Hey, pernahkah kau terjaga dipagi buta dan dibenakmu langsung terlintas pertanyaan “apakah yang akan memisahkanku dengan kekasih ku yang mencintai ku melebihi apapun di dunia ini?”
Saat kau sadar betapa dia sangat memujamu dan mengagungkanmu, kau mulai merasa berada diatas angin dan di sudut bibirmu tersungging senyum keangkuhan.
Kau makin larut mengikuti ego dan nafsumu tanpa merasa bersalah sedikitpun padanya.
Kau terlena melakukan dosa yang satu dan diikuti dengan dosa-dosa selanjutnya.
Kau membalas kasih sayangnya yang sehangat mentari pagi dan selembut salju dengan penghianatan-penghianatan yang selalu dimaafkannya.
Percayalah, kau tidak akan pernah merasa dia begitu berarti sebelum kau benar-benar kehilangannya dan tak ada jalan kembali padanya.
Percayalah, maut adalah perpisahan yang lebih mudah kau terima dari pada kau melihatnya tapi kau tak dapat lagi menyentuhnya.
***
Seperti biasa Ganda menjemputku pulang kuliah. Tidak banyak hal yang kami bicarakan. Ganda adalah cowok yang tidak pernah punya bahan obrolan. Jika kami bersama pasti hanya aku yang banyak bercerita dan apabila aku sedang malas bercerita kami hanya diam.
Dua tahun kami menjalani hubungan ini. Aku mulai merasa bosan, dia adalah orang yang tidak pernah membuatku tertawa, atau membuat hari-hari spesialku terasa berbeda atau kebahagiaanku menjadi sempurna.
Jenuh!! Itulah perasaan yang mulai tumbuh subur sehingga hubungan kami menjadi aneh. Aku hanya mau bertemu dia saat berangkat dan pulang kampus. Selebihnya aku lebih senang bersama teman-teman atau menghabiskan waktuku sendiri.
Suatu hari, aku bertemu dengan seorang cowok bernama Radit. Fisikly dia tidak lebih baik dari pada Ganda, tapi selebihnya dia menarik bagiku. Dia memiliki cara yang unik untuk mengajakku berkenalan. Entah mengapa aku langsung memberinya no handphone walaupun baru pertama kali bertemu. Aku belum pernah seramah ini pada cowok asing. Tapi kali ini benar-benar beda.
Sejak itu aku sering berhubungan dengan Radit walau hanya lewat telpon. Aku bisa mengobrol lama-lama dengannya. Hal yang hampir tidak pernah ku lakukan dengan Ganda. Radit punya sejuta bahan obrolan. Dia bisa membuatku tertawa dan tidak berhenti tertawa dengan kelucuan-kelucuan yang dibuatnya. Saat bersamanya aku merasa waktu begitu cepat berlalu. Radit bisa membuatku merasa begitu spesial.
Aku begitu leluasa bertemu dengan Radit tanpa takut ketahuan Ganda. Aku sangat tau bahwa Ganda tidak akan pernah bertanya aku dimana atau sedang apa. Jika aku sedang tidak ingin bertemu dengannya aku cukup menjawab ”tidak“ dan dia tidak akan memaksa.
Hampir 2 minggu ini aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Radit.
’’Kalau kamu jalan sama aku, pacar kamu marah gak Hen?“ tanya Radit saat kami sedang makan.
”Gak kali,” jawabku cuek.
”Kamu tuh cewek aneh, nggak peduli sama pacar sendiri,” komentarnya.
”Biarin akh, aku bosan,” jawabku singkat.
”Kok gitu sih?”
”Kalau kamu mau ngomongin dia aku pulang aja,” ancamku.
”Nggak Henny, aku cuma nanya,” jawabnya sambil memegang tanganku.
Yah, begitulah. Semakin hari aku semakin larut dengan Radit. Aku mulai jatuh cinta padanya. Dia adalah sosok cowok yang aku suka dan idamkan. Dia membuat hari-hariku lebih berwarna, aku tidak peduli hal lainnya selain dia. Hingga akhirnya suatu hari Radit menyatakan cinta padaku. Tanpa pikir panjang aku menerima cintanya.
***
”Gan, kita putus aja ya?” pintaku pada Ganda.
Dia terdiam dan sepertinya dia juga kaget dengan apa yang baru saja ku katakan. Dia menatapku lama sehingga membuatku sedikit merasa bersalah.
Lama dia terdiam hingga akhirnya angkat bicara.
”Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?” tanyanya datar.
Aku tau kali ini dia berusaha keras menyembunyikan perasaannya. Tapi aku sudah terlanjur memutuskan dan tidak mungkin membatalkannya. Aku rasa aku tidak akan begitu terpengaruh dengan kesedihannya karena aku sudah punya Radit.
Selang beberapa menit Ganda pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku yakin dia baik-baik saja karena Ganda bukan orang yang mudah terpancing emosi. Hidupnya begitu datar, kadang aku merasa dia adalah manusia tanpa emosi. Tapi jujur, aku sedikit merasa bersalah karena meninggalkan dia demi Radit. Tapi sudahlah, aku merasa pantas mendapatkan kebahagiaan yang selama ini tidak ku dapat darinya.
***
Dua bulan telah berlalu, hubunganku dengan Radit rasanya makin baik. Dia begitu memanjakanku. Berkali-kali dia memberikan kejutan yang tak ku duga. Aku benar-benar bahagia bersamanya. Sementara Ganda tidak pernah ku dengar kabarnya. Dia menghilang entah kemana. Pernah ku bertanya pada temannya, tapi mereka tidak ada yang tau. Dan aku tidak mencari tau lebih lanjut tentang dia karena sudah ada Radit yang lebih baik darinya.
Suatu hari Radit pamit padaku karena dia ada pekerjaan di luar kota.
”Kamu harus selalu kasi kabar ya,” pintaku.
”iya sayang’” jawabnya sambil mengecup lembut keningku.
Tapi ternyata setelah 2 hari Radit sama sekali tidak memberi kabar. Berkali-kali aku menelponnya tapi nomornya tidak aktif. Hingga suatu pagi yang suram akhirnya seseorang menjawab telponku.
”Halo,” sapa seseorang diseberang sana.
”Halo, maaf Raditnya ada?” jawabku sedikit gugup karena yang mengangkat telpon adalah seorang wanita.
”Radit lagi mandi,” jawab suara diseberang sana.
”Oh, ini siapa ya?” tanyaku lagi.
“Aku tunangannya Radit!”
Aku tersedak dan rasanya hampir muntah. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan ku dengar.
“Kamu pacarnya Radit ya?” tanya suara di seberang sana datar.
“Bu..bukan,” jawabku gugup.
“Udah ngaku aja, aku nggak kaget kok kalau kamu memang pacarnya Radit soalnya kamu bukan satu-satunya pacar Radit. Sepagi ini aja udah ada tiga cewek yang nelpon dia,” jelasnya yang membuatku hampir pingsan mendengarnya.
“tapi aku bukan pacarnya,” jawabku berusaha menghindar.
“Baguslah, berarti kamu cukup pintar untuk tidak termakan kata-kata Radit. Tiga tahun aku bersama dia, udah nggak kehitung berapa kali dia punya pacar lagi dibelangku,” terang suara itu lagi.
Aku sudah tidak mau mendengar kata-kata perempuan itu. Semuanya sudah cukup menyakitkan.
Berkali-kali aku menelpon ulang berharap Radit mengangkat telponku dan menjelaskan semuanya. Aku butuh penjelasan langsung darinya, tapi dia tidak pernah menjawab telponku. Hingga seminggu berlalu dia baru menghubungiku.
”Tolong jelaskan, apa benar perempuan yang mengangkat telponku kemarin adalah tunangan kamu?” tanyaku penuh emosi.
”Iya, dia tunanganku,” jawabnya datar.
”Dan aku...” dadaku benar-benar sesak sehingga aku tidak bisa berkata-kata lagi.
”Hen, kamu harus tau kalau aku tidak bahagia sama dia, aku lebih mencintai kamu,” ujarnya.
Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan menutup telponnya lalu menangis sesungutan. Aku benar-benar tidak sanggup menahan rasa sesal yang datang bertubi-tubi. Aku hampir muntah mengingat semua kata-kata manis dan kenangan-kenangan dengan Radit. Ternyata semuanya palsu, dan dia sudah berhasil menipuku.
Tiba-tiba aku teringat sosok Ganda. Rasa bersalah mengerumuni hatiku, kurang lebih aku sudah melakukan hal yang sama padanya. Dan apa yang ku alami saat ini adalah karma atas apa yang ku lakukan pada Ganda. Rasanya ingin menunduk di depannya dan meminta maaf dengan sepenuh hati.
Akhirnya aku sadar bahwa dialah orang yang tidak pernah membuatku sedih, dialah yang tidak pernah berbohong, dialah yang benar-benar mencintaiku dan selalu ada saat aku membutuhkannya.
Dia tidak pernah membuat hari spesialku terasa istimewa tapi dialah yang membuatku selalu istimewa dengan selalu ada untukku. Dia tidak pernah menghibur saat ku sedih tapi dialah yang selalu menyelesaikan masalahku dan mengusap airmataku. Dialah yang selalu mendengarku dan tidak pernah berhenti mendengar semua caci makiku saat aku sedang kesal pada siapa dan apapun. Dia tidak pernah menghindariku, dia tidak pernah meninggalkanku. Aku benar-benar telah menjadi orang jahat meninggalkan Ganda untuk Radit.
***
Satu tahun telah berlalu, hingga suatu sore yang basah di penghujung tahun. Sebuah suara lembut memanggil riang namaku. Suara yang sudah lama tak ku dengar.
