Sabtu, 26 Maret 2011

bukan siti nurbaya capture 18


BUNGA DALAM VAS

 “Da, kayaknya aku jatuh cinta.”
“Apa…?? Jatuh cinta? Sama siapa? Jangan main-main Nur, kamu udah punya suami,” cerocos Aida.
“Mang kamu pikir aku jatuh cinta sama siapa?”
“Mana aku tau, kamu belum kasi tau.”
“Makanya tanya donk sama siapa.”
“Sama siapa Siti Nuraini?”
“Sama Datuk.”
“Ya elah Nur, nikahnya udah lama kamu baru jatu cinta sama dia sekarang?”
Aku tertawa melihat ekspresi Aida. Aida adalah orang pertama yang tau tentang perasaanku ini. Aku sudah menunggu kesempatan ini untuk memberi tau Aida. Untungnya Aida bisa meluangkan waktunya untuk bertemu deganku di Taplau.
Setelah beberapa hari mengenali perasaanku, akhirnya aku yakin bahwa aku telah jatuh cinta. Walaupun dia adalah suamiku tapi aku tetap merasa malu punya perasaan seperti ini. Aku pernah jatuh cinta pada dr Yudha, tapi rasanya tidak seaneh sekarang. Kali ini benar-benar sulit di lukiskan.
Mungkin seperti cinta ombak yang berlari dengan cepat untuk mengatakan aku cinta padamu wahai pantai. Atau seperti cinta musim semi di Jepang yang tidak sabar mengatakan aku rindu padamu bunga sakura. Atau mungkin juga seperti cinta siang yang tidak sabar mengatakan aku membutuhkan mu matahari. Rasa ini benar-benar aneh dan aku tidak mengerti perumpamaannya.
“Kamu udah kasih tau Datuk?” tanya Aida kemudian.
Aku menggeleng.
“Emang harus dikasi tau ya Da? Caranya gimana?” tanyaku.
Aida menarik napas panjang dan menghirup air kelapa mudanya.
“Ya bilang I love you, atau aku sayang kamu suamiku, aku cinta padamu,” ujar Aida sambil menirukan gaya seorang pangeran mengungkapkan cinta pada seorang putri.
“Aaahh, norak Da,” kataku.
“Habis gimana donk?” tanya Aida lagi.
“Aku nanya kamu malah nanya balik,” keluhku.
Aku dan Aida terdiam sesaat. Ngungkapin cinta saja kok repot. Apa lagi pada suami sendiri, seharusnya kan lebih mudah dan tidak perlu takut karena itu sunnah. Jika suami atau istri mengetahui pasangannya mencintai dirinya, akan menimbulkan rasa bahagia. Dan membahagiakan pasangan wajib hukumnya. Itulah salah satu nikmatnya pernikahan, halal untuk bilang cinta.
“Aha, aku ada ide Nur, menurut yang pernah aku dengar katakana cinta dengan bunga.”
“Itu kan cowok Da.”
“Nggak ada aturannya kok cewek nggak boleh ngasih cowok bunga. Tapi caranya beda donk,” jelas Aida.
Aku berfikir sejenak.
“Kok jadi kayak ABG gini ya Da, ngomongin cinta-cintaan di tepi pantai,” ujarku.
“Emang masih ABG kan? Asosiasi Baju Gamis,” ujar Aida.
Kalau sudah tidak ada ide aku Aida memang suka asal, tapi itu yang membuatnya makin menyenangkan. Dia selalu punya lelucon untuk mengembalikan suasana.
Cukup lama aku dan Aida mengobrol di warung tenda Taplau itu. Sekarang Taplau menjadi tempat yang cukup nyaman untuk duduk santai menikmati pemandangan laut. Mungkin ini adalah hikmah dari abrasi dan isu tsunami. Dulu banyak berdiri warung esek-esek tempat muda-mudi pacaran. Entah apa yang mereka lakukan dalam ruangan yang hanya berukuran 1.5 x 1 m itu.
Tapi sekarang semuanya sudah dimusnahkan sehingga karunia Allah yang sangat indah ini tidak tercemar dengan perbuatan oknum yang mengundang lidah untuk memakinya. Sekarang para jilbaber pun banyak yang berwisata ke Taplau ini. Tapi pada saat-saat tertentu daerah ini juga menjadi tempat anak muda meluapkan jiwa mudanya dengan hura-hura. Jalan yang mulus di sepanjang Taplau sering dijadikan arena balap liar oleh para anak muda. Polisipun tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan mereka.
