas di wajah meraka. Datuk memang sangat pandai mengambil hati anak-anak itu.
Tapi diantara mereka yang sedang berbahagia aku menangkap wajah murung Rosa. Sejak aku memberitahunya tentang kepindahanku, dia jadi menjaga jarak denganku. Dia tidak seantusias biasanya saat melihatku. Jika aku membawakan sesuatu untuknya dia sama sekali tidak menyentuhnya.
”Rosa sedih banget karena bu dokter mau pindah. Dari kemaren dia nanya terus kapan ibu dokter mau pindah, kenapa harus pindah. Sepertinya Rosa tidak mau berpisah dengan bu dokter,” kata ni Ratna, ibunya Rosa.
Aku jadi sedih dibuatnya, sebenarnya aku juga berat berpisah dengan Rosa dan kehangaan kampung nelayan tapi masa tugasku sudah berakhir dan nanti akan datang pengganti yang mungkin akan lebih baik dariku. Dan tawaran untuk praktek di RS M Jamil adalah impianku sejak aku koas di sana. Dengan honor yang akan aku terima disana aku bisa melanjutkan studiku untuk mengambil spesialis jantung seperti cita-cita ku waktu ayah meninggal, tapi tentunya kalau Datuk memberi ijin.
Hati ku galau sekali dan aku tidak bisa menyembunyikannya.
”Sayang, kamu kenapa dari tadi diam aja?” tanya Datuk di perjalanan pulang.
Ternyata Datuk juga bisa membaca kegalauan hatiku saat ini.
”Kamu sedih ya akan meninggalkan kampung nelayan?” tanyanya.
Aku hanya menjawab dengan anggukan. Datuk sudah bisa membaca perasaanku dengan baik bahkan sangat baik.
”Bagi Nur berada di kampung nelayan seperti berada di tengah-tengah keluarga, Nur sedih sekali kalau harus meninggalkan mereka,” kataku datar.
”Mereka juga pasti akan sedih berpisah dengan kamu Nur, tapi kalau kamu menuruti perasaan, kamu hanya akan stag berada di satu titik. Sementara ada kesempatan besar menunggu di depan kamu. Seperti kamu meninggalkan ibu dan adikmu di desa untuk kuliah kedokteran. Waktu itu kamu pasti sedih juga, tapi kamu tetap meninggalkan mereka sehingga kamu bisa jadi dokter saat ini. Kejadian itu terjadi lagi pada kamu dengan kampung nelayan. Kamu harus meninggalkan mereka karena cita-cita mu ada di depan mata. Kamu harus meninggalkan satu titik untuk maju ke titik selanjutnya. Sebuah generasi harus maju dan digantikan oleh generasi selanjutnya,” kata Datuk bijaksana.
”Kamu masih ada waktu seminggu untuk berfikir kembali Nur, saya dukung semua keputusan kamu sayang. Kamu minta petunjuk Allah biar kamu yakin langkah apa yang akan kamu ambil,” kata Datuk dan senyum manis tersungging di bibirnya yang merah.
Aku merasa tenang mendengar saran Datuk. Itu adalah salah satu kelebihannya yang sangat aku suka, dia selalu memberi pencerahan terhadap masalah-masalah yang ku hadapi. Tapi dia tidak memaksakan kehendaknya padaku. Aku merasa benar-benar mendapat bimbingan darinya.
”Oh ya Nur, saya ada berita bagus buat kamu.”
”Apa?” tanyaku penasaran.
”Nanti saja di rumah, kita akan kedatangan tamu spesial,” katanya membuatku penasaran.
”Siapa?” tanyaku makin penasaran.
”Kamu lihat saja nanti,” kata Datuk membuatku makin penasaran.
Rasa penasaran menggelayuti hatiku sehingga aku jadi tidak sabar menunggu malam tiba. Untunglah aku bisa sedikit meredamnya dengan membantu Bu Zaedar dan Ibu yang sudah tinggal di rumah ini sejak sebulan yang lalu. Alhamdulullah Aisyah bisa jebol kuliah di jurusan Kedokteran Universitas Gajah Mada. Aku sungguh bangga padanya, dia bisa menimba ilmu di universitas yang kualitasnya lebih dari pada aku.
Sekitar pukul 19:00 WIB bel berbunyi, pasti itu dia tamu pentingnya. Setelah merapikan jilbabku aku berjalan menuju pintu depan, ternyata Datuk sudah lebih dulu membukakan pintu.
Aku melihat Yudha dan seorang laki-laki bertubuh tegap berjalan di belakang Datuk.
”Ah Nur, ini dia mereka sudah datang,” kata Datuk.
Aku tidak menyangka bahwa tamu spesial itu adalah Yudha dan temannya itu.
”Nur, ini dr Andra. Dia ini sahabatku waktu kuliah spesialis penyakit dalam dulu. Dia seorang spesialis tulang dari Jakarta,” kata Yudha memperkenalkan.