Ku palingkan wajah ke arah datangnya suara itu, Ganda.
”Hey apa kabar?” tanyanya dengan senyum mengembang.
Dia terlihat berbeda dengan yang ku lihat terakir kali. Dia terlihat lebih bahagia dan wajahnya berseri-seri, jauh lebih baik dari apa yang ku kira.
“Hey, kabar baik,“ jawabku berusaha bersikap wajar, rasanya ingin menghambur ke pelukannya seperti yang selalu ku lakukan jika ingin menangis.
’’kamu terlihat kurus,“ ujarnya lagi.
Aku hanya membalas dengan senyum tipis.
“Kamu kemana aja?” tanyaku.
“Hhhmmm, went somewhere to find my self,” jawabnya dengan senyum tipis.
“Have you find it?”
“Yup,” angguknya.
“Tapi aku punya hutang masa lalu yang harusnya aku katakana dari dulu. Maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang karena dulu aku tidak punya kesempatan mengatakan ini,…” perkataan Ganda terhenti karena ada seorang wanita yang datang tanpa kami sadari dan tiba-tiba menggandengnya dengan mesra. Wanita yang cantik dengan rambut panjang dan terlihat pintar.
“Hun, aku udah selesai ayo pulang,” ujar wanita itu.
Ganda yang juga kaget langsung memperkenalkan wanita itu padaku.
”Hen, kenalkan ini Yolanda.”
Yolanda langsung mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Setelah itu mereka langsung berlalu. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari mereka, entah apa yang mereka bicarakan tapi aku lihat Ganda begitu bahagia bersama Yolanda.
Tiba-tiba hatiku terasa sangat sakit dan aku tersandar dengan air mata yang mengalir deras. Dengan mata basah ku baca pesan singkat di handphone ku, “Aku masih punya hutang masa lalu yang belum sempat ku katakan. Henny, kamu adalah cinta pertamaku dan maaf karena aku tidak tau bagaimana cara membuat kamu bahagia. Kamu punya tempat yang khusus di hati ini walaupun masa-masa itu tidak akan terulang lagi. Maaf.. #Ganda#”
Ternya cinta bukanlah soal dia bisa mengajakmu makan malam romantis atau memberimu bucket mawar beraneka warna atau membuaimu dengan kata-kata pujian yang membuatmu terbang ke awang-awang.
Semua orang mencintai dengan caranya sendiri. Mungkin begitulah cara Ganda mencintaiku. Cinta yang tidak banyak bicara, hanya mendengar, diam dan semuanya terselesaikan.
***
Pekanbaru, 13 Desember 2011
Alone in my room
12 November
Rasanya seperti mimpi melihat dia yang telah lama pergi tiba-tiba berada di hadapanku dan menjabat tanganku dengan erat. Tidak jauh berbeda dengan dia yang ku lihat pertama kali 3 tahun yang lalu. Rambutnya masih gondrong, kulitnya masih sawo matang dan wajahnya masih tetap menentramkan hati. Sammy, dia telah kembali.
2 Desember
Pertemuan kedua setelah lama tak berjumpa. Malu rasanya memaksa seseorag yang tidak begitu mengenalku untuk datang sekedar mium jus di sebuah warung tenda. Apa lagi menggunakan sahabatnya sendiri sebagai perantara untuk menghubungkan ku dengannya.
Dia datang, dengan senyum tipis yang sudah terekam dalam memoriku sejak 3 tahun yang lalu. Senyum itu mengingatku pada saat pertama kali melihatnya. Dia satu-satunya orang yang sama sekali tidak mempedulikankan kehadiranku. Sikap dingin yang membuatku bukannya merasa benci tapi penasaran. Hanya padanya aku tidak menemukan cara bersikap wajar agar kehadiranku tidak mengalihkan tatapan mata elangnya.
Tadi, dia hanya berada beberapa jengkal di hadapanku. Aku hanya menikmati wajahnya dengan sudut mataku yang tidak bisa menyembunyikan binar bahagia itu. Aku benar-benar menikmatinya.
15 Desember
Karena sebuah pekerjaan, aku mengunjungi kantornya. Ku temukan dia sedang duduk santai di ruang dokumentasi yang dipenuhi oleh file-file. Seperti biasa, aku mengusik semua orang yang ada di sana dan ku cuba beranikan diri untuk mengusiknya juga. Aku menarik ikat rambutya sehingga rambut gondrong nya terurai.
Dia hanya tersenyum, hhhmmm masih dengan senyuman yang itu. Ya Tuhan bisakah aku bersamanya atau memilikinya untuk beberapa saat? Doa yang aneh, doa yang selama 3 tahun ini tidak pernah ku panjatkan karena itu terasa sia-sia. Tapi entah mengapa detik itu terucap begitu saja.
1 Januari
sebuah sms dengan isi yang sangat singkat tertera di hp ku, hanya kata "hai". Tapi kata itu membuat hatiku melambung hingga langit ke tujuh. Aku gak bisa gambarkan perasaanku, yang jelas sabtu ini aku akan ”berkencan” dengannya...horrrrraaaaaayyyyyy....
5 Januari
Pertemuan yang singkat tapi sangat berkesan. Oh my lovely long hair man, tau gak sih kalau kamu itu sweet banget. Tau nggak sih kalau jantungku mau copot saat kamu menatap ku. Tau nggak sih kalau aku terkesima melihat senyummu. Gak mau tau bagaimana caranya, suatu hari kamu harus tau (^_^)
10 Januari
Suaramu seperti pedang tajam yang menebas hatiku. Membuatnya terluka parah dan hampir mati.
Aku benar-benar tak kuasa menahan deburan ombak kekecewaan saat kau menceritakan tentang seortang wanita yang kau cintai dan membuatmu kembali kesini. Ternyata kau kembali untuk seseorang. Sungguh pengorbanan yang sangat besar walaupun akhirnya dia meninggalkanmu. Tapi aku bisa melihat jelas dimatamu bahwa kau begitu mencintainya. Dan entah mengapa hatiku sakit karena itu.
20 Januari
Taukah kau lelaki gondrongku, bahwa sebenarnya aku tidak suka mendengar ceritamu tentang wanita itu. Aku tidak suka melihat raut sedih di wajahmu. Ku mohon menangislah di depanku dan akan ku seka air matamu agar kau tau bahwa kau juga dicintai.
23 Januari
Baru saja kau kembali, tapi sudah harus pergi lagi. Walau tak setiap hari bisa melihatmu, aku merasa sangat senang kau disini. Walau jauh aku yakin selalu mendengar detak jantungmu. Dan mungkin itu tak kan lagi ku dengar jika kau tak disini. Tapi aku tidak punya daya apa-apa untuk menahanmu.
1 Februari
Seharusnya malam ini aku menggoreskan tinta ini dengan senyuman suka ria karena akhirnya kami ”jadian”. Tapi malah sebaliknya, aku menulis dengan linangan air mata karena itu hanyalah pura-pura. Aku berharap ini nyata tapi mungkin inilah cinta, harus dimulai dengan cara apapun semoga kelak dia menjadi milikku seutuhnya. Tuhan, Engkau tau aku begitu mencintainya. Jika aku bisa memilikinya dengan cara seperti ini maka kuatkan aku menjalaninya.
Aku tak kuasa melanjutkan membalik lembaran diary coklat tua itu. Aku tidak sanggup mengetahui isi hati gadis yang selalu tersenyum untukku itu. Alangkah jahatnya aku yang telah mempermainkan gadis lugu yang mencintaiku dengan cara yang tidak ku mengerti.
Setelah kepergianku meninggalkan Maya, kami masih sering berkomunikasi lewat telpon. Tak jarang ia terbangun di tengah malam karena aku ingin mengobrol dengannya tentang Rara, wanita yang ku cinta setengah mati. Dia dengan sabar mendengarkankan semua keluh kesahku. Hanya padanya ku tumpahkan semua, hanya padanya ku luapkan isi hatiku.
Hingga suatu hari aku meminta bantuannya untuk berpura-pura menjadi pacarku agar Rara merasa cemburu. Tadinya aku merasa ide itu sangat gila tapi dia malah setuju. Dia melakukan perannya dengan sangat baik hingga membuat Rara merasa cemburu.
Suatu hari Rara datang padaku dan memohon agar aku meninggalkan Maya. Saat itu dia berkata bahwa ia menyesal telah meninggalkanku. Pada akhirnya dia sadar aku melakukan semua ini untunya, termasuk menyeret Maya ke dalam kisah cinta yang ku anggap palsu.
Dua hari yang lalu, aku kembali ke kota ini untuk menyampaikan kabar gembira. Berkat dia aku dan Rara akan menikah bulan depan.
Tapi, semua sudah terlambat. Aku menemukan Maya terbujur kaku dengan berbagai macam alat kedokteran terpasang di tubuhnya.
Penyumbatan darah ke otak membuatnya koma sejak seminggu yang lalu. Pantas dia tidak pernah lagi mengangkat telponku atau membalas sms ku. Dan itulah yang menjadi alasan mengapa aku datang untuk menyampaikan langsung padanya kabar gembira ini.
Secercah harapan muncul dihatiku saaat melihat matanya terbuka. Ia menatapku dan air mata mengalir di sudut matanya yang sayu. Tidak sepatahkatapun terucap hingga mata itu kembali tertutup untuk selamanya.
***
Tembilahan, 8 Juni 2011
Sore yang cerah di pertengahan November. Yah, disinilah aku, di kota ini, di taman ini dan dibangku ini. Tidak banyak yang berubah dengan tempat ini. Hembusan angin sepoi yang begitu dingin menusuk sampai ke tulang membuai dan memaksaku untuk menutup mata merasakan energinya mengalir hingga ke rongga dada. Tidak terasa sudah hampir lima tahun aku meningggalkan kota ini dan karena alasan pekerjaan aku kembali ke kota tempatku pernah menimba ilmu ini.