Itulah sekilas wajah kota Padang yang juga dijuluki kota tercinta ini. Kota yang dikelilingi oleh Laut dan menawarkan pemandangan yang sangat indah. Dan kota ini adalah kebanggaan orang awak karena banyak kaum intelektual dilahirkan oleh universitas-universitas yang cukup berkualitas. Tidak hanya orang-orang yang berasal dari Sumatera Barat tapi juga dari luar propinsi atau pulau. Meski tidak sepopuler UI, UGM, ITB atau Unpad.
***
Minggu pagi usai merapikan kamar, aku menikmati suasana di halaman belakang. Tidak disangka bunga-bunga yang ada di taman itu sedang bermekaran, indah sekali.
“Katakan cinta dengan bunga,” saran Aida melintas dibenakku.
Ku dekati bunga mawar beraneka warna yang ada di pot dekat teras. Sayang sekali kalau bunga itu harus dipetik dan kemudian layu. Tapi akan lebih baik lagi jika dia layu setelah memberi kesegaran bagi orang lain meski tidak menikmatinya langsung di taman. Ku petik beberapa tangkai bunga mawar itu dan menaruhnya dalam vas. Setelah mengisi vas itu dengan air aku menaruhnya di atas meja ruang kerja Datuk. Beliau sedang lari pagi jadi aku bisa dengan leluasa masuk ke ruang kerjanya dan menaruh vas bunga itu.
Ku edarkan pandanganku menyisiri setiap sisi ruangan itu. Di atas sofa yang ada di tengah ruangan bantal dan selimut yang masih berantakan belum dirapikan. Aku mengambil inisiatif untuk merapikannya. Setelah semuanya rapi aku langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Pagi ini aku ingin sekali membuat nasi goreng untuk sarapan Datuk. Kata teman-teman di kontrakanku dulu, nasi goreng bikinanku enak. Dan semoga saja Datuk juga berpendapat begitu. Bu Zaedar ikut membantu mempersiapkan semua bahan-bahannya. Kira-kira 20 menit lagi Datuk sudah sampai di rumah untuk sarapan. Dan aku ingin sebelum dia datang nasi gorengnya sudah terhidang.
Sesuai perkiraan, 20 menit kmudian Datuk datang dan langsung menyantap nasi goreng bikinanku.
“Mmm… Kok rasanya beda dengan biasanya Dar?” tanya Datuk pada Bu Zaedar.
“Itu yang masak ibu dokter pak,” ujar Bu Zaedar.
Datuk langsug menoleh ke arahku.
“Enak,” komentarnya singkat.
Aku senang sekali karena Datuk memakan nasi goreng itu dengan lahap. Apakah Datuk bisa merasakan cinta dalam setiap butir nasi goreng itu. Mudah-mudahan saja. Usai sarapan dan baca Koran sebentar Datuk menuju ke ruang kerjanya.
Jantungku jadi berdebar-debar, sebentar lagi dia akan melihat bunga yang aku tarok di meja kerjanya. Aku benar-benar tidak tenang dibuatnya, bagaimana kalau dia tidak menyukainya.
Dugaanku bahwa Datuk tidak menyukai bunga dalam vas makin kuat karena sepanjang kebersamaan kami hari itu Datuk sama sekali tidak menyinggung masalah bunga dalam vas itu. Hatiku mulai resah, mungkinkah Datuk tidak memiliki perasaan yang sama padaku? Walau kami sudah menikah, dia belum pernah bilang kalau dia mencintaiku.
Sepertinya saran Aida salah kali ini. Aku benar-benar malu karena merasa apa yang ku lakukan itu norak dan sia-sia. Ternyata tidak mudah mengungkapkan rasa cinta pada seseorang yang kita cintai. Aidaaaaaaaa……
“Assalamualaikum Nur,” sapa Aida di seberang sana.
“Waalaikum salam, ada apa Da?”
“Nur, aku lagi pusing ni.”
“Kenapa?”
“Dokter Rahman mau ke Jerman jadi dia udah nggak bisa lagi membimbing ku, gimana ni?” jelas Aida panik.
“Kamu udah coba hubungi dosen yang bisa menggantikan?”
“Udah, tapi pada sibuk semua, aku jadi stress.”
“Tenang Da, pasti ada yang bisa gantiin,” hiburku.
Aku berfikir sejenak sampai sebuah nama muncul dibenakku.
“Gimana kalau dokter Yudha?”
“Ah jangan Nur, meninggal ntar pasienku karena aku nggak konsen,” ujar Aida.