Aku mengatupkan telapak tanganku di depan dada untuk memberi salam. Aku masih belum mengerti mengapa dr Andra menjadi tamu spesial kami malam itu. Begitu mereka duduk, aku segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk  mereka. Tanda tanya masih saja menggelayut di benakku.
Setelah meletakkan minuman di meja tamu Datuk memintaku duduk.
”Nur, kemaren saya sudah bicara dengan dr Andra tentang Rosa. Dan beliau ini sengaja datang dari Jakarta untuk memeriksa Rosa dan kemungkinannya untuk memakai kaki palsu,” jelas Datuk.
Aku senang sekali mendengarnya. Sudah lama aku punya rencana seperti ini tapi belum pernah terwujud karena aku masih mengumpulkan uang untuk membeli kaki palsu untuk Rosa. Lagi pula untuk menggunakan kaki palsu Rosa harus mengikuti beberapa terapi yang juga tidak makan sedikit biaya. Walau Datuk memberiku sebuat ATM yang berisi banyak uang tapi aku takut menggunakan uang itu. Tapi lagi-lagi Datuk tau apa yang aku inginkan.
”Terimakasih,” kataku menatap mereka bergantian.
”Jadi kapan saya bisa bertemu anak itu?” tanya dr Andra.
”Besok kita akan sama-sama kesana,” jawabku cepat.
Aku jadi tidak sabar menunggu hari esok tiba agar bisa segera bertemu dan melihat reaksi Rosa.
”Ini baru kejutan pertama,” ujar Datuk.
Aku jadi kembali penasaran. Kejutan apa lagi yang akan ku dapatkan dari orang-orang ini. Hah, Datuk memang suka memberi ku kejutan. Dan aku menyukai semua kejutan yang diberikannya.
”Nur aku punya kabar buat kamu,” kali ini Yudha yang angkat bicara.
”Sepertinya aku akan mengambil sesuatu yang berharga dari mu,” Yudha menggantung kalimatnya, wajahnya terlihat sangat serius.
”Aku mau melamar sahabat kamu secepatnya,” ujar Yudha kemudian.
”Aida?” tanyaku tidak percaya.
Yudha menjawabnya dengan anggukan.
Subhanallah... terimakasih ya Allah, begitu banyak hal menyenangkan yang Engkau berikan padaku. Aku benar-benar tidak bisa lukiskan rasa syukurku saat ini. Aku bahagia karena orang-orang yang sangat ku sayangi mendapa titik terang dalam penantian hidup mereka.
***
Pekanbaru, 12 Mei 2009 12.19 Wib
Lagi off kerja

bukan siti nurbaya capture 20


RAHASIA ITU TERKUAK
            Dengan langkah seribu aku menuju ke kamar rawat Datuk, sore ini Datuk sudah boleh pulang. Begitu sampai dikamar rawat Datuk, aku meliha suster yang biasanya bertugas membantu dr Yudha sedang merapikan barang-barang Datuk. Dia tersenyum ramah begitu melihat kedanganku. Mungkin dr Yudha memintanya untuk membantu Datuk beres-beres. Sementara Datuk berdiri di dekat jendela dan memandang ke arah luar. Entah apa yang sedang dilihatnya, sampai-sampai dia tidak menyadari kedatanganku.
”Barang-barangnya sudah siap Bu,” kata suster itu.
”Terimakasih ya,” kataku sambil tersenyum.
Suster itupun berlalu meninggalkan kamar Datuk.
Ku hampiri Datuk dan menyentuh bahunya. Dia terlihat kaget dengan kedatanganku. Ku lihat wajahnya tidak secerah saat dia tau bahwa dia akan segera pulang, wajanya terlihat kaku dan dingin.
”Suster sudah selesai membereskan barang-barangnya, ayo kita pulang,” ajakku. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Datuk langsung duduk di kursi roda yang ada di sampingnya. Ku dorong korsi roda itu perlahan tanpa berkata sepatah katapun. Aku bigung dengan sikap Datuk. Aku belum pernah melihat Datuk sedingin ini. Pak Ujang yang mengangkat barang-barang mengikuti kami dari belakang.
Tadinya ku pikir Datuk bersikap dingin seperti itu karena beliau merasa kurang sehat. Tapi sudah tiga hari ini beliau tidak begitu banyak bicara denganku. Beliau juga menolak saat aku mengajak beliau tidur di kamar yang sama denganku. Pada hal aku telah memindahkan selimut dan bantal yang biasa dipakainya ke kamar ku dan juga akan jadi kamar kami. Tapi dia malah kembali memindahkannya ke ruang kerja. Datuk benar-benar terlihat murung dan tidak bersemangat seperti biasa.
Suatu sore saat Datuk sedang duduk sambil membaca buku di balkon, aku memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
”Pak, ini Nur bawakan teh hangat,” ujarku dan kemudian duduk di kursi yang ada di samping Datuk.
”Terimakasih,” ujarnya tanpa menoleh sedikitpun padaku.
Lama aku duduk membisu karena tidak tahu harus memulaii pembicaraan kami dari mana.
”Pak....” panggilku dengan suara bergetar.
Ku kumpulkan semua keberanianku untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia begitu murung sejak pulang dari RS.
”Bolehkah Nur tau kenapa beberapa hari ini Bapak terliha sangat murung?” tanyaku masih dengan suara bergear.
Keasikan Datuk membaca sepertinya terusik dengan pertanyaanku. Dia mengalihkan pandangannya jauh ke depan. Untuk beberapa saat keheningan tercipa diantara kami.
”Apakah kamu menyesal menikah dengan saya, Nur?” tanyanya tiba-tiba dengan suara datar.
Aku terperanjat mendengar pertanyaan Datuk. Sikap dinginnya yang membuat rumah ini terasa diselimuti awan tebal, kini seakan dihantam badai salju. Aku merasa sedih dan hatiku tersayat-sayat mendengar pertanyaan itu.
”Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” tanyaku dengan suara bergetar.
”Nur.... Mengapa kamu tidak pernah kasih tau saya kalau kamu mencintai orang lain?” tanyanya lagi.
Aku benar-benar kaget mendengan apa ang baru saja dikatakan Datuk. Aku tidak bisa berkata apa-apa, lidahku terasa kelu dan kaku. Mengapa harus sekarang dia mengetahui hal ini. Mengapa tidak dari dulu saat diantara kami belum ada ikatan apa-apa. Mengapa setelah kami menikah dan saat aku telah catuh cinta padanya.
”Mengapa kamu tidak pernah memberitahu saya bahwa kamu menyukai Yudha,” kata Datuk lagi dengan suara makin bergetar.
Air mataku meleleh, butiran bening itu juga ku lihat menganak sungai dimata Datuk. Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Tidak tau apa yang terjadi aku berlari menuju jalan komplek itu. Untunglah tidak jauh dari rumahku ada taxi yang sedang berhenti. Dengan spontan ku minta sang sopir mengantarku ke Rumah Sakit.
Hati ku sanga galau, kacau. Rasanya aku terjepit antara langit dan bumi, sesak sekali. Aku tidak habis pikir dari mana Datuk mengetahui itu semua. Apakah mungkin Aida yang memberi tahunya? Atau malah dr Yudha sendiri yang memberi tau. Hatiku yang gundah gulana meyakini dr Yudha lah yang memberi tau Datuk. Entah untuk apa tapi aku harus minta pertanggungjawannya.
Begitu sampai di RS aku langsung ke ruangan dr Yudha. Aku bahkan lupa bagaimana adabnya bertamu ketempat orang. Aku hanya ingin tau untuk apa dia memberi tau Datuk tentang ini semua.
Dokter Yudha yang tengah serius dengan beberapa kertas di atas mejanya terlihat kaget karena kedatanganku yang tiba-tiba.
”Kenapa Dokter? Kenapa Dokter tega mempermalukan saya pada suami saya sendiri?” kataku dengan suara marah.
”Ada apa Nur? Apa maksud kamu?” tanya dr Yudha dengan wajah bingung.
”Kenapa dokter memberi tau Datuk kalau dulu saya pernah menyukai dokter?” kataku masih dengan nada emosi.
”Demi Allah, saya tidak pernah memberi tau siapapun kejadian hari itu,” kata dr Yudha sunguh-sungguh.
Aku terduduk lemas di sofa yang ada di ruangan itu. Tubuhku terasa sangat lemas dan tidak berdaya. Apakah aku juga telah melakukan kesalahan lagi dengan menuduh orang tanpa bukti? Tapi siapa lagi kalau bukan dia? Mungkinkah Aida? Tidak mungkin sahabatku iu yang memberit tau Datuk. Aida hanya pernah satu kali menjenguk Datuk dan itupun bersamaku.
Tiba-tiba aku teringat seseorang, suster yag tempo hari membantu Datuk beres-beres. Dia juga ada di ruangan ini saat aku menyatakan perasaanku pada dr Yudha. Dan kemarin dia juga ada di kamar rawat Datuk. Mungkin saja Datuk mengetahui hal iu dari dia? Tapi untuk apa dia menceritakan hal itu?
Aku terasa makin terjepit di kolong langit ini. Aku benar-benar tidak kuasa menahan gemuruh dalam hatiku. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus ku lakukan.
Dengan gontai aku berdiri dan melangkah pergi dari ruangan dr Yudha.
”Maaf...” bisikku lirih.
Tinggal selangkah lagi tanganku menjangkau gagang pintu, suara dr Yudha menghentikan langkahku.
”Nur, kali ini saya tidak akan biarkan kamu pergi dari sini tanpa mengetahui apa-apa?”
Aku tersentak mendengar kata-katanya. Aku tidak berani membalikkan wajah ke arahnya. Aku hanya berdiri terpaku ditempatku dan memunggunginya.
”Sebelum kamu menyatakan perasaan mu, aku sudah tau bahwa Datuk telah meminangmu. Dan aku nggak mungkin melamar wanita yang sudah lebih dulu dilamar oleh kakak kandungku sendiri. Hari itu aku ingin bersimpuh di hadapan Allah dengan penuh rasa syukur, tapi ternyata aku bersimpuh dengan air mata duka. Setiap hari aku memintamu pada Allah Nur, tapi ternyata Allah membawamu ke sisiku dengan jalan lain,” kata dr Yudha dengan suara bergetar.
Seketika hatiku hancur berkeping-keping. Gemuruh hatiku telah mendatangkan badai yang hebat dan memporak-porandakan jiwaku yang terasa sangat lemah. Mengapa tidak saat itu dia menahan langkahku untuk keluar dari pengharapan terakhirku. Mengapa dia membiarkan ku merasa menjadi orang yang tidak pantas mendapat kebahagiaan. Mengapa dia membuat aku merasa menjadi orang paling malang di dunia ini. Mngapa?
Ku seka air mataku dan berbalik ke arahnya.
”Dulu saya memang sangat menyukai dokter, tapi sekarang saya sadar bahwa tidak ada yang lebih pantas saya cintai selain suami saya sendiri,” ujarku kemudian berlalu meninggalkan dokter Yudha yang berdiri kaku di belakang mejanya.
***
Sebulan sudah sejak hari itu aku menyendiri di kampung nelayan. Aku tinggalkan semua kegalauanku saat berada di puskesmas. Namun kala sang surya mulai membakar cakrawala rasa sepi itu muncul. Aku rindu ibu, Aisyah dan Datuk. Aku sanga merindukan Datuk. Masih marahkah dia padaku? Sefatal itukah kesalahanku sehingga dia tidak lagi mau menemuiku? Mengapa dia tidak menjemputku?
Setiap Jumat sore aku selalu siap-siap berharap Datuk akan menjemputku seperti biasa. Tapi tiada. Terkadang ku beranikan diri untuk menelponnya, tapi saat panggilan itu akan tersambung aku selalu menjadi galau dan akhirnya aku matikan lagi telponnya.
Kala malam telah sunyi sepi aku terbangun dan laru dalam sujudku. Tidak ada lagi tempat mengadu selain Dia. Tidak ada lagi tempat meminta selain Dia. Hanya pada-Nya aku serahkan semua. Pada-Nya ku tumpahkan air mataku dan pada-Nya ku tengadahkan tanganku. Aku meminta belas kasihan-Mu ya Allah. Bawalah aku keluar dari derita yang ku tanggung saat ini. Sentuhlah hati kekasihku dengan tangan lembutmu. Getarkanlah hatinya saat aku menyebut namanya. Dan tuntunlah langkahnya ke arahku saat dia mengingatku. Engkau Maha Mengatur ya Allah dan Engkau pula yang Maha Menyayangi....
Sedikit demi sedikit beban hatiku terasa berkurang setiap kali aku shalat tahajud. Malam ku tak lagi sepi dan dukaku tak bertambah dalam karena aku mengadukannya pada Kekasihku yang paling setia. Kekasih yang tidak akan meninggalkanku walau aku pernah berbuat dosa pada-Nya. Kekasih semua umat manusia yang takut pada-Nya dan mau menjalankan perintahnya.
***

bukan siti nurbaya capture 19


CINTA ADALAH KEIKLASAN

Beberapa hari ini aku merasa sangat bahagia. Senyum seakan tidak pernah lepas dari bibirku. Rasanya aku tidak sabar menunggu akhir pekan untuk bertemu dengan Datuk. Aku tidak sabar menunggu dia datang menjemputku. Aku rindu padanya.
Kebahagiaanku bertambah karena kemarin dokter Yudha bersedia menjadi pembimbing sementara Aida. Setidaknya ini adalah kesempatan baik untuk mereka agar saling mengenal lebih dekat dan kesempatan yang telah lama kutunggu untuk membantu Aida. Aku berharap Aida bisa segera menyelesaikan koas dan kuliah kedokterannya. Aku sudah tidak sabar berpartner dengannya.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling kamarku yang dipenuhi bunga beraneka ragam. Aku benar-benar bahagia melihat bunga-bunga itu. Mereka bermekaran seperti cinta yang sedang mekar di hatiku. Aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan Datuk walaupun jantungku berdebar-debar dan aku tidak tau apa yang harus aku katakan atau ku lakukan di hadapannya nanti.
Jumat sore menjadi hari yang sangat ku nanti-nantikan. Usai shalat Ashar aku segera bersiap-siap karena biasanya Datuk datang sekiar jam 4 sore. Aku mengenakan pakaian terbaikku dan sedikit berdandan dengan harapan Datuk akan senang begitu melihatku. Ara yang melihat penampilanku agak berbeda saat itu tersenyum menggoda. Aku jadi tersipu dibuatnya.
Pukul 4.30 sore terdengar suara mobil memasuki perkarangan rumah dinas ku. Aku bergegas keluar karena yakin itu adalah mobil Datuk, aku sangat hapal suara mobilnya. Begitu aku membuka pintu,  sebuah cerooki hitam berdiri dengan gagah di perkarangan yang tidak terlalu luas itu.
Begitu pintu mobil dibuka, ternyata yang turun dari mobil itu bukan sosok yang ku nanti. Wajah ramah Pak Ujang menimbulkan pertanyaan di hati ku akan keberadaan Datuk. Belum pernah Pak Ujang menjemputku sebelumnya, Datuk selalu melakukannya sendiri.
“Udah siap mau pulang Bu dokter?” tanya Pak Ujang ramah sambil meraih tas yang ku jinjing.
“Iya sudah,” jawabku dan kemudian melangkah di belakang Pak Ujang menuju ke mobil.
Perlahan mobil meninggalkan rumah dinas ku yang sangat sederhana itu.
“Datuk kemana Pak Ujang?” tanyaku pada Pak Ujang.
“Hhmm anu Buk…” Pak Ujang terlihat sedikit bingung menjawab pertanyaanku.
“Kenapa Pak?” tanyaku lagi.
“Sebenarnya Bapak sedang sakit, tapi beliau bilang jangan kasi tau Ibuk dulu biar tidak khawatir,” jelas Pak Ujang akhirnya.
Kenapa Datuk berfikir seperti itu? Malah aku akan lebih kuwatir kalau aku tidak tau keadaannya saat ini.
“Sekarang beliau dimana dan sakit apa Pak Ujang?”
“Beliau di rumah sakit sejak kemarin, magh beliau kambuh,” jelas Pak Ujang.
Kecemasan menggerogoti hatiku. Aku tidak pernah tau kalau Datuk punya penyakit magh. Setahuku beliau sangat menjaga pola makan dan selalu memakan makanan yang bergizi. Untunglah kami segera sampai di rumah sakit tempat Datuk dirawat. Aku berjalan dengan cepat menuju kamar rwatnya.
Begitu pintu kamar VIP itu terbuka, langkahku tertahan dan aku tidak berani masuk ke dalamnya. Seorang wanita dan seorang anak perempuan remaja yang kira-kira tidak jauh beda umurnya dengan Aisyah sedang duduk di samping tempat tidur Datuk. Suasana hangat tercipta diantara mereka. Meski terbaring lemah dengan infuse tertancap di tangannya Datuk masih bisa tertawa.
Wanita itu pasti Salma istri kedua Datuk dan anak itu adalah Lulu anak kandung Datuk satu-satunya. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya tapi aku sudah banyak mendengar cerita tentang mereka dari Bu Zaedar.
Ku balikkan tubuhku dan duduk di bangku yang menempel di dinding rumah sakit itu. Perasaanku tidak enak jika harus masuk ke dalam dan merusak kehangatan yang tercipta diantara mereka. Hhhaaahhh aku menghela napas panjang dan menunduk memperhtikan jari-jariku yang tidak bisa berhenti bergerak mengikuti gemuruh dalam hatiku.
Tadinya ku harap bisa segera melihat Datuk dan memegang tangannya agar dia jadi lebih kuat. Tapi ternyata sudah ada orang lain yang melakukan itu untuknya. Bahkan aku tidak yakin Datuk mengharapkanku untuk membesuknya. Dia tidak memberitahuku bahwa saat ini dia sedang terbaring di rumah sakit, mungkin dia ingin bersama istri dan anaknya. Aku jadi merasa tidak dianggap olehnya, aku juga merasa bukan bagian dari hidupnya. Aku benar-benar cemburu melihat wanita itu menyuapi Datuk.
Cukup lama aku tertunduk di sana dan sibuk dengan pikiranku sendiri sampai sebuah suara menegurku.
“Kok nggak masuk Nur?” tanya dokter Yudha yang kemudian duduk di sampingku.
“Ah, tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum kecut tanpa melihat ke arahnya.
Yudha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Datuk. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali duduk di tempatnya semula.
“Ooo, itu namanya Kak Salma dan anaknya Lulu,” jelas Yudha seakan mengerti alasanku tidak masuk ke sana.
Aku hanya diam mendengar penjelasan Yudha. Aku tidak tau harus berkata apa.
“Datuk sakit apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Yudha diam sejenak dan kemudian menarik napas panjang.
“Dari waktu dia masih muda Datuk itu udah jadi workaholic sampai-sampai lupa dengan dirinya sendiri. Dia jadi tidak memperhatikan kesehatan dan yang paling parah, maghnya sudah akut. Jika dia melenceng sedikit saja dari jadwal makannya, akibatnya ya seperti sekarang,” terang Yudha.
Aku manggut-manggut mendengarnya. Pantas saja Datuk selalu makan tepat waktu dan dia tidak pernah lupa membawa buahan atau roti setiap akan bepergian. Aku tidak pernah tau itu.
“Ayo,” Yudha berdiri dan mengajakku untuk masuk ke kamar Datuk.
Aku menggeleng, tapi Yudha terus mengajak dan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Dan aku tetap menggeleng.
“Sampai kapan kamu nggak mau menghadapi mereka? Cepat atau lambat kamu pasti bertemu dengan istri Datuk yang lainnya. Dan mungkin inilah waktunya,” ujar Yudha lagi.
Entah sejak kapan aku merasa bahwa Yudha sangat memahamiku seolah dia bisa membaca apa yang ada dalam hatiku. Dia selalu punya cara untuk membuatku melakukan apa yang terkadang sulit untuk ku lakukan. Seperti sekarang, aku tidak bisa menolak ajakannya untuk masuk ke kamar Datuk.
Dengan tersendat-sendat aku berjalan mengikuti Yudha memasuki kamar Datuk. Udara sejuk langsung menyambutku dan perlahan mengusir rasa gundah yang tadi memenuhi rongga dadaku. Hatiku mulai tenang begitu senyum Salma mengembang saat pandangan kami saling bertemu.
Senyumannya sangat lembut dan hangat. Aku jadi heran, apa alasan Datuk mencari istri lagi setelah menikahi wanita yang memiliki senyum sangat lembut itu. Padahal wanita itu juga telah memberinya seorang anak perempuan yang sangat cantik. Tapi aku menangkap rona sinis yang terpancar dari mata indah gadis remaja itu. Berbeda sekali dengan Salma yang menyambutku dengan hangat.
“Nur, maaf saya tidak bisa menjemput kamu,” ujar Datuk dengan suara yang sayup.
“Tidak apa-apa Pak,” jawabku.
“Oh ya kenalkan ini Salma,” ujarnya lagi dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Salma menjaba tanganku dengan hangat dan matanya juga memancarkan rasa senang bisa berkenalan denganku. Begitu aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengan Lulu, gadis remaja yang memiliki rambut ikal itu melengah dan tidak mau menyambut tanganku.
“Lu, nggak boleh gitu nak,” ujar Salma lembut.
“Lulu nggak suka sama orang yang sudah mengambil Papa dari kita,” ujarnya ketus dan kemudian berlari ke luar.
“Ah, maafkan sikap Lulu,” ujar Salma yang merasa tidak enak dengan sikap anaknya.
“Tidak apa-apa Kak,” ujarku pada istri kedua Datuk yang ku panggil Kakak itu.
Suasana hening menyelimuti. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara Datuk terlihat menerawang entah apa yang dipikirkannya. Kejadian tadi pasti berpengaruh tidak baik pada kondisinya saat ini. Aku jadi merasa bersalah sudah berada di ruangan ini karena membawa keributan.
Begitu Salma keluar untuk mencari Lulu suasana masih tetap hening. Yudha pun sepertinya tidak mau ikut larut dalam keheningan pamit dengan alasan harus mencek pasien lainnya. Sedangkan aku masih tetap berdiri di posisiku semula tanpa tau harus berbuat apa.
“Nur, duduklah di sini,” pinta Datuk.
Aku menuruti permintaan Datuk dan duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Salma.
“Maafin sikap Lulu tadi ya,” kata Datuk.
Aku benar-benar tidak tega mendengar suaranya yang lemah. Biasanya setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat tegas dan berenergi. Tapi sekarang aku benar-benar tidak tega mendengar dia bicara. Ku raih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
“Tidak apa-apa Pak,” ujarku sambil tersenyum.
Hari itu terasa sangat panjang bagiku. Berada diantara Datuk, Salma dan Lulu yang memandangku dengan tatapan sinis. Aku menawari mereka untuk pulang ke rumah kami di Indarung, tapi Salma menolak dengan halus. Katanya dia akan menemani Datuk malam ini di rumah sakit. Sedangkan Lulu sudah pasti bisa ditebak tidak akan mau menginap di rumahku.
Sebenarnya aku juga ingin menemani Datuk di rumah sakit malam itu tapi Datuk tidak mengizinkan. Dia malah memintaku untuk pulang dan beristirahat. Aku jadi makin merasa Datuk benar-benar tidak menginginkan kehadiranku. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah di atas bukit itu, aku tidak ingin “terusir” lagi dari ruangan ini.
Lampu-lampu kota dimalam hari berkelap-kelip layaknya bintang-bintang yang ada di langit jika dilihat dari balkon kamarku. Aku seperti berada di tempat yang lebih tinggi dari bintang-bintang itu. Gugusannya seakan membentuk sebuah kota yang bernama kota Padang.
Malam hampir larut dan lagi-lagi aku tidak bisa tidur di kamar ini. Hatiku diselimuti kabut tebal dan udara dingin seakan menusuk-nusuk jantungku. Jiwaku seakan dibawanya terbang jauh dari jasatku yang tengah bimbang. Titik demi titik airmataku tumpah tanpa permisi. Aku benar-benar gundah saat ini.
Ternyata cinta tidak seindah ku duga dan keiklasanku untuk menikah dengan Datuk kembali diuji. Ternyata tidak gampang mngiklaskan orang yang ku cintai bersama wanita lain yang juga mencintainya. Bahkan mungkin Datuk juga sangat mencintai istrinya itu.
Aku merasa menjadi seorang pengganggu dan duri dalam kehidupan rumah tangga mereka. Mungkin Lulu benar, aku telah mencuri seorang ayah dari anaknya dan suami dari istrinya. Tapi sungguh semua ini diluar kemampuanku. Jika aku bisa melawan takdir aku elakkan semua ini agar tidak terjadi. Tapi apa yang harus ku lakukan, aku sebenarnya juga tidak senang berada di posisi ini. Tangisku pecah dan hatiku rasanya sangat sakit sekali.
Malam ini aku bersimpuh di hadapan Allah dan larut dalam setiap doa yang kupanjatkan dengan linangan air mata. Aku yakin Allah senantiasa memberiku pertolongan sehingga aku masih kuat sampai detik ini.
***
Pagi-pagi usai sarapan aku meminta Pak Ujang untuk mengantarku ke rumah sakit. Begitu melewati tukang susu kedelai aku berhenti dan membeli beberapa bungkus untuk ku bawa ke rumah sakit. Walaupun tengah sakit ku harap Datuk tetap bisa menikmati harinya dengan meminum susu kedelai kesukaannya dan sebuah koran.
Begitu memasuki ruang perawatan, ku lihat Datuk sedang asik membaca koran yang sama dengan yang ku belikan untuknya. Aku jadi merasa bodoh sendiri, ini adalah kamar VIP dan tentunya rumah sakit menyediakan apa yang dibutuhkan oleh pasiennya.
“Assalamualaikum,” sapaku.
“”Waalaikumsalam,” jawab Datuk sambil melipat korannya.
Wajahnya terlihat lebih berseri dan segar pagi ini. Dia menyambutku dengan senyum hangat. Ku letakkan kantong plastik yang berisi susu kacang kedelai di rak yang ada di samping tempat tidurnya. Ku buka bungkusnya dan menuangnya ke dalam gelas.
“Wah, terimakasih Nur. Saya memang sangat ingin minum susu kedelai ini,” katanya sambil meneguk susu itu. Aku memperhatikan Datuk sejenak. Aku terhibur melihat dia menikmati susu kedelai itu.
“Tadi kamu bawa apa lagi Nur?” tanya Datuk kemudian.
“Koran Pak, saya kira tidak ada koran di sini,” kataku menahan malu.
“Sini korannya,” ujar Datuk.
“Sama dengan Koran yang Bapak baca kok,” ujarku.
“Tidak apa-apa,” ujar Datuk lagi.
Akhirnya aku menyerahkan koran itu pada Datuk. Tanpa banyak komentar dia langsung membuka koran itu dan membacanya. Sementara koran yang tadi dibaca dibiarkannya terlipat di samping ranjangnya.
Tidak lama berselang Salma datang bersama Lulu. Mereka tadi pergi untuk sarapan. Salma menegurku dengan ramah sementara Lulu berbalik dan pergi entah ke mana.
“Udah lama?” tanya Salma.
“Baru Kak,” jawabku.
“Kamu udah ketemu dokter?” tanyanya lagi dan ku jawab dengan gelengan.
“Tidak usah khawatir, keadaan Bapak udah jauh lebih baik,” jelasnya.
Aku lega mendengarnya. Aku juga lihat Datuk lebih bersemangat hari ini. Aku dan Salma berbincang-bincang sambil menunggui Datuk. Aku benar-benar kagum pada Salma.
Dia adalah guru honor Sekolah Dasar di desa sebelah desaku. Walau sudah mengajar selama 20 tahun tapi statusnya belum juga naik menjadi pegawai negeri. Tapi keadaan itu tidak serta merta membuatnya kecil hati dan berniat untuk pindah. Ia bertahan karena sangat mencintai anak-anak yang ada di desanya. Baginya status dan uang tidaklah penting karena dia masih menerima nafkah dari Datuk.
Aku benar-benar kagum padanya. Dia benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa dan tidak banyak orang seperti dia. Sama sekali aku tidak merasa seperti istri muda suaminya. Dia memperlakukan aku seperti adiknya sendiri. Padahal kalau dilihat-lihat aku lebih pantas menjadi anaknya.
Aku sempat mempertanyakan keberadaan Aryuni istri keempat Datuk. Menurut Salma dia tidak bisa datang karena sedang berada di Jogja untuk menghadiri acara wisuda anaknya. Anak Ariyuni adalah anak tiri Datuk, tapi biaya pendidikannya ditanggung oleh Datuk. Sebenarnya Datuk akan pergi ke Jogja bersama Aryuni, bahkan tiket sudah dipesan, tapi Datuk malah jatuh sakit. Akhirnya Aryuni berangkat sendiri ke Jogja menghadiri wisuda anaknya.
Cukup lama aku berbincang-bincang dengan Salma sampai akhirnya dia berpamitan untuk pulang ke desanya yang berada di sebelah desaku. Walau Datuk belum dinyatakan sembuh benar dia mempercakan Datuk padaku.
”Sekarang giliran kamu untuk jaga suami kita,” katanya dengan senyum mengembang.
Aku benar-benar kagum dengan kebesaran hati wanita itu. Dalam posisinya sebagai istri pertama saat ini, dia tidak mau egois untuk memberikan segenap kasih sayang dan perhatian pada suaminya. Dia masih sempat berbagi dan bisa memberikan senyuman setulus itu. Jika aku berada di posisinya belum tentu aku bisa bersikap semanis itu.
Hatiku terenyuh mengingat curahan hatinya beberapa saat lalu.
”Kakak senang melihat kamu berada di sisi Datuk karena dia benar-benar membutuhkan kamu Nur,” katanya dengan nada serius.
”Ah, Datuk membutuhkan kita semua untuk memberinya dukungan kak,” bantahku merasa tidak enak seakan memonopoli keadaan.
”Datuk benar-benar mencintai kamu Nur, kakak bisa melihat dari sorot matanya.”
Kalimatnya terhenti dan matanya menerawang ke langit-langit rumah sakit.
”Waktu itu Datuk datang ke pada kakak dan menceritakan tentang keinginannya untuk punya istri lagi. Saya sangat kecewa saat itu tapi sudah mulai terbiasa karena sebelumnya Datuk pernah mengemukakan keinginan yang sama. Tapi entah mengapa, saat saya mendengar Datuk ingin menikahi kamu saya merasa sangat cemburu. Saya cemburu karena saya tau Datuk benar-benar mencintai kamu. Tidak seperti saya atau Aryuni yang dinikahi Datuk karena kasihan. Walau Datuk tidak bilang tapi saya bisa rasakan kalau kamu adalah orang yang benar-benar dia cintai. Dan saya senang Datuk akhirnya menikahi wanita yang benar-benar dicintainya. Dia pantas mendapatkan itu karena dia sudah begitu baik. Saya minta kamu jangan pernah mengecewakan beliau Nur,” cerita Salma saat itu.
Aku sangat terharu mendengar penjelasan Salma. Walau aku tidak suka berada di posisi ku saat ini tapi aku berada diantara orang-orang yang berhati mulia dan memiliki keiklasan yang sangat luar biasa.
Aku tidak mengerti apa itu cinta, tapi apa yang dilakukan Salma adalah bukti cintanya pada Datuk dan apa yang Datuk lakukan untukku itu juga sebagai bukti cintanya pada ku. Dan mengapa aku tidak melakukan apa-apa untuk orang yang aku cintai? Aku malah sibuk memprotes keadaanku sehingga hatiku pun kabur melihat bahwa aku telah berada di ditengah-tengah orang yang dipenuhi rasa cinta.
Perlahan ku buka pintu kamar tempat Datuk dirawat. Ku lihat raut wajah tenangnya yang tengah asik mengotak-atik laptopnya. Jantungku seketika berdebar-berdebar melihat keelokan yang ada pada dirinya. Begitu terpukaunya aku sampai aku tidak sadar ada orang yang juga memperhatikanku dengan jarak yang lebih dekat.
”Lho kok malah mengintip, kayak orang lain aja Nur,” goda dr Yudha yang tidak ku sadari kehadirannya.
Aku jadi salah tingkah dibuatnya, untung saja tiba-tiba Aida muncul dan langsung memelukku. Datuk menyambut kedatangan Yudha dan Aida dengan senyum ramahnya.
”Lusa abang udah boleh pulang,” kata Yudha yang kami sambut dengan senyum bahagia.
”Alhamdulillah,” syukur Datuk.
”Aida, apa kamu sudah menikah?” tanya Datuk pada Aida ditengah-tengah obrolan kami.
Dengan senyum malu Aida menggeleng.
”Tunggu apa lagi Yud, kamu sudah cukup umur untuk menikah. Tidak perlu mencari jauh-jauh, yang dekat kan ada,” ujar Datuk.
Ku lihat Yudha dan Aida jadi salah tingkah begitu mengerti apa maksud pembicaraan Datuk. Aku hanya berdoa dalam hati semoga mereka memang berjodoh. Amiin...
***