Ku buka notebook yang sedari tadi hanya tergelatak disampingku. Begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan apa lagi besok adalah meeting penting dengan salah satu kliant terbesar perusahaan adverticing tempatku bekerja. Dan di sini adalah tempat yag tepat untuk mencari inspirasi.
Saking seriusnya aku sampai tidak sadar seorang anak kecil yang berumur lebih kurang tiga tahun tengah memperhatikan ku dengan serius. Ku angkat kacamataku yang melorot sembari menyapanya dengan hangat.
“Hai sayang, dimana mamanya? Kamu tersesat?” tanyaku sambil mencolek dagunya.
Dengan tersipu-sipu dia menggeleng dan menunjuk susu kotak yang ada disebelah ku. Aku mengerti pasti dia menginginkan susu itu. Salahku menyukai susu yang biasa diminum oleh anak kecil, padahal dulu aku sama sekali tidak suka minum susu.
”Pasya...” panggil suara seorang pria dari arah sampingku. Dengan cepat anak itu menoleh kea arah datangnya suara dan berlari menuju pemilik suara itu.
Dan alangkah kagetnya saat aku mengenali pemilik suara itu. Mataku tak berkedip menatap sosok jangkung yang terlihat sedikit agak gemuk dari pada saat terakir aku melihatnya 5 tahun yang lalu.
”Gaza...” bisikku tertahan.
Sementara dia juga tidak kalah kaget melihatku tiba-tiba ada dikota ini setelah pergi tanpa pamit padanya sebulan sebelum pernikahan kami digelar.
Dengan langkah tertahan kami berjalan saling mendekat. Tidak tau harus bersalaman atau berpelukan. Kami hanya saling memandang mencoba membaca isyarat apa yang terpancar untuk dilakukan selanjutnya. Hingga akhirnya Gaza menyodorkan tangannya. Dengan sedikit kikuk ku sambut jabatan tangannya namun mataku tidak bisa lepas dari wajahnya.
“Anak yang imut,“ kataku mencoba bersikap sewajar mungkin.
“Iya,“ jawabnya singkat sembari tersenyum tipis.
Senyuman itu selalu menghias wajahnya yang terlihat angkuh. Dan itu tidak pernah berubah sejak ku mengenalnya pertama kali. Kadar senyuman itu masih sama.
“Ada apa kemari?“ tanyanya setelah kami sama-sama terdiam beberapa saat.
”Oh kebetulan ada kerjaan,” jawabku dengan sedikit tawa kecil.
”Nginap dimana?”
”Di hotel itu,” jawabku sambil menunjuk ke hotel yang tidak jauh dari taman ini.
”Oh baiklah, senang bertemu lagi,” katanya datar lalu menggendong anak kecil yang tadi ku berikan susu kotak.
”Masih minum susu ini rupanya?” katanya lagi sambil mengedipkan mata lalu beranjak pergi meninggalkanku yang mematung di taman itu. Ada kebencian ku lihat di mata itu.
Gaza, adalah cowok selalu yang menemaniku sejak awal kuliah hingga bekerja selama dua tahun di kota ini. Dia adalah sahabat terbaikku pada awalnya hingga akhirnya kami saling jatuh cinta dan sepakat untuk pacaran.
Hubungan kami sangat baik, bahkan teman-teman menobatkan kami sebagai pasangan paling serasi saat itu. Walau terkesan angkuh dan arogan, dia adalah sosok pria yang baik hati dan tidak terlalu banyak omong namun dingin. Awalnya aku sangat menyukai sikapnya itu. Karena pada dasarnya aku tidak suka pria yang banyak omong dan menggurui.
Di depan Gaza aku bebas menjadi apa saja. Dia pintar dan tau banyak hal. Dia adalah kamus besar dan remainder yang paling tepat waktu. Kebersamaan kami sangat sempurna sehingga tidak terasa kami telah berhubungan lebih dari 5 tahun.
Orangtuaku mulai mempertanyakan keseriusan kami, apalagi kami sudah sama-sama bekerja dan memasuki usia yang cukup untuk menikah. Dengan semangat kami mempersiapkan segala sesuatu untuk menyongsong pernikahan yang sudah ditentukan harinya.
Namur saat rencana itu sudah terealisasi hampir 75%, perasaanku tiba-tiba berubah 180 derjat. Aku mulai menyadari betapa hambarnya hubungan kami. Memang dia selalu ada saat aku membutuhkannya dan setia mendampingiku dalam kondisi apapun tapi aku tidak bisa pungkiri itu hanya membuatku bahagia pada 2 tahun pertama. Setelah itu hubungan kami datar dan hámbar seperti teman biasa.
Ada atau tidak ada dirinya bagiku sama saja. Dia tidak lagi menjadi orang yang selalu ku tunggu kehadirannya. Bahkan moment-moment pentingku tidak pernah ku rayakan dengannya. Dia tidak pernah melakukan hal yang romantis. Saat bersamanya tidak ada kebahagiaan yang terasa spesial dan kesedihan tetap menjadi kesedihan.
Begitu dahsyatnya keraguan yang muncul hingga suatu hari aku menulis surat singkat dan meninggalkan kota ini untuk selamanya. Aku tidak sanggup mengatakan ini langsung padanya. Aku tidak akan sanggup melihat dia sedih. Tapi aku mencoba realistis untuk tidak memaksakan diri mengakhiri hubungan ini di pelaminan. Lebih baik meningalkannya sekarang dari pada setelah menikah nanti.
Dan kini ku rasa dia sudah menemukan penggantiku dan memiliki seorang anak laki-laki yang imut.
***
Pagi ini dengan semangat aku dan seorang rekanku memasuki ruang meeting perusahaan besar di kota ini yang memakai jasa kami untuk mempromosikan produk mereka. Aku duduk dengan tenang dan sedikit berbasa-basi dengan anggota meeting dari perusahaan itu.
Namun suasana hatiku tiba-tiba berubah saat melihat Gaza memasuki ruang meeting itu. Salah seorang diantara mereka memperkenalkan Gaza sebagai Head Promotion di sini. Dengan gayanya yang khas Gaza memberi seulas senyum yang terlihat sesuai dengan wajahnya yang angkuh. Dia memperlihatkan sikap seolah-olah tidak pernah mengenalku.
“Hai senang bertemu dengan anda dan saya harap anda bisa memberikan presentasi yang bagus,“ katanya dengan nada menantang.
Sekuat tenaga aku mencoba bersikap wajar dan mempresentasikan hasil rancangan iklan yang sudah dengan susah payah ku buat. Aku merasa semua orang yang ada diruangan ini terpukau oleh presentasiku hingga aku tersentak saat mendengar pertanyaan singkat dari Gaza.
“Apa anda akan melaksanakan pekerjaan ini sampai selesai? Karena menurut pengalaman saya, orang seperti anda tidak pernah menyelesaikan sesuatu yang sudah anda mulai.”
Kalimat itu sangat tajam dan langsung menusuk hulu hatiku. Gaza, sepertinya dia sangat membenciku.
”Saya selalu profesional dalam melakukan pekerjaan saya,” jawabku mempertahankan diri.
”Baiklah saya rasa cukup,” katanya seraya menghela napas dan menatapku dengan tajam.
Tanpa sepatah katapun dia meninggalkan ruangan meeting itu dan tidak menoleh sedikitpun ke arahku.
Aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku. Entah apa yang membuat airmataku mengalir deras dikamar ini. Apakah penyesasalan karena telah meninggalkan Gaza atau karena perlakuan Gaza yang begitu menyakitkan. Dulu dia tidak seperti itu padaku. Dia tidak pernah menatapku dengan sorot mata setajam itu tapi kini……
Aku menangis sesungutan sampai suara bell pintu berbunyi berkali-kali. Setelah meghapus airmatku dengan cepat ku buka pintu itu dan sureprise saat aku melihat sosok yang berdiri disana. Tampangnya kusut dan pakaiannya sedikit berantakan.
Tanpa permisi Gaza masuk ke kamar itu dan menarikku dengan kasar hingga terduduk di sudut tempat tidur. Dia berdiri dengan gelisah sambil sesekali mengepalkan tangan.
”Setelah lima tahun kenapa kamu harus muncul lagi disini?” tanyanya dengan suara serak menahan amarah.
Airmataku kembali menetes dengan derasnya.
“Maafin aku, aku sudah nyakitin kamu,” jawabku terbata-bata.
“Maaf itu nggak cukup membayar semuanya!”
Dengan tajam dia menatapku yang terdunduk sambil menangis sesungutan. Selang beberapa detik kemudian dengan langkah cepat dia meninggalkanku sendiri di kamar ini.
Setelah meninggalkan Gaza 5 yahun lalu banyak hal buruk yang terjadi padaku. Keluarga yang sangat marah hingga mama terkena serangan jantung. Beberapa kali aku mencoba menjalin hubungan dengan pria lain tapi tidak pernah berhasil. Aku menganggap itu adalah karma namun ku coba menanggung itu semua sebagai resiko dari jalan hidup yang ku pilih.
***
Sebulan sudah berlalu sejak pertemuan terakhir dengan Gaza. Seperti biasa aku menjalankan hari-hariku dengan penuh semangat dan ide-ide brilliant. Walau sesekali penyesalan menghantui aku menepisnya dengan senyum lebar untuk memotivasi diriku sendiri.
Sore yang mendung di awal Desember. Satu-satu titik hujan sudah jatuh membasahi bumi. Saat aku hendak berlari menuju parkiran sebuah tangan menarikku dengan kuat dan membuatku berlari mengikutinya.
”Gaza...” aku kaget melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
Di membuka pintu sebuah mobil dan menjalankan mobil itu menyusuri jalanan kota.
”Kok kamuada disini?” tanyaku heran.
”Untuk sebuah tujuan,” jawabnya datar sambil terus menyetir.
”Kita mau kemana?”
”Ke tempat yang seharusnya.”
Karena tidak menemukan jawaban yang jelas aku hanya diam sambil sesekali menoleh ke arahnya. Tidak seperti kemarin, hari ini Gaza seperti beberapa tahun yang lalu saat kami masih bersama. Tidak sepatah katapun terucap dari bibirnya hingga mobil itu parkir di Kantor Urusan Agama.
Dengan cepat dia turun dan membukakan pintu mobil untukku.
”Ngapain kita kesini?” tanyaku mencoba menahan langkahnya.
”Sekali ini percayalah padaku,” katanya. Hujan yang tadinya gerimis telah berubah menjadi hujan deras.
Begitu memasuki kantor KUA orang tuaku dan orang tua Gaza berada disana ditemani oleh 2 orang abang ku dan seorang wanita yang mengendong anak kecil yang disampingnya berdiri abang kandung Gaza. Ternyata anak itu adalah anak dari Bang Randy, sodara laki-laki Gaza satu-satunya.
”Tunggu, tolong jelaskan, sebenarnya ada apa ini,” bentakku karena aku merasa ini semua sangat tidak wajar.
Gaza yang dari tadi tidak mengatakan apa-apa akhirnya angkat bicara.
”Seharusnya kita di sini 5 tahun yang lalu sampai kamu pergi entah kemana. Begitu jauh tempat ini hingga kita baru sampai sekarang. Raya, jangan suruh aku mengulang semuanya dari awal karena Pak penghulu ini mau pulang ke rumahnya. Dia mengijinkan kita menikah hari ini dengan catatan kita akan datang ke Bimbingan Pernikahan mulai besok. Jadi please jangan mengecewakan Bapak penghulu ini,” kata Gaza panjang lebar.
Aku terdiam seribu bahasa, tidak ada yang bisa ku katakan sementara hatiku berteriak-teriak menjawab iya. Seketika itu aku merasa bahwa tidak pernah berpisah dengannya.
”Pak Penghulu tunggu apa lagi, ayo nikahkan kami,” kataku dengan penuh semangat.
Ribuan rintik hujan turut menjadi saksi pernikahan kami. Air mata haru keluarga menyadarkanku bahwa takdir tidak bisa ditipu atau dihindari. Sejauh apapun aku pergi jika dia sudah ditakdirkan maka akan berjumpa lagi.
***
Sesaat kau hadir disini
Ditempat yang ku pikir cukup jauh untuk ku pergi
Hari ini kau hadir dengan semua keelokanmu
Masih menatapku dengan tatapan yang sama
Menyentuhku dengan kehangatan yang sama
Menertawakanku dengan suara yang sama
Membuatku terhanyut dengan cara yang sama
Rasanya aku tidak pernah pergi dan kau juga
Rasanya semua sama seperti saat kita memiliki rasa yang disebut cinta
Hey ternyata kau memang masih sama dengan dulu
Mimpimu masih jauh dengan mimpiku
Haluanmu jauh bertolak belakang dengan haluanku
Walau kita bersama diwaktu yang berbeda tapi rasanya masih sama,
dan aku masih merasa kau bukan untukku..
Wahai engkau yang selalu tersenyum, kau mengajariku untuk hanya menerima. Katamu banyak hal dalam hidup ini tidak sesuai dengan apa yg kita inginkan. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah menerima.
Wahai engkau yang selalu menyapa dengan hangat, kau menyadarkan ku betapa diriku begitu sempurna dan bahagia. Tak ada yg perlu ku tangisi dan sesali karena aku sudah cukup dengan apa adanya diriku.
Wahai engkau yang selalu memandang dengan mata berbinar. Kau mengajarkanku betapa indahnya hidup ini. Bisa ku lihat itu terpancar dari matamu yg seteduh senja.
Ijinkan aku memberitahumu banyak hal. Tau kah kau sudah banyak mencuri waktu tidurku?? Heh...
Dalam waktu singkat kau mengajariku hal-hal berharga, memberi inspirasi, semangat dan kesenangan. Walau kadang aku merasa bosan mendengar celotehanmu tapi entah sejak kapan kau menjadi sesuatu yang selalu ku tunggu.
Hingga akhirnya ku sadar bahwa semua ini hanya sepenggal kisah tak berujung yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Namun, saat aku harus berhenti melihatmu, tidak ada kalimat sempurna yang bisa menjelaskan betapa aku ingin kau tetap bersamaku. Aku hanya berhenti melihat tp tidak memikirkanmu..
Rasanya sudah lama aku tidak melakukan ini.
Meluapkan sesak jiwa setetes demi setetes walaupun tidak akan sebanding dengan genangan prahara.
Ingin rasanya meneriakkan gemuruh jiwa pada unsur bumi yang tuli walaupun itu tidak akan membendung kehancuran rasa.
Tidak usah mendengarku karena aku tidak ingin siapapun mendengar.
Tidak usah melihatku karena aku tidak ingin dilihat.
Buta dan tulilah saja kalian karena aku akan menghilang.
Menghilang seperti aku datang dan tidak pernah menjadi bagian ini.
Dan saat aku melihat bayanganku sendiri, ia berkata:
"Ini adalah sepi yang dihadiahkan waktu yang tidak pernah bertanya apakah kau mampu
Atau mungkin permainan nasip yang selalu berjalan walau kau ingin berhenti sejenak"
Kali ini saja tolong izinkan aku berkata bahwa aku tidak mampu!!!
Aku adalah bagian dari dirimu yang sering kau abaikan
Dan kadang aku kehilangan suara untuk memanggilmu
Mau tau bagaimana aku bisa bicara padamu saat ini ?...
Aku selalu ada disetiap permainan hati yang kau lakukan
Karena hanya saat itu jiwamu menjadi sarang yang nyaman untukku
Taukah kau ?...
Aku senang saat kau kalah
Aku senang saat kau menumpahkan air mata
Aku senang saat hatimu teriris
Aku menikmati setiap penderitaanmu
Karena hanya saat itulah kau menoleh padaku
Kau milikku seutuhnya saat kau tertunduk bisu disitu
Sekarang tariklah dirimu dari hingar-bingar itu dan ikut bersamaku
Hanya aku yang paling setia di setiap jalan yang kau pilih
Ayo bergegaslah...
Hey rasa...
Ku sambut salammu
Terimakasih sudah hadir
Sungguh hebat dirimu
Ku fikir aku sangat ingin berguru dan mengabdi padamu
Tapi aku tau, tempatmu terlalu kecil untukku mengayunkan tangan dan kaki
Dan ku rasa kau juga tidak memerlukan pengikut sepertiku
Terimakasih kau menarik mata dan hatiku untuk menoleh ketempatmu berada
Menundukkan wajahku dan memalingkanku dari cahaya yang membutakan itu
Aku akan duduk bersamamu sejenak
Tapi esok aku akan melupakanmu lagi
Dan sebelum aku pergi
Aku akan menoleh ke arahmu dengan senyum tipis disudut bibirku...
Tembilahan, 27 Mei 2011
So sad when I know something about you
But I think I need this feeling…
Sabtu, 07 Mei 2011
Yang Salah Hanya Awalnya
Mauris sedikit heran melihat mobil tantenya terparkir di halaman rumah. Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam rumah, mengingat hubungan tante dan mamanya tidak begitu baik. Dan benar saja, saat ia memasuki rumah terdengar suara ribut dari ruangan keluarga.
Setelah mendengar beberapa saat Mauris mengerti apa yang diributkan oleh tante dan mamanya. Yeah apalagi yang diributkan saudara kalau bukan harta warisan.
“maaf, mama dan tante buat apa sih ribut-ribut masalah yang nggak penting gini,” Mauris berusaha menengahi.
“heh anak ingusan, jangan ikut cambur kamu masalah orang tua!” bentak tantenya. Mauris hapal watak tantenya, kasar dan sombong. Dia punya pengalaman buruk dengan tantenya itu. Waktu kecil Mauris sering dimarahi dan diplototi oleh tantenya tanpa ada alasan yang jelas.
“tante sekarang dirumah ku dan jangan bikin ribut donk,” Mauris melawan karena tidak bisa menahan emosi.
“dasar anak haram, gak sopan kamu sama orang tua!” bentak tantenya lagi.
“heh kamu nggak pernah ya ngajarin anak harammu itu sopan santun!” bentaknya lagi mengarah ke mama Mauris.
Mauris terperanjat mendengar kata-kata yang dilontarkan tantenya barusan. Dia disebut ”anak haram” dan itu sungguh sangat mengejutkan.
”apa maksud tante?” tanya Mauris dengan suara menahan tangis dan kaget.
“kamu tanya sama mama kamu itu!” ujar tantenya lalu pergi meninggalkan Mauris dan mamanya yang sama-sama terdiam dengan seribu kata yang tertahan.
Dengan langkah berat Mauris mendekati mamanya yang duduk dengan kepala tertunduk di sofa ruang keluarga itu.
“tolong jelaskan ma,” pinta Mauris jantung berdebar.
“Ris, maafin mama,” ujarnya seraya menangis.
”jelaskan!”
”memang benar mama mengandung kamu sebelum menikah dengan papa. Mama nggak sengaja, mama khilaf,” terang mamanya singkat dan penuh penyesalan.
Untuk sesaat Mauris merasa dadanya sangat sesak dan ia merasa berada diwah kaki takdir yang menginjaknya sampai rata dengan tanah.
”semua . . . ”
”cukup ma, aku nggak mau dengar lagi!“ bentak Mauris lalu pergi meninggalkan rumah tanpa menghiraukan panggilan mamanya.
Selama ini ia merasa bahwa mamanya adalah manusia paling suci dan hebat di muka bumi ini. Walau hubungan mama dan papa tidak berjalan lancar tapi mama adalah mama terbaik di dunia. Mama yang mengajarkannya untuk menjaga diri. Mama yang mengajarkan keperawanan itu adalah harga diri.
Sementara papa sibuk dengan urusannya sendiri. Dia lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah, bahkan Mauris tidak pernah merasa belaian kasih sayang dari papanya. Mereka sering bertengkar karena hal-hal sepele seperti mama telat menghidangkan makan malam atau lauk yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Mauris hanya bisa menutup kupingnya rapat-rapat setiap kali mereka bertengkar. Keributan itu akan semakin gaduh saat Vina, adiknya, menangis karena tidak tahan mendengar bentakan-bentakan yang terlontar dari mulut mereka.
Mauris sering bertanya dalam hati mengapa keluarganya tidak bisa bahagia seperti keluarga teman-temannya. Ia dibesarkan dalam keluarga yang cacat tanpa tau penyebab cacatnya apa. Bahkan pernah ia menyarankan pada mama untuk menceraikan papanya. Tapi hingga saat ini tidak ada yang mau bercerai.
Sekarang pertanyaannya terjawab sudah. Selama ini mama tidak pernah mau bercerita tentang bagaimana ia bertemu dengan papa, karena ingin menutupi bahwa aku ini adalah anak diluar nikah. Ia menyadari mengapa keluarganya tidak pernah bahagia, itu semua karena dimulai dengan langkah yang salah.
Mauris memacu sepeda motornya tanpa tujuan yang pasti. Di tempat yang sepi ia lalu menumpahkan tangisnya yang sudah ditahannya dari tadi. Hari ini benar-benar berat baginya. Kenyataan ini sungguh berat baginya.
Berhari-hari ia murung dan mengunci diri di kamar. Hanya keluar untuk pergi kuliah dan baru pulang hampir tengah malam saat semua orang sudah tidur. Jika tanpa sengaja ia bertemu pandanga dengan mama, ia langsung membuang muka dan bergegas masuk ke kamarnya.
Dikampuspun Mauris yang biasa ceria tiba-tiba menjadi pendiam. Kadang saat semuanya sudah tertawa ngakak dia hanya menyunggingkan senyum tipis karena tidak begitu mengikuti obrolan teman-temannya.
“Loe napa sih Ris murung aja beberapa hari ini?” tanya Yudha, salah seorang sahabatnya.
Mauris menghela napas panjang sambil menggeleng.
”Kalau memang nggak ada masalah jangan diem donk, anak-anak kan pada bingung kalau loe diem gini,” bujuk Yudha.
”Yud, loe ngeliat gw beda nggak dari temen-temen yang lain?” tanya Mauris.
”Loe nggak ngeliat bintik hitam dijidat, pipi, hidung atau dimana aja yang membuat orang-orang tau asal-muasal gw?” tanyanya lagi.
”Maksudnya apa sih Ris? Yg gw liat muka loe tuh kaya toilet lalat buang hajat,” jawab Yudha berusaha membuat lelucon.
”Ternyata gw anak haram Yud,” ujar Mauris lalu tertunduk dalam
Yudha segera menghentikan tawanya dan menatap Mauris dengan pandangan iba. Ia berusaha mencari kata-kata untuk menghibur sahabatnya itu.
“Ris, bukan cuma loe di dunia ini yang terlahir dengan cara seperti itu. Banyak, malah lebih tragis karena mereka sama sekali gak tau terlahir dari rahim siapa. Yang salah cuma awal tapi selanjutnya sama aja. Loe jangan ngejudge orang tua loe hina karena loe gak tau betapa berat hidup yang mereka jalani dulu menanggung cemoohan orang sekitar mereka. Cukup itu mereka alami dulu, jangan loe lakuin lagi sekarang,” ujar Yudha.
“Tapi . . .”
“ssssttt….” Yudha menaruh jarinya di bibir Mauris
“begitulah cara takdir membawa loe ke dunia ini dan menjadikan loe sahabat gw yang paling gw sayang,” ujar Yudha sambil memeluknya erat.
“sekarang loe samperin mama loe sana, kemaren dia nelpon gw nanyain loe,” suruh Yudha sembari melepaskan pelukannya.
Tapi belum sempat ia melagkah, handphonenya berbunyi dan terdengar suara diseberang sana menyampaikan berita yang membuat dunianya berhenti berputar.
Mauris memacu langkahnya menuju ruang ICU. Mamanya terbaring lemah bersimbah darah karena baru saja menjadi korban tabrak lari. Dokte berusaha keras membantu tapi keadaannya sangat kritis. Mauris tak kuasa menahan tangis saat berada disamping mamanya tak bergerak.
”mama bangun,” pintanya sesungutan.
Dua hari mamanya koma karena mengalami pendarahan otak. Akhirnya sore itu jemari mama menggapai kepala Mauris yang tengah tertidur di samping tempat tidur perawatan.
”mama . . . ” panggil mauris berlinang air mata.
Air mata mengalir dari sudut mata mamanya. Ia memandang Mauris tanpa berkedip dan seulas senyuman tersungging di bibirnya yang tertutup alat bantu pernapasan. Beberapa detik kemudian genggaman tangannya perlahan melemah dan terus melemah sampai tangan itu tak ada tenaga lagi.
Sebuah tamparan hebat ku rasakan saat melihat dia pergi. Mataku tak kuasa melihat walau semuanya tampak samar dibalik butir-butir air mata yang mengalir deras. Aku seperti sebuah titik yang secepat putaran waktu menghilang ditelan layar putih yang kosong. dan saat aku membuka mata semuanya terasa begitu sepi dan tiada siapapun disini.
Seandainya aku boleh meminta pada Tuhan, aku ingin hari itu tidak pernah ada. Hari dimana aku memutuskan untuk pindah ke kota kecil ini dan hari dimana aku kembali membiarkan diriku terhanyut dalam sebuah perasaan yang dinamakan cinta.
Sore yang basah, seperti sore-sore sebelumnya. Sore yang selalu membuatku merasa bahagia kala melihat titik-titik bening itu jatuh ke permukaan air dan membuat lingkaran yang makin lama makin membesar.
Kali ini semua menjadi sangat luar biasa. titik-titik bening itu menjelma menjadi malaikat tanpa sayap dengan tatapan hangat dari sepasang matanya yang indah. Dan dia tengah memamerkan keelokan rupanya di hadapanku saat ini.
”ada yang bisa saya bantu mas?” tanya ku pada customer yang terpaksa ku layani karena sebenarnya jam kerjaku sudah habis. Tapi seperti biasa teman-temanku terlalu usil untuk membiarkanku meninggalkan kursi eksekusi ini lebih cepat.
”ya, saya butuh informasi yang jelas tentang produk anda ini,” pintanya seraya memegang beberapa brosur produk terbaru dari perusahaan tempatku bekerja.
Dengan cepat aku menjelaskan tanpa bermaksud menawarkan produk itu. Aku berharap dia tidak berminat, karena jika dia mau aku akan bekerja ekstra sore ini. Tapi semuanya persis terjadi diluar keinginanku, ketertarikannya terhadap produk itu membuat kami terlibat dalam pembicaraan yang panjang dan sesekali menyangkut hal yang pribadi.
Sesekali ku tatap pemilik mata indah itu. Ada rasa damai saat ku melihat jauh ke dalam sana. Ada rasa kagum dan sedikit hayalan bodoh tentang sesuatu yang ku kira mustahil terjadi.
Oh pemilik alam semesta, betapa elok ciptaanmu yang Engkau kirimkan ke hadapanku saat ini.
”aku ingin menjadi miliknya,” bisik hatiku yang tak bisa ku paksa diam.
Entah bagaimana garis nasip meliuk-liuk hingga di sebuah malam yang syahdu aku duduk bersamanya di bawah atap malam. Walau hanya beberapa bintang yang menemani bulan yang enggan bersinar, tapi malam itu terasa sangat sempurna saat dia menggenggam tanganku dan memintaku untuk jadi miliknya.
Seluruh rasaku tumpah saat itu juga.
Rasanya aku kembali menjadi gadis remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Semua terasa begitu indah dan malam itu adalah malam yang sangat sempurna untuk mengatakan bahwa aku jatuh cinta dan aku adalah wanita yang paling bahagia saat ini.
Sekarang aku adalah pemilik mata indah itu. Rasanya ingin ku sulap dia menjadi sebuah miniatur agar bisa ku bawa ia kemapun aku pergi. Demikianlah cinta yang begitu gerlap gempita mempertontonkan keindahannya.
Semua hal biasa terasa begitu istimewa saat bersamanya. Tiada hari tanpa dirinya. Tiada kata tanpa menyebut namanya. Semua hanya dia, dia dan dia.
Hingga aku terlupa.
Senja tak selamanya jingga atau hujan tak selamanya hanya titik-titik kecil yang indah. Apalagi cinta yang kadarnya tak bisa diukur. Datang dan pergi tanpa mengenal kata permisi dan rambu-rambu. Semuanya terasa indah di awal tapi menyengsarakan di akhir.
Yang jika kehilangannya kau akan menyesalinya dari awal dan lupa memetik hikmah yang kau dapat saat bersamanya. Kenapa aku harus bertemu dia dan kemudian jatuh cinta jika hanya menorehkan luka???
Cinta berubah...
Cinta itu seperti es yang mencair lalu menjadi air dan menguap
Cinta itu tidak seperti asinnya air laut yang kadarnya tidak berubah
Dan cinta tak pernah seindah dongeng yang berakhir bahagía untuk selama-lamanya
kini si pemilik mata indah itu tak lagi ku dengar gelak tawanya. Tak lagi ku lihat keteduhan di wajahnya. Semua benar-benar sudah berubah.
“Aku sibuk dan ku harap kamu bisa ngerti,” ujarnya.
“Kenapa tiba-tiba sibuk? Dulu kamu punya banyak waktu buat aku,” protesku keras.
“terserah kamu mau bilang apa, yang jelas kondisiku sekarang memang begitu! Aku pusing karena gak cuma kerjaan aja yang ku pikirin tapi juga masalah keluarga. Dan aku harus cari solusi untuk semua masalah itu. Harus ada yang aku korbankan, dan aku ngorbanin kamu,” terangnya.
Lama aku mencari makna dari perkataannya ”mengorbankan”. Kenapa harus aku yang dikorbankan? Mengapa aku? Apakah ”dikorbankan” adalah posisi terhormat dalam sebuah kisah cinta? Apakah ”dikorbankan” adalah sebuah status yang harus membuatku bangga.
Mengapa dia tidak bersandar di pundakku jika dia sedang kehabisan akal? Atau mengapa dia tidak sedikitpun membagi laranya denganku? Bukankah bersama untuk saling berbagi dan melengkapi?
Setiap pagi aku terbangun dengan dirinya di benakku. Setiap yang ku lakukan ku berharap bisa memahami apa yang dia alami. Setiap malam aku mencoba tidur tanpa berfikir sedikitpun hal buruk tentang dirinya. Dan saat aku berangkat ke alam mimpi, ku harap bisa menemukan dia yang kemaren ku lihat dengan mata berbinar menatapku. Ku coba mencari rasa hangat yang ku rasa setiap dia menggenggam tanganku.
Tapi semakin lama rasa itu semakin kabur karena dia semakin jauh dari sisiku dan tak bisa selalu ku lihat. Aku bisa memaklumi ini saat aku berfikir dia butuh waktu untuk menyelesaikan semua urusannya. Aku bisa memahami saat aku membutuhkannya dia sedang berjuang disana untuk menata kehidupan masa depan buat kami berdua. Aku coba memahaminya walau prasangka buruk yang kerap muncul.
Aku berharap suatu sore dia hadir di hadapanku dengan senyum hangat di bibirnya dan binar di mata indahnya. Hanya itu harapan sederhana yang ku sematkan dalam hati setiap matahari mulai condong ke barat.
Entah berapa sore aku menunggu. Tapi menuju hatiku seperti jalan panjang yang tak berujung baginya. Lelah ku menunggu hingga akhirnya aku terluka oleh waktu. Kau pun berubah menjadi angan-angan buatku, hanya ada di hayalan tapi semakin pudar jika aku ingin mewujudkan.
Aku berharap dia berhenti sejenak dan duduk di hadapanku. Menatap ke dalam hatiku dan menyimak semua rasa yang timbul karena jarak yang tercipta diantara kami. Tapi itu tak kunjung terjadi hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakikhirinya.
Suatu malam yang suram. Teramat sangat galau hati ini hingga tak sepatah katapun terucap dengan pasti. Tapi ku tau dia bisa menangkap maksudku dengan jelas. Bahkan sangat jelas sehingga dia meninggalkanku tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Cerita yang singkat. Tapi begitulah cinta menorehkan sejarahnya. Tidak peduli berapa singkatnya ia terjalin tapi luka dan air mata yang tercipta sama saja dengan cinta yang telah berabad dijalani.
Jika kemarin aku jatuh cinta seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta, kini aku seperti seseorang tua renta yang kehilangan tongkat untuknya menopang diri. Tiada siapapun di sisi dan tiada apapun di hati. Sepi dan perlahan dia mati tanpa siapapun menangisi kepergiannya.
Dan kini akhirnya ku temukan arti dari kata ”dikorbankan” adalahTIDAK DIINGINKAN.
Apakah kau sedang lara karena cinta? Atau kegalauan dan rasa sepi menyelimuti hatimu?
Mampirlah sebentar wahai sahabat. Duduk manis dan bacalah tulisanku ini.
Aku sering mengalami hal itu, dan setiap kali aku ingin menangis aku memejamkan mata dan mengingat saat aku berbaring manja di samping nenekku. Dia selalu mengulik kupingku dengan lembut, menggosok punggungku atau membelai rambutku agar aku tidur.
”Sudah tidur?” tanyanya kalau aku tidak bersuara. Dia tidak akan berhenti melakukan itu semua jika aku jawab belum. Dan saat aku merasa sentuhannya mulai melemah, aku akan memanggilnya dan memintanya untuk bercerita.
Cerita tentang kasih, walau aku tidak tau persis apa maksudnya dan apa manfaatnya bagi hidupku kelak. Aku mendengar kisah kasih nenek sebelum aku mendengar dongeng tentang cinderella atau putri salju dan kisah cinta lainnya. Aku mendengar kisah cinta sejati sebelum aku menyadari ada hubungan yang begitu rumit antara laki-laki dan perempuan. Dan entah berapa kali nenek menceritakan kisah itu padaku tanpa pernah aku merasa bosan untuk mendengarnya.
Nenekku ádalah seorang janda dari seorang pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan RI. Entah bagaimana kabar si pejuang itu hingga 5 tahun ia tidak pernah kembali. Tidak ada kabar berita sehingga nenek pun menyadari bahwa dirinya sudah janda. Walau akhirnya ada kabar mengatakan bahwa telah ditemukan mayat seorang pria muda yang cirinya seperti suami nenek di sebuah penguburan massal.
Nenek hanya wanita biasa yang juga memiliki kecantikan yang dimiliki oleh semua wanita. Tapi dia adalah wanita kuat dan mandiri, dan itu yang membuatnya beda dari wanita cantik lainnya. Walau sudah janda tidak sedikit pria yang suka dan ingin menjadikannya istri. Mulai dari juragan tanah yang menyukai nenek karena kecantikannya. Tapi ia menolak karena menurutnya kecantikan hanya sementara dan jika nanti kecantikannya hilang, si juragan tanah pasti tidak akan menyukainya lagi. Nenek tidak percaya pada cinta.
Untuk menyambung hidup, nenek berjualan kue basah. Ia tidak malu menjajakan kue basah itu keliling kampung. Kemandiriannya membuat seorang pemuda yang tidak memiliki pekerjaan jatuh cinta. Ia mencintai nenekku karena nenek adalah seorang wanita yang gigih dan pintar mencari uang. Nenek juga menolak pria itu karena ia merasa akan diperbudak oleh laki-laki pemalas itu.
Banyak cinta yang datang padanya dengan berbagai alasan, Namun nenek tak tersentuh hatinya. Hingga suatu hari seorang pria yang lebih muda darinya datang melamarnya.
”kenapa kau ingin menikahiku sementara aku lebih tua darimu,” tanya nenek pada pria muda itu.
”karena saya kasihan sama kakak’” jawab pria itu tanpa ragu.
Saat itulah hati nenek luluh lantah dan menerima pria yang lebih muda darinya itu untuk menjadi suaminya. Pria itu tidak punya pekerjaan. Ia sebatang kara karena tidak punya saudara. Tidak punya harta apapun dari warisan keluarganya. Dialah yang menjadi kakekku. Kalau boleh jujur, kakek jauh dari pantas untuk nenek. Dia adalah sosok pria yang sempurna. Bahkan aku bisa melihat betapa gagahnya ia walau sudah tua.
Hidup mereka sulit. Kakek mengerjakan apa saja untuk menafkahi nenek. Kadang jadi buruh, kadang bantu-bantu di bengkel, pokoknya apa saja agar dia bisa memberi nenekku nafkah.
Suatu hari ia memberanikan diri untuk merantau ke Riau dan tanpa sengaja bertemu dengan seorang boss perusahaan Caltex. Saat itu mobil sang boss mogok dan kakekku membantunya. Untuk membalas budi, dia mengajak kakekku untuk bekerja di perusahaan minyak itu untuk menjadi teknisi kapal.
Hidup mereka mulai berubah. Dari tidak punya apa-apa hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Kisah cinta mereka tidak berjalan seperti kisah-kisah dongeng yang berakhir bahagia tanpa cela. Kakek pernah hampir menikah lagi dengan wanita lain. Namun nenek tetap sabar hingga kakek sadar dan kembali padanya. Sejak itulah mereka selalu bersama sampai ajal menjemput kakek lebih dulu.
Aku menyaksikan betapa kakek sangat mengasihi nenek. Aku tidak pernah melihat kakek membentak nenek. Kakek tidak pernah gengsi membersihkan rumah atau memasak untuk nenek.
Aku sangat menyayangi mereka berdua, bahkan aku tidur bersama mereka. Pernah suatu malam yang sunyi, aku tersentak dan mendengar mereka bercerita sambil tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan hingga malam itu sepertinya sangat menyenangkan. Dan seingatku tak lama setelah itu kakek pergi untuk selamanya.
”nanti kalau kamu sudah besar dan ingin menikah, carilah pria yang mengasihimu, jangan yang mencintaimu,” kalimat itu yang selalu dikatakan nenek di akhir ceritanya.
”kenapa?”
”karena cinta bisa hilang kapan saja, sedangakan kasih tidak akan pernah hilang. Orang yang mengasihimu tidak akan pernah tega menyakitimu,” jawab nenek.
Aku tidak pernah paham dengan apa yang disampaikan nenek. Dari semua cerita yang ku baca, tidak ada kisah yang menceritakan bahwa sepasang kekasih bersatu karena rasa kasihan, semuanya karena karena cinta dan hanya cinta. Bagaimana mungkin nenek bisa melawan realita yang terjadi di dunia ini dengan pernyataannya.
Aku tidak pernah lupa dengan cerita-cerita itu karena saat terakhir aku bicara dengan nenekpun dia masih mengatakan hal yang sama.
***
Seperti kebanyakan orang, aku sangat memuja cinta. Aku beralih dari cinta yang satu ke cinta yang lainnya. Mereka datang dan pergi begitu saja dan beberapa dintaranya meninggalkan duka dan luka. Kadang aku berfikir bahwa cinta itu menyakitkan. “Saat kau memutuskan untuk jatuh cinta, kau harus siap untuk terluka karena orang yang kau cinta berada di posisi yang tepat untuk menyakitimu”. Kalimat itu pernah ku baca dalam diary abangku.
Aku mengalami dan akhirnya aku memahami maksud dari pesan nenek.
Aku bertemu dengan seorang teman. Ia baru menikah dengan gadis yang sudah dipacarinya bertahun-tahun. Dia bercerita padaku bahwa dia tidak mencintai istrinya itu. Dia menikahinya karena kasihan. Kasihan karena umur gadis itu sudah tidak muda lagi, kasihan karena gadis itu selalu sabar saat dia berbuat salah. Dia menikah hanya karena kasihan. Dan baginya itu adalah alasan yang sangat buruk untuk menikah.
Mungkin alasan itu yang membuatnya berfikir punya hak untuk jatuh cinta lagi. Katanya ia belum pernah merasa benar-benar jatuh cinta dan menginginkan seorang perempaun seperti ia menginginkan gadis itu. Ia bertemu dengan gadis itu tidak lama sebelum ia menikah. Gadis itu juga membalas cintanya. Temanku itu menceritakan semua tentang calon istrinya pada gadis yang dicintainya, tapi tidak sebaliknya.
”kenapa tidak kamu ceritakan?” tanyaku heran.
”karena aku yakin dia tidak akan bisa menerimanya dan akan sangat sedih,” jawabnya.
”apakah gadis yang kamu cintai itu tidak sedih saat mengetahui kamu akan menikah?” tanyaku lagi.
”dia bisa mengerti,” jawabnya enteng.
Aku terdiam sejenak lalu airmataku mengalir sangat deras.
”kamu tau, istri kamu adalah cinta sejati mu yang akan bersama kamu sampai ujung usia nanti,” jawabku.
”kenapa?”
Aku menceritakan apa yang nenek katakan padaku. Untuk sesaat dia diam dan berusaha membantah. Tapi aku yakin dia akan memahaminya suatu saat, bahwa orang yang dinikahinya itu adalah kekasih yang sebenarnya.
Malam ini aku hampir terlelap saat ku rasakan sebuah tangan lembut seolah mengulik lembut kupingku dan ia berbisik, “kamu sudah mengerti?“
OMG!!!!
kegilaan apa yang tengah merasuki diri ku ini...
bagai mana mungkin aku bisa mengalami hal yang sangat tidak wajar seperti sekarang???
lebih TERTARIK PADA OM-OM KEREN dari pada cewok-cowok sepantaran...
jadi ingat artikel di sebuah blog yang memuat hasil penelitian bahwa cewek-cewek tuh lebih suka pada pria yang sudah menikah...
atau mungkin juga aku terpengaruh artikel yang mengatakan bahwa salah satu kekurangan pria yang disukai wanita adalah uban..
atau mungkin juga karena cowok-cowok yang "sewajarnya" aku taksir selalu mengecewakan???
nggak tau alasaan pastinya, yang jelas aku suka melihat om-om dengan uban yang mendominasi rambutnya. dengan perut yang sedikit buncit, suara merdu menggelegar dan penampilan yang bersih dan berwibawa, apalagi kalau kulitnya putih.. toet toetttt (^_^)
example nya Tio Pakusadewo... kwkwkwkwkwkw
Tawa canda anak-anak kampung nelayan adalah obat lain dari kegalauanku. Alangkah bahagianya menjadi anak-anak yang hidup tanpa beban, tanpa tanggungjawab dan hanya ada keceriaan. Dulupun aku merasakan kebahagiaan yang serupa bersama teman-temanku di kampung. Karena tidak ada laut atau sungai, aku anak-anak kampung lainnya berenang di kolam depan mesjid. Di sudut kolam itu ada WC umum yang didatangi oleh seluruh warga kampung karena tidak WC di rumah warga. Untunglah kolam itu banyak ikan sehingga tidak ada kotoran yang tersisa.
Setahun sekali ikan-ikan di kolam itu dipanen dan dijual pada warga kampung. Hasil penjualannya di gunakan untuk beli anak ikan baru dan selebihnya untuk pembangunan Mesjid. Ayah selalu ikut saat panen ikan. Ikan itu ditarok di dalam baskom kira-kira seminggu agar kotoran yang dimakan ikan keluar dari perutnya. Setelah itu baru giliranku dan ibu membakar atau menggoreng ikan-ikan itu. Sedangkan Aisyah kecil bermain dengan ayah. Keluarga sederhana yang bahagia.
Apakah saat ini Ayah sedang melihatku? Apakah beliau bersedih di sana? Mataku berkaca-kaca bila ingat ayah. Pastilah ayah melihat apa yang sedang ku alami saat ini. Semoga saja beliau tidak bersedih.
Saat akan memasuki halaman rumah dinasku, aku melihat sebuah Cherooki hitam parkir di sana. Dengan harap-harap cemas aku melangkah masuk ke rumah yang pintunya ternganga. Ku lihat Datuk sedng duduk di lantai yang beralas tikar di ruang depan.
Janungku berdebar kencang saat dia menoleh ke arahku. Pertanda baik atau burukkah kedatangan beliau ke sini? Dengan sedikit canggung aku duduk di hadapan beliau. Aku sama sekali tidak berani mengangkat wajahku untuk menatapnya.
”Kamu dari mana Nur?” tanya Datuk dengan suaranya yang khas.
”Nur dari pantai Pak,” jawabku agak terbata.
Keheningan kemudian tercipta diantara kami. Begitu banyak hal yang ingin ku tanyakan padanya tapi entah mengapa lidahku kelu sehingga aku tidak bisa berkaa apa-apa.
”Ehm... apa kabar kamu?” tanya Datuk lagi.
”Baik,” anggukku.
Suasana saat ini lebih kaku dari pada malam pertama kami.
”Nur, kita pulang ya,” kata Datuk membuatku kaget.
Mataku berkaca-kaca menatap wajahnya yang teduh.
”Maafkan Nur Pak?” kataku sambil menangis.
Aku menangis seperti anak-anak yang ketahuan berbuat salah oleh ayahnya. Aku meminta maaf dengan sepenuh hati. Dan seperti seorang ayah yang bijaksana Datuk memegang tanganku dan memelukku sangat erat.
Semua bebanku seakan lepas, aku bisa rasakan betapa hangat dan nyaman pelukannya. Hanya saat bersujud kepada Allah lah yang bisa mengalahkan ketenangan saat berada dalam pelukan Datuk.
”Saya yang seharusnya minta maaf Nur. Tidak seharusnya saya bersikap seperti itu sama kamu,” ujarnya.
”Tapi Pak, masalah dr Yudha....” tanyaku nada bersalah.
”Yudha sudah menjelaskan semua, dan yang paling penting dari itu semua saya mencintai kamu Nur,” ujar Datuk.
”Saya juga mencintai bapak,” ujarku dan kembali memeluknya.
***
Usai shalat isya berjamaah, aku mengganti pakaianku dengan pakaian tidur dan melepaskan jilbabku. Sementara Datuk masih duduk di atas sajadahnya dengan kepala tertunduk dalam. Aku menunggunya selesai berdoa di sofa yang ada di sudut kamar kami di rumah atas bukit.
Begitu ia selesai dan melipat sajadahnya ia lalu menoleh ke arahku. Aku jadi salah tingkah dan deg-degan ketika dia menghampiriku. Jantungku berdebar kencang saat dia mengecup keningku. Bibirnya yang merah terasa hangat menyentuh keningku. Kemudian dia memegang tanganku dan bersimpuh di hadapanku.
Aku sangat tidak enak diperlakukan seperti itu. Bagaimanapun tidak pantas seorang istri duduk lebih tinggi dari pada suaminya. Aku berniat untuk ikut duduk di lantai agar sejajar dengannya tapi dengan cepat ia menahanku.
”Nur, terimakasih karena kamu telah bersedia menjadi istri saya,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di pahaku. Dengan lembut ku belai kepalanya.
Air mata haru tiba-tiba mengalir di pipiku. Saat ini aku bisa merasakan benih cinta yang tumbuh pada dr Yudha hanya sebatas kekaguman, dan aku tidak punya asa untuk memilikinya.
Benih itu tidak pernah tumbuh dan berkembang dalam hatiku karena kemudian ia kering dan mati dan digantikan oleh ilalang. Ilalang yang tumbuh subur dan berayun gemulai mengikuti irama hati yang mulai mendendangkan lafaz cinta yang baru. Cinta untuk orang yang telah mengajarkan keiklasan padaku.
Perlahan aku duduk di hadapan Datuk dan menatapnya lekat dengan mata yang basah.
”Nur bahagia menikah dengan Bapak meskipun untuk merasakan kebahagiaan itu Nur harus melalui masa yang panjang. Nur tidak pernah merasa mencintai seseorang sebelum mencintai Bapak. Jika ada orang yang benar-benar Nur cintai itu adalah Bapak. Tidak ada orang lain yang Nur harapkan untuk memberikan kebahagian pada Nur selain Bapak,” kataku tulus.
Datuk menatap mataku lekat. Tangan Datuk yang kokoh kemudian menarikku ke dalam pelukannya yang hangat.
”Saya mencintai kamu Nur,” bisik Datuk.
Aku bahagia sekali mendengarnya. Kebahagiaan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Bahakan lebih membahagiakan dari pada saat namaku dipanggil sebagai lulusan terbaik.
Seluruh alam berbahagia malam itu menyaksikan kebahagiaanku dengan Datuk. Aku benar-benar merasakan cinta dan kasih sayang dalam setiap sentuhan dan kata-kata yang diucapkan Datuk. Ilalang dalam hatiku menari mengikuti arah angin cinta yang terucap mesra dari bibirnya. Malam ini sebagai seorang wanita aku merasa sangat sempurna dan bahagia.
Kehidupan baru ku jalani. Kehidupan berumah tangga yang harus serba berbagi tapi sangat damai. Aku menikmati silaturrahmi yang baik antara aku dengan istri Datuk lainnya, walau kadang ada rasa cemburu. Dan ternyata rasa cemburu itu sangat nikmat. Cemburu karena cinta. Seperti permen nano-nano yang punya semua rasa.
***
Cinta memberikan kekuatan yang luar biasa dalam hidupku. Aku jadi tambah bersemangat mengerjakan pekerjaanku. Tanpa terasa masa pengabdianku di desa nelayan hanya tinggal seminggu lagi.
Aku mendapat tawaran untuk praktek di Rumah Sakit M Jamil. Dan bagiku itu adalah tawaran yang sangat menarik, menjadi dokter di rumah sakit besar. Jika aku terima aku akan praktek di tempat yang sama dengan dosen-dosenku dulu termasuk Prof Ashaluddin dan dr Yudha.
Semangaku untuk mengabdi di desa nelayan makin menggebu di akhir-akhir masa pengabdianku. SK ku juga sudah keluar sehingga aku juga bisa membuka praktek sendiri sebagai dokter umum.
Frekuensi berkunjung ke rumah warga kampung nelayan makin ku tingkatkan dan bermain bersama anak-anak kampung menikmati matahari terbenam. Saat berkumpul anak-anak itu makin seru jika Datuk datang menjemputku karena sebelum pulang Datuk ikut bermain dengan mereka dan mengajak mereka membuat istana pasir dalam berbagai kreasi. Rona kebahagiaan terlukis jelas di wajah meraka. Datuk memang sangat pandai mengambil hati anak-anak itu.
Tapi diantara mereka yang sedang berbahagia aku menangkap wajah murung Rosa. Sejak aku memberitahunya tentang kepindahanku, dia jadi menjaga jarak denganku. Dia tidak seantusias biasanya saat melihatku. Jika aku membawakan sesuatu untuknya dia sama sekali tidak menyentuhnya.
”Rosa sedih banget karena bu dokter mau pindah. Dari kemaren dia nanya terus kapan ibu dokter mau pindah, kenapa harus pindah. Sepertinya Rosa tidak mau berpisah dengan bu dokter,” kata ni Ratna, ibunya Rosa.
Aku jadi sedih dibuatnya, sebenarnya aku juga berat berpisah dengan Rosa dan kehangaan kampung nelayan tapi masa tugasku sudah berakhir dan nanti akan datang pengganti yang mungkin akan lebih baik dariku. Dan tawaran untuk praktek di RS M Jamil adalah impianku sejak aku koas di sana. Dengan honor yang akan aku terima disana aku bisa melanjutkan studiku untuk mengambil spesialis jantung seperti cita-cita ku waktu ayah meninggal, tapi tentunya kalau Datuk memberi ijin.
Hati ku galau sekali dan aku tidak bisa menyembunyikannya.
”Sayang, kamu kenapa dari tadi diam aja?” tanya Datuk di perjalanan pulang.
Ternyata Datuk juga bisa membaca kegalauan hatiku saat ini.
”Kamu sedih ya akan meninggalkan kampung nelayan?” tanyanya.
Aku hanya menjawab dengan anggukan. Datuk sudah bisa membaca perasaanku dengan baik bahkan sangat baik.
”Bagi Nur berada di kampung nelayan seperti berada di tengah-tengah keluarga, Nur sedih sekali kalau harus meninggalkan mereka,” kataku datar.
”Mereka juga pasti akan sedih berpisah dengan kamu Nur, tapi kalau kamu menuruti perasaan, kamu hanya akan stag berada di satu titik. Sementara ada kesempatan besar menunggu di depan kamu. Seperti kamu meninggalkan ibu dan adikmu di desa untuk kuliah kedokteran. Waktu itu kamu pasti sedih juga, tapi kamu tetap meninggalkan mereka sehingga kamu bisa jadi dokter saat ini. Kejadian itu terjadi lagi pada kamu dengan kampung nelayan. Kamu harus meninggalkan mereka karena cita-cita mu ada di depan mata. Kamu harus meninggalkan satu titik untuk maju ke titik selanjutnya. Sebuah generasi harus maju dan digantikan oleh generasi selanjutnya,” kata Datuk bijaksana.
”Kamu masih ada waktu seminggu untuk berfikir kembali Nur, saya dukung semua keputusan kamu sayang. Kamu minta petunjuk Allah biar kamu yakin langkah apa yang akan kamu ambil,” kata Datuk dan senyum manis tersungging di bibirnya yang merah.
Aku merasa tenang mendengar saran Datuk. Itu adalah salah satu kelebihannya yang sangat aku suka, dia selalu memberi pencerahan terhadap masalah-masalah yang ku hadapi. Tapi dia tidak memaksakan kehendaknya padaku. Aku merasa benar-benar mendapat bimbingan darinya.
”Oh ya Nur, saya ada berita bagus buat kamu.”
”Apa?” tanyaku penasaran.
”Nanti saja di rumah, kita akan kedatangan tamu spesial,” katanya membuatku penasaran.
”Siapa?” tanyaku makin penasaran.
”Kamu lihat saja nanti,” kata Datuk membuatku makin penasaran.
Rasa penasaran menggelayuti hatiku sehingga aku jadi tidak sabar menunggu malam tiba. Untunglah aku bisa sedikit meredamnya dengan membantu Bu Zaedar dan Ibu yang sudah tinggal di rumah ini sejak sebulan yang lalu. Alhamdulullah Aisyah bisa jebol kuliah di jurusan Kedokteran Universitas Gajah Mada. Aku sungguh bangga padanya, dia bisa menimba ilmu di universitas yang kualitasnya lebih dari pada aku.
Sekitar pukul 19:00 WIB bel berbunyi, pasti itu dia tamu pentingnya. Setelah merapikan jilbabku aku berjalan menuju pintu depan, ternyata Datuk sudah lebih dulu membukakan pintu.
Aku melihat Yudha dan seorang laki-laki bertubuh tegap berjalan di belakang Datuk.
”Ah Nur, ini dia mereka sudah datang,” kata Datuk.
Aku tidak menyangka bahwa tamu spesial itu adalah Yudha dan temannya itu.
”Nur, ini dr Andra. Dia ini sahabatku waktu kuliah spesialis penyakit dalam dulu. Dia seorang spesialis tulang dari Jakarta,” kata Yudha memperkenalkan.
Aku mengatupkan telapak tanganku di depan dada untuk memberi salam. Aku masih belum mengerti mengapa dr Andra menjadi tamu spesial kami malam itu. Begitu mereka duduk, aku segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka. Tanda tanya masih saja menggelayut di benakku.
Setelah meletakkan minuman di meja tamu Datuk memintaku duduk.
”Nur, kemaren saya sudah bicara dengan dr Andra tentang Rosa. Dan beliau ini sengaja datang dari Jakarta untuk memeriksa Rosa dan kemungkinannya untuk memakai kaki palsu,” jelas Datuk.
Aku senang sekali mendengarnya. Sudah lama aku punya rencana seperti ini tapi belum pernah terwujud karena aku masih mengumpulkan uang untuk membeli kaki palsu untuk Rosa. Lagi pula untuk menggunakan kaki palsu Rosa harus mengikuti beberapa terapi yang juga tidak makan sedikit biaya. Walau Datuk memberiku sebuat ATM yang berisi banyak uang tapi aku takut menggunakan uang itu. Tapi lagi-lagi Datuk tau apa yang aku inginkan.
”Terimakasih,” kataku menatap mereka bergantian.
”Jadi kapan saya bisa bertemu anak itu?” tanya dr Andra.
”Besok kita akan sama-sama kesana,” jawabku cepat.
Aku jadi tidak sabar menunggu hari esok tiba agar bisa segera bertemu dan melihat reaksi Rosa.
”Ini baru kejutan pertama,” ujar Datuk.
Aku jadi kembali penasaran. Kejutan apa lagi yang akan ku dapatkan dari orang-orang ini. Hah, Datuk memang suka memberi ku kejutan. Dan aku menyukai semua kejutan yang diberikannya.
”Nur aku punya kabar buat kamu,” kali ini Yudha yang angkat bicara.
”Sepertinya aku akan mengambil sesuatu yang berharga dari mu,” Yudha menggantung kalimatnya, wajahnya terlihat sangat serius.
”Aku mau melamar sahabat kamu secepatnya,” ujar Yudha kemudian.
”Aida?” tanyaku tidak percaya.
Yudha menjawabnya dengan anggukan.
Subhanallah... terimakasih ya Allah, begitu banyak hal menyenangkan yang Engkau berikan padaku. Aku benar-benar tidak bisa lukiskan rasa syukurku saat ini. Aku bahagia karena orang-orang yang sangat ku sayangi mendapa titik terang dalam penantian hidup mereka.