“Jangan berlebihan gitu donk Da, kedepankan profesionalisme aja,” nasihatku.
“Tapi aku nggak tau harus bilang apa sama dia,”ujar Aida.
“Kalau kamu nggak keberatan biar aku yang ngomong sama dia, gimana?” saranku.
“Iya deh, thanks ya Nur. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Pembicaraan yang sangat singkat. Pada hal tadinya aku ingin menelpon Aida untuk curhat, tapi sepertinya Aida sedang bingung saat ini dan dia lebih membutuhkan pertolonganku.
Aku berniat menelpon dokter Yudha saat itu juga, tapi rasanya tidak etis menelpon malam-malam begini. Aku takut mengganggu, akhirnya ku putuskan untuk membicarakan hal itu dengan dokter Yudha besok. Pastinya aku baru bisa menemuinya besok sore karena besok pagi aku harus balik ke desa nelayan dan bekerja sampai siang. Mudah-mudahan besok aku masih sempat menemuinya.
Keesokan hari usai shalat Subuh aku membantu Bu Zaedar mempersiapkan sarapan. Pagi ini Bu Zaedar masak bubur kacang hijau dan itu adalah salah satu sarapan kesukaan Datuk. Bubur kacang hijau itu tidak dicampur santan tapi hanya air dan diberi gula, pandan, garam dan jahe. Datuk sangat menjaga makanan yang hendak dikonsumsinya. Beliau lebih menyukai kuah bening dari pada kuah santan. Meskipun orang minang sangat menyukai makanan bersantan tapi Datuk tidak terlalu menyukainya. Santan bisa meningkatkan kolesterol dalam darah dan tentunya ini bisa meningkatkan resiko kena penyakit jantung. Wajar saja  Datuk terlihat kekar dan tidak gemuk seperti bapak-bapak pada umumnya.
Usai sarapan Datuk mengantarku ke desa nelayan. Di perjalanan kami tidak terlalu banyak bicara. Pada hal aku ingin sekali ada sebuah kalimat yang dilontarkannya mengenai bunga dalam vas itu. Tapi tidak terlihat sedikitpun perubahan dalam sikapnya. Beliau malah asik mendengarkan berita dari saluran radio.
“Senin depan para siswa SMU akan melaksanakan Ujian Akhir Nasional. Kecemasan mulai mendera siswa karena nilai kelulusan untuk tingkat SMU pada tahun ini naik menjadi 4,5. tidak sedikit orang tua siswa yang memprotes tingginya nilai kelulusan yang harus di capai oleh anak mereka.”
 Beberapa tahun belakangan ini untuk lulus sekolah dan melanjutkan pendidikan tingkat yang lebih tinggi memang cukup susah karena adanya target nilai yang harus di capai oleh seorang siswa untuk lulus dari sekolahnya. Para siswa harus berusaha lebih keras agar lulus. Di satu sisi tentu kebijakan yang sudah diterapkan beberapa tahun belakangan ini sanga positif karena siswa akan lebih bersungguh-sungguh saat ujian. Tapi sayangnya kualitas seorang siswa tidak bisa dilihat dari itu karena tidak sedikit siswa yang semasa sekolahnya memiliki prestasi yang bagus malah tidak lulus saat UAN.
“Aisyah juga akan ujian Nur?” tanya Datuk.
“Iya,” anggukku.
Tidak disangka adikku tercinta sebentar lagi akan lulus SMU dan jadi mahasiswa. Ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat. Baru saja kemarin aku yang lulus SMU, sekarang Aisyah pun sudah mau tamat. Dan tidak terasa juga aku sudah berada di kampung nelayan selama lebih dari 6 bulan. Waktu terasa sangat cepat berlalu.
“Aisyah mau kuliah dimana Nur?” tanya Datuk lagi.
“Kemarin dia bilang ingin kuliah di pulau Jawa, tapi Nur agak khawatir kalau dia kuliah jauh-jauh. Jadi nggak ada yang jaga ibu,” jelasku.
“Ibu kan bisa tinggal dengan kita, biar Ibu ditemani oleh Zaedar,” jawab Datuk.
Aku menoleh kearah Datuk, ku lihat dia tidak main-main mengatakan hal itu. Aku lega mendengarnya. Berarti Datuk mau menerima keluargaku tinggal bersama kami. Mudah-mudahan saja ibu bersedia.
Usai mengantarku Datuk langsung pergi. Aku pun menjalankan tugasku di puskesmas. Sesekali masalah bunga itu masih muncul di pikiranku. Kalau tau begini mungkin lebih baik aku tidak melakukannya kemarin.
Hari ini pasienku cukup banyak, sebagian besar dari mereka mengidap demam dan flu. Mungkin hal ini dipengaruhi karena cuaca yang tidak menentu dan sulit diprediksi. Begitu semua pekerjaanku di Puskesmas selesai, aku dan Ara berjalan bersama menuju rumah dinas. Siang itu cukup panas karena itu aku dan Ara mengambil langkah seribu agar cepat sampai di rumah. Rencananya usai shalat Zuhur aku akan menelpon dokter Yudha untuk memastikan keberadaannya dan membicarakan soal Aida.
Baru saja aku melipat mukena seusai shalat terdengar Ara memanggilku dari depan. Ku pasang jilbabku dan segera menuju ke ruang depan.
“Uni, ada yang nyari,” ujar Ara sambil menunjuk kepada laki-laki muda dengan pakaian bermotif bunga di depan pintu.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Anda dokter Nur Aini?”
“Iya.”
“Saya ke sini mengantarkan paket,” ujarnya sambil melambaikan tangan ke arah sebuah mobil pick up yang ada di halaman rumah dinas itu. 2 orang lainnya segera datang dengan membawa buket bunga. Mereka berdua bolak balik mengantarkan bunga dan memasukkannya ke dalam rumah setelah meminta persetujuanku. Kalau dihitung-hitung ada 20 buket bunga dari berbagai macam jenis yang kini tersusun rapi di ruang tamu yang kecil.
Setelah selesai, mereka pamit meinggalkan aku dan Ara yang bengong melihat rumah kami dipenuhi dengan bunga segar.
“Dari siapa semua ini uni?” tanya Ara.
Aku menggeleng karena bingung juga siapa yang memberikan bunga sebanyak ini. Aku berjalan mendekati bunga-bunga itu dan mengambil kartu yang terselip di buket bunga paling besar, mawar merah.
Terimakasih sudah memberi keindahan dan keharuman dalam kehidupan saya…
Erick
Aku terpaku melihat semua bunga-bunga itu yang ternyata dari Datuk. Aku hanya meletakkan 5 kuntum mawar dalam vas di meja kerjanya, tapi dia malah mengirimkanku 20 buket bunga. Aku benar-benar tidak tau harus berkata apa. Hanya air mata haru yang mengalir di pipiku. “Aku mencintaimu suamiku” bisikku lirih dalam hati.
Keberadaan banyak bunga di rumah dinas itu tidak membuatku lupa untuk menelpon dr Yudha dan janjian untuk bertemu. Kami sepakat untuk bertemu di RS M Jamil jam 2.00 siang ini. Walau matahari sangat terik Alhamdulillah aku bisa membuang semua rasa malasku untuk keluar rumah.
Begitu sampai di rumah sakit aku langsung menuju ruangan dr Yudha. Ternyata dia sudah menunggu di sana dan langsung mempersilahkan aku masuk dan duduk
”Ada apa Nur?” tanyanya membuka pembicaraan.
”Begini dokter, Aida teman saya butuh seorang pembimbing untuk menyelesaikan koasnya. Dokter Rahman yang biasa membimbing dia akan berangkat ke luar negeri jadi dia tidak ada pembimbing lagi. Jadi maukah dokter Yudha menggantikan dokter Rahman membimbing Aida?” tanyaku penuh harap.
”Kenapa dia tidak bicara langsung pada saya?” tanya dr Yudha kemudian.
Ah benar juga mengapa harus aku? Kenapa aku tidak berfikir kalau dr Yudha akan mempertanya masalah itu.
”Itu karena dokter juga pernah membimbing saya dan saya rasa bimbingan dokter juga akan sangat membantu Aida,” jawabku mencari alasan.
”Kenapa kamu yang bilang itu ke saya bukannya Aida?” tanyanya lagi.
”Nanti Aida akan bicara langsung pada dokter kalau dokter bersedia. Sekarang dia sedang di Padang Panjang dan dia minta pertolongan saya.” jawabku memberi alasan.
Dokter Yudha diam sesaat.
”Nanti akan saya kabari,” ujarnya singkat.
Karena merasa urusan ku sudah selesai aku berpamitan.
Sebelum aku menarik daun pintu aku kembali berbalik menghadap dr Yudha.
”Dokter, Aida adalah sahabat saya yang paling baik di dunia ini, saya harap dokter melihat dan sdikit membuka hati,” kataku lalu berlalu meninggal dr Yudha.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar