Jumat, 21 Oktober 2011

Friday Night at Hospital

hey...
i just wanna say hey hey hey hey...


aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat aku akan berada di tempat yang banyak orang-orang keluhkan. Tapi disinilah aku berada.

saat aku ingin menyerah aku ingat bahwa kemarin aku menangis sambil menampung berkah dari langit untuk berada di sini.
dan kini di sini lah aku..

Jadi haruskah aku menyerah sekarang???

Kamis, 26 Mei 2011

SEDIH



Hey…
Salam dari ku yang bercokol di sudut hatimu
Jabatlah tangan semuku
Perkenalkan aku adalah rasa
Aku adalah bagian dari dirimu yang sering kau abaikan
Dan kadang aku kehilangan suara untuk memanggilmu
Mau tau bagaimana aku bisa bicara padamu saat ini ?...
Aku selalu ada disetiap permainan hati yang kau lakukan
Karena hanya saat itu jiwamu menjadi sarang yang nyaman untukku
Taukah kau ?...
Aku senang saat kau kalah
Aku senang saat kau menumpahkan air mata
Aku senang saat hatimu teriris
Aku menikmati setiap penderitaanmu
Karena hanya saat itulah kau menoleh padaku
Kau milikku seutuhnya saat kau tertunduk bisu disitu
Sekarang tariklah dirimu dari hingar-bingar itu dan ikut bersamaku
Hanya aku yang paling setia di setiap jalan yang kau pilih
Ayo bergegaslah...

Hey rasa...
Ku sambut salammu
Terimakasih sudah hadir
Sungguh hebat dirimu
Ku fikir aku sangat ingin berguru dan mengabdi padamu
Tapi aku tau, tempatmu terlalu kecil untukku mengayunkan tangan dan kaki
Dan ku rasa kau juga tidak memerlukan pengikut sepertiku
Terimakasih kau menarik mata dan hatiku untuk menoleh ketempatmu berada
Menundukkan wajahku dan memalingkanku dari cahaya yang membutakan itu
Aku akan duduk bersamamu sejenak
Tapi esok aku akan melupakanmu lagi
Dan sebelum aku pergi
Aku akan menoleh ke arahmu dengan senyum tipis disudut bibirku...


Tembilahan, 27 Mei 2011
So sad when I know something about you
But I think I need this feeling…




Sabtu, 07 Mei 2011

Yang Salah Hanya Awalnya

Mauris sedikit heran melihat mobil tantenya terparkir di halaman rumah. Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam rumah, mengingat hubungan tante dan mamanya tidak begitu baik. Dan benar saja, saat ia memasuki rumah terdengar suara ribut dari ruangan keluarga.
Setelah mendengar beberapa saat Mauris mengerti apa yang diributkan oleh tante dan mamanya. Yeah apalagi yang diributkan saudara kalau bukan harta warisan.
“maaf, mama dan tante buat apa sih ribut-ribut masalah yang nggak penting gini,” Mauris berusaha menengahi.
“heh anak ingusan, jangan ikut cambur kamu masalah orang tua!” bentak tantenya. Mauris hapal watak tantenya, kasar dan sombong. Dia punya pengalaman buruk dengan tantenya itu. Waktu kecil Mauris sering dimarahi dan diplototi oleh tantenya tanpa ada alasan yang jelas.
“tante sekarang dirumah ku dan jangan bikin ribut donk,” Mauris melawan karena tidak bisa menahan emosi.
“dasar anak haram, gak sopan kamu sama orang tua!” bentak tantenya lagi.
“heh kamu nggak pernah ya ngajarin anak harammu itu sopan santun!” bentaknya lagi mengarah ke mama Mauris.
Mauris terperanjat mendengar kata-kata yang dilontarkan tantenya barusan. Dia disebut ”anak haram” dan itu sungguh sangat mengejutkan.
”apa maksud tante?” tanya Mauris dengan suara menahan tangis dan kaget.
“kamu tanya sama mama kamu itu!” ujar tantenya lalu pergi meninggalkan Mauris dan mamanya yang sama-sama terdiam dengan seribu kata yang tertahan.
Dengan langkah berat Mauris mendekati mamanya yang duduk dengan kepala tertunduk di sofa ruang keluarga itu.
“tolong jelaskan ma,” pinta Mauris jantung berdebar.
“Ris, maafin mama,” ujarnya seraya menangis.
”jelaskan!”
”memang benar mama mengandung kamu sebelum menikah dengan papa. Mama nggak sengaja, mama khilaf,” terang mamanya singkat dan penuh penyesalan.
Untuk sesaat Mauris merasa dadanya sangat sesak dan ia merasa berada diwah kaki takdir yang menginjaknya sampai rata dengan tanah.
”semua . . . ”
”cukup ma, aku nggak mau dengar lagi!“ bentak Mauris lalu pergi meninggalkan rumah tanpa menghiraukan panggilan mamanya.
Selama ini ia merasa bahwa mamanya adalah manusia paling suci dan hebat di muka bumi ini. Walau hubungan mama dan papa tidak berjalan lancar tapi mama adalah mama terbaik di dunia. Mama yang mengajarkannya untuk menjaga diri. Mama yang mengajarkan keperawanan itu adalah harga diri.
Sementara papa sibuk dengan urusannya sendiri. Dia lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah, bahkan Mauris tidak pernah merasa belaian kasih sayang dari papanya. Mereka sering bertengkar karena hal-hal sepele seperti mama telat menghidangkan makan malam atau lauk yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Mauris hanya bisa menutup kupingnya rapat-rapat setiap kali mereka bertengkar. Keributan itu akan semakin gaduh saat Vina, adiknya, menangis karena tidak tahan mendengar bentakan-bentakan yang terlontar dari mulut mereka.
Mauris sering bertanya dalam hati mengapa keluarganya tidak bisa bahagia seperti keluarga teman-temannya. Ia dibesarkan dalam keluarga yang cacat tanpa tau penyebab cacatnya apa. Bahkan pernah ia menyarankan pada mama untuk menceraikan papanya. Tapi hingga saat ini tidak ada yang mau bercerai.
Sekarang pertanyaannya terjawab sudah. Selama ini mama tidak pernah mau bercerita tentang bagaimana ia bertemu dengan papa, karena ingin menutupi bahwa aku ini adalah anak diluar nikah. Ia menyadari mengapa keluarganya tidak pernah bahagia, itu semua karena dimulai dengan langkah yang salah.
Mauris memacu sepeda motornya tanpa tujuan yang pasti. Di tempat yang sepi ia lalu menumpahkan tangisnya yang sudah ditahannya dari tadi. Hari ini benar-benar berat baginya. Kenyataan ini sungguh berat baginya.
Berhari-hari ia murung dan mengunci diri di kamar. Hanya keluar untuk pergi kuliah dan baru pulang hampir tengah malam saat semua orang sudah tidur. Jika tanpa sengaja ia bertemu pandanga dengan mama, ia langsung membuang muka dan bergegas masuk ke kamarnya.
Dikampuspun Mauris yang biasa ceria tiba-tiba menjadi pendiam. Kadang saat semuanya sudah tertawa ngakak dia hanya menyunggingkan senyum tipis karena tidak begitu mengikuti obrolan teman-temannya.
“Loe napa sih Ris murung aja beberapa hari ini?” tanya Yudha, salah seorang sahabatnya.
Mauris menghela napas panjang sambil menggeleng.
”Kalau memang nggak ada masalah jangan diem donk, anak-anak kan pada bingung kalau loe diem gini,” bujuk Yudha.
”Yud, loe ngeliat gw beda nggak dari temen-temen yang lain?” tanya Mauris.
”Ya bedalah, loe tuh gila, tengil dan jail,” jawan Yudha setengah tertawa.
”Loe nggak ngeliat bintik hitam dijidat, pipi, hidung  atau dimana aja yang membuat orang-orang tau asal-muasal gw?” tanyanya lagi.
”Maksudnya apa sih Ris? Yg gw liat muka loe tuh kaya toilet lalat buang hajat,” jawab Yudha berusaha membuat lelucon.
”Ternyata gw anak haram Yud,” ujar Mauris lalu tertunduk dalam
Yudha segera menghentikan tawanya dan menatap Mauris dengan pandangan iba. Ia berusaha mencari kata-kata untuk menghibur sahabatnya itu.
“Ris, bukan cuma loe di dunia ini yang terlahir dengan cara seperti itu. Banyak, malah lebih tragis karena mereka sama sekali gak tau terlahir dari rahim siapa. Yang salah cuma awal tapi selanjutnya sama aja. Loe jangan ngejudge orang tua loe hina karena loe gak tau betapa berat hidup yang mereka jalani dulu menanggung cemoohan orang sekitar mereka. Cukup itu mereka alami dulu, jangan loe lakuin lagi sekarang,” ujar Yudha.
“Tapi . . .”
“ssssttt….” Yudha menaruh jarinya di bibir Mauris
“begitulah cara takdir membawa loe ke dunia ini dan menjadikan loe sahabat gw yang paling gw sayang,” ujar Yudha sambil memeluknya erat.
“sekarang loe samperin mama loe sana, kemaren dia nelpon gw nanyain loe,” suruh Yudha sembari melepaskan pelukannya.
Tapi belum sempat ia melagkah, handphonenya berbunyi dan terdengar suara diseberang sana menyampaikan berita yang membuat dunianya berhenti berputar.
Mauris memacu langkahnya menuju ruang ICU. Mamanya terbaring lemah bersimbah darah karena baru saja menjadi korban tabrak lari. Dokte berusaha keras membantu tapi keadaannya sangat kritis. Mauris tak kuasa menahan tangis saat berada disamping mamanya tak bergerak.
”mama bangun,” pintanya sesungutan.
Dua hari mamanya koma karena mengalami pendarahan otak. Akhirnya sore itu jemari mama menggapai kepala Mauris yang tengah tertidur di samping tempat tidur perawatan.
”mama . . . ” panggil mauris berlinang air mata.
Air mata mengalir dari sudut mata mamanya. Ia memandang Mauris tanpa berkedip dan seulas senyuman tersungging di bibirnya yang tertutup alat bantu pernapasan. Beberapa detik kemudian genggaman tangannya perlahan melemah dan terus melemah sampai tangan itu tak ada tenaga lagi.
***

Jumat, 06 Mei 2011

Suatu Sore



Sebuah tamparan hebat ku rasakan saat melihat dia pergi. Mataku tak kuasa melihat walau semuanya tampak samar dibalik butir-butir air mata yang mengalir deras. Aku seperti sebuah titik yang secepat putaran waktu menghilang ditelan layar putih yang kosong. dan saat aku membuka mata semuanya terasa begitu sepi dan tiada siapapun disini.

Seandainya aku boleh meminta pada Tuhan, aku ingin hari itu tidak pernah ada. Hari dimana aku memutuskan untuk pindah ke kota kecil ini dan hari dimana aku kembali membiarkan diriku terhanyut dalam sebuah perasaan yang dinamakan cinta.

Sore yang basah, seperti sore-sore sebelumnya. Sore yang selalu membuatku merasa bahagia kala melihat titik-titik bening itu jatuh ke permukaan air dan membuat lingkaran yang makin lama makin membesar.
Kali ini semua menjadi sangat luar biasa. titik-titik bening itu menjelma menjadi malaikat tanpa sayap dengan tatapan hangat dari sepasang matanya yang indah. Dan dia tengah memamerkan keelokan rupanya di hadapanku saat ini.

”ada yang bisa saya bantu mas?” tanya ku pada customer yang terpaksa ku layani karena sebenarnya jam kerjaku sudah habis. Tapi seperti biasa teman-temanku terlalu usil untuk membiarkanku meninggalkan kursi eksekusi ini lebih cepat.

”ya, saya butuh informasi yang jelas tentang produk anda ini,” pintanya seraya memegang beberapa brosur produk terbaru dari perusahaan tempatku bekerja.

Dengan cepat aku menjelaskan tanpa bermaksud menawarkan produk itu.  Aku berharap dia tidak berminat, karena jika dia mau aku akan bekerja ekstra sore ini. Tapi semuanya persis terjadi diluar keinginanku, ketertarikannya terhadap produk itu membuat kami terlibat dalam pembicaraan yang panjang dan sesekali menyangkut hal yang pribadi.

Sesekali ku tatap pemilik mata indah itu. Ada rasa damai saat ku melihat jauh ke dalam sana. Ada rasa kagum dan sedikit hayalan bodoh tentang sesuatu yang ku kira mustahil terjadi.
Oh pemilik alam semesta, betapa elok ciptaanmu yang Engkau kirimkan ke hadapanku saat ini.
”aku ingin menjadi miliknya,” bisik hatiku yang tak bisa ku paksa diam.

Entah bagaimana garis nasip meliuk-liuk hingga di sebuah malam yang syahdu aku duduk bersamanya di bawah atap malam. Walau hanya beberapa bintang yang menemani bulan yang enggan bersinar, tapi malam itu terasa sangat sempurna saat dia menggenggam tanganku dan memintaku untuk jadi miliknya.
Seluruh rasaku tumpah saat itu juga.

Rasanya aku kembali menjadi gadis remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Semua terasa begitu indah dan malam itu adalah malam yang sangat sempurna untuk mengatakan bahwa aku jatuh cinta dan aku adalah wanita yang paling bahagia saat ini.

Sekarang aku adalah pemilik mata indah itu. Rasanya ingin ku sulap dia menjadi sebuah miniatur agar bisa ku bawa ia kemapun aku pergi. Demikianlah cinta yang begitu gerlap gempita mempertontonkan keindahannya.

Semua hal biasa terasa begitu istimewa saat bersamanya. Tiada hari tanpa dirinya. Tiada kata tanpa menyebut namanya. Semua hanya dia, dia dan dia.

Hingga aku terlupa.
Senja tak selamanya jingga atau hujan tak selamanya hanya titik-titik kecil yang indah. Apalagi cinta yang kadarnya tak bisa diukur. Datang dan pergi tanpa mengenal kata permisi dan rambu-rambu. Semuanya terasa indah di awal tapi menyengsarakan di akhir.
Yang jika kehilangannya kau akan menyesalinya dari awal dan lupa memetik hikmah yang kau dapat saat bersamanya. Kenapa aku harus bertemu dia dan kemudian jatuh cinta jika hanya menorehkan luka???

Cinta berubah...
Cinta itu seperti es yang mencair lalu menjadi air dan menguap
Cinta itu tidak seperti asinnya air laut yang kadarnya tidak berubah
Dan cinta tak pernah seindah dongeng yang berakhir bahagía untuk selama-lamanya

kini si pemilik mata indah itu tak lagi ku dengar gelak tawanya. Tak lagi ku lihat keteduhan di wajahnya. Semua benar-benar sudah berubah.

“Aku sibuk dan ku harap kamu bisa ngerti,” ujarnya.
“Kenapa tiba-tiba sibuk? Dulu kamu punya banyak waktu buat aku,” protesku keras.
“terserah kamu mau bilang apa, yang jelas kondisiku sekarang memang begitu! Aku pusing karena gak cuma kerjaan aja yang ku pikirin tapi juga masalah keluarga. Dan aku harus cari solusi untuk semua masalah itu. Harus ada yang aku korbankan, dan aku ngorbanin kamu,” terangnya.

Lama aku mencari makna dari perkataannya ”mengorbankan”. Kenapa harus aku yang dikorbankan? Mengapa aku? Apakah ”dikorbankan” adalah posisi terhormat dalam sebuah kisah cinta? Apakah ”dikorbankan” adalah sebuah status yang harus membuatku bangga.
Mengapa dia tidak bersandar di pundakku jika dia sedang kehabisan akal? Atau mengapa dia tidak sedikitpun membagi laranya denganku? Bukankah bersama untuk saling berbagi dan melengkapi?

Setiap pagi aku terbangun dengan dirinya di benakku. Setiap yang ku lakukan ku berharap bisa memahami apa yang dia alami. Setiap malam aku mencoba tidur tanpa berfikir sedikitpun hal buruk tentang dirinya. Dan saat aku berangkat ke alam mimpi, ku harap bisa menemukan dia yang kemaren ku lihat dengan mata berbinar menatapku. Ku coba mencari rasa hangat yang ku rasa setiap dia menggenggam tanganku.
Tapi semakin lama rasa itu semakin kabur karena dia semakin jauh dari sisiku dan tak bisa selalu ku lihat. Aku bisa memaklumi ini saat aku berfikir dia butuh waktu untuk menyelesaikan semua urusannya. Aku bisa memahami saat aku membutuhkannya dia sedang berjuang disana untuk menata kehidupan masa depan buat kami berdua. Aku coba memahaminya walau prasangka buruk yang kerap muncul.

Aku berharap suatu sore dia hadir di hadapanku dengan senyum hangat di bibirnya dan binar di mata indahnya. Hanya itu harapan sederhana yang ku sematkan dalam hati setiap matahari mulai condong ke barat.

Entah berapa sore aku menunggu. Tapi menuju hatiku seperti jalan panjang yang tak berujung baginya. Lelah ku menunggu hingga akhirnya aku terluka oleh waktu. Kau pun berubah menjadi angan-angan buatku, hanya ada di hayalan tapi semakin pudar jika aku ingin mewujudkan.

Aku berharap dia berhenti sejenak dan duduk di hadapanku. Menatap ke dalam hatiku dan menyimak semua rasa yang timbul karena jarak yang tercipta diantara kami. Tapi itu tak kunjung terjadi hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakikhirinya.

Suatu malam yang suram. Teramat sangat galau hati ini hingga tak sepatah katapun terucap dengan pasti. Tapi ku tau dia bisa menangkap maksudku dengan jelas. Bahkan sangat jelas sehingga dia meninggalkanku tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

Cerita yang singkat. Tapi begitulah cinta menorehkan sejarahnya. Tidak peduli berapa singkatnya ia terjalin tapi luka dan air mata yang tercipta sama saja dengan cinta yang telah berabad dijalani.

Jika kemarin aku jatuh cinta seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta, kini aku seperti seseorang tua renta yang kehilangan tongkat untuknya menopang diri. Tiada siapapun di sisi dan tiada apapun di hati. Sepi dan perlahan dia mati tanpa siapapun menangisi kepergiannya.

Dan kini akhirnya ku temukan arti dari kata ”dikorbankan” adalahTIDAK DIINGINKAN.
***

Tembilahan
Selasa, 22 maret 2011





Jumat, 29 April 2011

DIALAH KEKASIHMU


Dialah Kekasihmu

Apakah kau sedang lara karena cinta? Atau kegalauan dan rasa sepi menyelimuti hatimu?
Mampirlah sebentar wahai sahabat. Duduk manis dan bacalah tulisanku ini.
Aku sering mengalami hal itu, dan setiap kali aku ingin menangis aku memejamkan mata dan mengingat saat aku berbaring manja di samping nenekku. Dia selalu mengulik kupingku dengan lembut, menggosok punggungku atau membelai rambutku agar aku tidur.
”Sudah tidur?” tanyanya kalau aku tidak bersuara. Dia tidak akan berhenti melakukan itu semua jika aku jawab belum. Dan saat aku merasa sentuhannya  mulai melemah, aku akan memanggilnya dan memintanya untuk bercerita.
Cerita tentang kasih, walau aku tidak tau persis apa maksudnya dan apa manfaatnya bagi hidupku kelak. Aku mendengar kisah kasih nenek sebelum aku mendengar dongeng tentang cinderella atau putri salju dan kisah cinta lainnya. Aku mendengar kisah cinta sejati sebelum aku menyadari ada hubungan yang begitu rumit antara laki-laki dan perempuan. Dan entah berapa kali nenek menceritakan kisah itu padaku tanpa pernah aku merasa bosan untuk mendengarnya.
Nenekku ádalah seorang janda dari seorang pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan RI. Entah bagaimana kabar si pejuang itu hingga 5 tahun ia tidak pernah kembali. Tidak ada kabar berita sehingga nenek pun menyadari bahwa dirinya sudah janda. Walau akhirnya ada kabar mengatakan bahwa telah ditemukan mayat seorang pria muda yang cirinya seperti suami nenek di sebuah penguburan massal.
Nenek hanya wanita biasa yang juga memiliki kecantikan yang dimiliki oleh semua wanita. Tapi dia adalah wanita kuat dan mandiri, dan itu yang membuatnya beda dari wanita cantik lainnya. Walau sudah janda tidak sedikit pria yang suka dan ingin menjadikannya istri. Mulai dari juragan tanah yang menyukai nenek karena kecantikannya. Tapi ia menolak karena menurutnya kecantikan hanya sementara dan jika nanti kecantikannya hilang, si juragan tanah pasti tidak akan menyukainya lagi. Nenek tidak percaya pada cinta.
Untuk menyambung hidup, nenek berjualan kue basah. Ia tidak malu menjajakan kue basah itu keliling kampung. Kemandiriannya membuat seorang pemuda yang tidak memiliki pekerjaan jatuh cinta. Ia mencintai nenekku karena nenek adalah seorang wanita yang gigih dan pintar mencari uang. Nenek juga menolak pria itu karena ia merasa akan diperbudak oleh laki-laki pemalas itu.
Banyak cinta yang datang padanya dengan berbagai alasan, Namun nenek tak tersentuh hatinya.  Hingga suatu hari seorang pria yang lebih muda darinya datang melamarnya.
”kenapa kau ingin menikahiku sementara aku lebih tua darimu,” tanya nenek pada pria muda itu.
”karena saya kasihan sama kakak’” jawab pria itu tanpa ragu.
Saat itulah hati nenek luluh lantah dan menerima pria yang lebih muda darinya itu untuk menjadi suaminya. Pria itu tidak punya pekerjaan. Ia sebatang kara karena tidak punya saudara. Tidak punya harta apapun dari warisan keluarganya. Dialah yang menjadi kakekku. Kalau boleh jujur, kakek jauh dari pantas untuk nenek. Dia adalah sosok pria yang sempurna. Bahkan aku bisa melihat betapa gagahnya ia walau sudah tua.
Hidup mereka sulit. Kakek mengerjakan apa saja untuk menafkahi nenek. Kadang jadi buruh, kadang bantu-bantu di bengkel, pokoknya apa saja agar dia bisa memberi nenekku nafkah.
Suatu hari ia memberanikan diri untuk merantau ke Riau dan tanpa sengaja bertemu dengan seorang boss perusahaan Caltex. Saat itu mobil sang boss mogok dan kakekku membantunya. Untuk membalas budi, dia mengajak kakekku untuk bekerja di perusahaan minyak itu untuk menjadi teknisi kapal.
Hidup mereka mulai berubah. Dari tidak punya apa-apa hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Kisah cinta mereka tidak berjalan seperti kisah-kisah dongeng yang berakhir bahagia tanpa cela. Kakek pernah hampir menikah lagi dengan wanita lain. Namun nenek tetap sabar hingga kakek sadar dan kembali padanya. Sejak itulah mereka selalu bersama sampai ajal menjemput kakek lebih dulu.
Aku menyaksikan betapa kakek sangat mengasihi nenek. Aku tidak pernah melihat kakek membentak nenek. Kakek tidak pernah gengsi membersihkan rumah atau memasak untuk nenek.
Aku sangat menyayangi mereka berdua, bahkan aku tidur bersama mereka. Pernah suatu malam yang sunyi, aku tersentak dan mendengar mereka bercerita sambil tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan hingga malam itu sepertinya sangat menyenangkan. Dan seingatku tak lama setelah itu kakek pergi untuk selamanya.
”nanti kalau kamu sudah besar dan ingin menikah, carilah pria yang mengasihimu, jangan yang mencintaimu,” kalimat itu yang selalu dikatakan nenek di akhir ceritanya.
”kenapa?”
”karena cinta bisa hilang kapan saja, sedangakan kasih tidak akan pernah hilang. Orang yang mengasihimu tidak akan pernah tega menyakitimu,” jawab nenek.
Aku tidak pernah paham dengan apa yang disampaikan nenek. Dari semua cerita yang ku baca, tidak ada kisah yang menceritakan bahwa sepasang kekasih bersatu karena rasa kasihan, semuanya karena karena cinta dan hanya cinta. Bagaimana mungkin nenek bisa melawan realita yang terjadi di dunia ini dengan pernyataannya.
Aku tidak pernah lupa dengan cerita-cerita itu karena saat terakhir aku bicara dengan nenekpun dia masih mengatakan hal yang sama.
***
            Seperti kebanyakan orang, aku sangat memuja cinta. Aku beralih dari cinta yang satu ke cinta yang lainnya. Mereka datang dan pergi begitu saja dan beberapa dintaranya meninggalkan duka dan luka. Kadang aku berfikir bahwa cinta itu menyakitkan. “Saat kau memutuskan untuk jatuh cinta, kau harus siap untuk terluka karena orang yang kau cinta berada di posisi yang tepat untuk menyakitimu”. Kalimat itu pernah ku baca dalam diary abangku.
Aku mengalami dan akhirnya aku memahami maksud dari pesan nenek.
Aku bertemu dengan seorang teman. Ia baru menikah dengan gadis yang sudah dipacarinya bertahun-tahun. Dia bercerita padaku bahwa dia tidak mencintai istrinya itu. Dia menikahinya karena kasihan. Kasihan karena umur gadis itu sudah tidak muda lagi, kasihan karena gadis itu selalu sabar saat dia berbuat salah. Dia menikah hanya karena kasihan. Dan baginya itu adalah alasan yang sangat buruk untuk menikah.
Mungkin alasan itu yang membuatnya berfikir punya hak untuk jatuh cinta lagi. Katanya ia belum pernah merasa benar-benar jatuh cinta dan menginginkan seorang perempaun seperti ia menginginkan gadis itu. Ia bertemu dengan gadis itu tidak lama sebelum ia menikah. Gadis itu juga membalas cintanya. Temanku itu menceritakan semua tentang calon istrinya pada gadis yang dicintainya, tapi tidak sebaliknya.
”kenapa tidak kamu ceritakan?” tanyaku heran.
”karena aku yakin dia tidak akan bisa menerimanya dan akan sangat sedih,” jawabnya.
”apakah gadis yang kamu cintai itu tidak sedih saat mengetahui kamu akan menikah?” tanyaku lagi.
”dia bisa mengerti,” jawabnya enteng.
Aku terdiam sejenak lalu airmataku mengalir sangat deras.
”kamu tau, istri kamu adalah cinta sejati mu yang akan bersama kamu sampai ujung usia nanti,” jawabku.
”kenapa?”
Aku menceritakan apa yang nenek katakan padaku. Untuk sesaat dia diam dan berusaha membantah. Tapi aku yakin dia akan memahaminya suatu saat, bahwa orang yang dinikahinya itu adalah kekasih yang sebenarnya.
Malam ini aku hampir terlelap saat ku rasakan sebuah tangan lembut seolah mengulik lembut kupingku dan ia berbisik, “kamu sudah mengerti?“
Dengan seulas senyum aku menjawab, “sudah nek.“
***
Tembilahan, 26 Maret 2011
When I feel so lonely


Senin, 04 April 2011

GILA

OMG!!!!
kegilaan apa yang tengah merasuki diri ku ini...
bagai mana mungkin aku bisa mengalami hal yang sangat tidak wajar seperti sekarang???
lebih TERTARIK PADA OM-OM KEREN dari pada cewok-cowok sepantaran...

jadi ingat artikel di sebuah blog yang memuat hasil penelitian bahwa cewek-cewek tuh lebih suka pada pria yang sudah menikah...
atau mungkin juga aku terpengaruh artikel yang mengatakan bahwa salah satu kekurangan pria yang disukai wanita adalah uban..
atau mungkin juga karena cowok-cowok yang "sewajarnya" aku taksir selalu mengecewakan???

nggak tau alasaan pastinya, yang jelas aku suka melihat om-om dengan uban yang mendominasi rambutnya. dengan perut yang sedikit buncit, suara merdu menggelegar dan penampilan yang bersih dan berwibawa, apalagi kalau kulitnya putih.. toet toetttt (^_^)
example nya Tio Pakusadewo...
kwkwkwkwkwkw 

aku rasa aku mulai GILA......
hahahahahaha.....

Sabtu, 26 Maret 2011

bukan siti nurbaya capture 21 (tamat)


ANUGERAH CINTA
Tawa canda anak-anak kampung nelayan adalah obat lain dari kegalauanku. Alangkah bahagianya menjadi anak-anak yang hidup tanpa beban, tanpa tanggungjawab dan hanya ada keceriaan. Dulupun aku merasakan kebahagiaan yang serupa bersama teman-temanku di kampung. Karena tidak ada laut atau sungai, aku anak-anak kampung lainnya berenang di kolam depan mesjid. Di sudut kolam itu ada WC umum yang didatangi oleh seluruh warga kampung karena tidak WC di rumah warga. Untunglah kolam itu banyak ikan sehingga tidak ada kotoran yang tersisa.
Setahun sekali ikan-ikan di kolam itu dipanen dan dijual pada warga kampung. Hasil penjualannya di gunakan untuk beli anak ikan baru dan selebihnya untuk pembangunan Mesjid. Ayah selalu ikut saat panen ikan. Ikan itu ditarok di dalam baskom kira-kira seminggu agar kotoran yang dimakan ikan keluar dari perutnya. Setelah itu baru giliranku dan ibu membakar atau menggoreng ikan-ikan itu. Sedangkan Aisyah kecil bermain dengan ayah. Keluarga sederhana yang bahagia.
Apakah saat ini Ayah sedang melihatku? Apakah beliau bersedih di sana? Mataku berkaca-kaca bila ingat ayah. Pastilah ayah melihat apa yang sedang ku alami saat ini. Semoga saja beliau tidak bersedih.
Saat akan memasuki halaman rumah dinasku, aku melihat sebuah Cherooki hitam parkir di sana. Dengan harap-harap cemas aku melangkah masuk ke rumah yang pintunya ternganga. Ku lihat Datuk sedng duduk di lantai yang beralas tikar di ruang depan.
Janungku berdebar kencang saat dia menoleh ke arahku. Pertanda baik atau burukkah kedatangan beliau ke sini? Dengan sedikit canggung aku duduk di hadapan beliau. Aku sama sekali tidak berani mengangkat wajahku untuk menatapnya.
”Kamu dari mana Nur?” tanya Datuk dengan suaranya yang khas.
”Nur dari pantai Pak,” jawabku agak terbata.
Keheningan kemudian tercipta diantara kami. Begitu banyak hal yang ingin ku tanyakan padanya tapi entah mengapa lidahku kelu sehingga aku tidak bisa berkaa apa-apa.
”Ehm... apa kabar kamu?” tanya Datuk lagi.
”Baik,” anggukku.
Suasana saat ini lebih kaku dari pada malam pertama kami.
”Nur, kita pulang ya,” kata Datuk membuatku kaget.
Mataku berkaca-kaca menatap wajahnya yang teduh.
”Maafkan Nur Pak?” kataku sambil menangis.
Aku menangis seperti anak-anak yang ketahuan berbuat salah oleh ayahnya. Aku meminta maaf dengan sepenuh hati. Dan seperti seorang ayah yang bijaksana Datuk memegang tanganku dan memelukku sangat erat.
Semua bebanku seakan lepas, aku bisa rasakan betapa hangat dan nyaman pelukannya. Hanya saat bersujud kepada Allah lah yang bisa mengalahkan ketenangan saat berada dalam pelukan Datuk.
”Saya yang seharusnya minta maaf Nur. Tidak seharusnya saya bersikap seperti itu sama kamu,” ujarnya.
”Tapi Pak, masalah dr Yudha....” tanyaku nada bersalah.
”Yudha sudah menjelaskan semua, dan yang paling penting dari itu semua saya mencintai kamu Nur,” ujar Datuk.
”Saya juga mencintai bapak,” ujarku dan kembali memeluknya.
***
Usai shalat isya berjamaah, aku mengganti pakaianku dengan pakaian tidur dan melepaskan jilbabku. Sementara Datuk masih duduk di atas sajadahnya dengan kepala tertunduk dalam. Aku menunggunya selesai berdoa di sofa yang ada di sudut kamar kami di rumah atas bukit.
Begitu ia selesai dan melipat sajadahnya ia lalu menoleh ke arahku. Aku jadi salah tingkah dan deg-degan ketika dia menghampiriku. Jantungku berdebar kencang saat dia mengecup keningku. Bibirnya yang merah terasa hangat menyentuh keningku. Kemudian dia memegang tanganku dan bersimpuh di hadapanku.
Aku sangat tidak enak diperlakukan seperti itu. Bagaimanapun tidak pantas seorang istri duduk lebih tinggi dari pada suaminya. Aku berniat untuk ikut duduk di lantai agar sejajar dengannya tapi dengan cepat ia menahanku.
”Nur, terimakasih karena kamu telah bersedia menjadi istri saya,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di pahaku. Dengan lembut ku belai kepalanya.
Air mata haru tiba-tiba mengalir di pipiku. Saat ini aku bisa merasakan benih cinta yang tumbuh pada dr Yudha hanya sebatas kekaguman, dan aku tidak punya asa untuk memilikinya.
Benih itu tidak pernah tumbuh dan berkembang dalam hatiku karena kemudian ia kering dan mati dan digantikan oleh ilalang. Ilalang yang tumbuh subur dan berayun gemulai mengikuti irama hati yang mulai mendendangkan lafaz cinta yang baru. Cinta untuk orang yang telah mengajarkan keiklasan padaku.
Perlahan aku duduk di hadapan Datuk dan menatapnya lekat dengan mata yang basah.
”Nur bahagia menikah dengan Bapak meskipun untuk merasakan kebahagiaan itu Nur harus melalui masa yang panjang. Nur tidak pernah merasa mencintai seseorang sebelum mencintai Bapak. Jika ada orang yang benar-benar Nur cintai itu adalah Bapak. Tidak ada orang lain yang Nur harapkan untuk memberikan kebahagian pada Nur selain Bapak,” kataku tulus.
Datuk menatap mataku lekat. Tangan Datuk yang kokoh kemudian menarikku ke dalam pelukannya yang hangat.
”Saya mencintai kamu Nur,” bisik Datuk.
Aku bahagia sekali mendengarnya. Kebahagiaan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Bahakan lebih membahagiakan dari pada saat namaku dipanggil sebagai lulusan terbaik.
Seluruh alam berbahagia malam itu menyaksikan kebahagiaanku dengan Datuk. Aku benar-benar merasakan  cinta dan kasih sayang dalam setiap sentuhan dan kata-kata yang diucapkan Datuk. Ilalang dalam hatiku menari mengikuti arah angin cinta yang terucap mesra dari bibirnya. Malam ini sebagai seorang wanita aku merasa sangat sempurna dan bahagia.
Kehidupan baru ku jalani. Kehidupan berumah tangga yang harus serba berbagi tapi sangat damai. Aku menikmati silaturrahmi yang baik antara aku dengan istri Datuk lainnya, walau kadang ada rasa cemburu. Dan ternyata rasa cemburu itu sangat nikmat. Cemburu karena cinta. Seperti permen nano-nano yang punya semua rasa.
***
Cinta memberikan kekuatan yang luar biasa dalam hidupku. Aku jadi tambah bersemangat mengerjakan pekerjaanku. Tanpa terasa masa pengabdianku di desa nelayan hanya tinggal seminggu lagi.
Aku mendapat tawaran untuk praktek di Rumah Sakit M Jamil. Dan bagiku itu adalah tawaran yang sangat menarik, menjadi dokter di rumah sakit besar. Jika aku terima aku akan praktek di tempat yang sama dengan dosen-dosenku dulu termasuk Prof Ashaluddin dan dr Yudha.
Semangaku untuk mengabdi di desa nelayan makin menggebu di akhir-akhir masa pengabdianku. SK ku juga sudah keluar sehingga aku juga bisa membuka praktek sendiri sebagai dokter umum.
Frekuensi berkunjung ke rumah warga kampung nelayan makin ku tingkatkan dan bermain bersama anak-anak kampung menikmati matahari terbenam. Saat berkumpul anak-anak itu makin seru jika Datuk datang menjemputku karena sebelum pulang Datuk ikut bermain dengan mereka dan mengajak mereka membuat istana pasir dalam berbagai kreasi. Rona kebahagiaan terlukis jelas di wajah meraka. Datuk memang sangat pandai mengambil hati anak-anak itu.
Tapi diantara mereka yang sedang berbahagia aku menangkap wajah murung Rosa. Sejak aku memberitahunya tentang kepindahanku, dia jadi menjaga jarak denganku. Dia tidak seantusias biasanya saat melihatku. Jika aku membawakan sesuatu untuknya dia sama sekali tidak menyentuhnya.
”Rosa sedih banget karena bu dokter mau pindah. Dari kemaren dia nanya terus kapan ibu dokter mau pindah, kenapa harus pindah. Sepertinya Rosa tidak mau berpisah dengan bu dokter,” kata ni Ratna, ibunya Rosa.
Aku jadi sedih dibuatnya, sebenarnya aku juga berat berpisah dengan Rosa dan kehangaan kampung nelayan tapi masa tugasku sudah berakhir dan nanti akan datang pengganti yang mungkin akan lebih baik dariku. Dan tawaran untuk praktek di RS M Jamil adalah impianku sejak aku koas di sana. Dengan honor yang akan aku terima disana aku bisa melanjutkan studiku untuk mengambil spesialis jantung seperti cita-cita ku waktu ayah meninggal, tapi tentunya kalau Datuk memberi ijin.
Hati ku galau sekali dan aku tidak bisa menyembunyikannya.
”Sayang, kamu kenapa dari tadi diam aja?” tanya Datuk di perjalanan pulang.
Ternyata Datuk juga bisa membaca kegalauan hatiku saat ini.
”Kamu sedih ya akan meninggalkan kampung nelayan?” tanyanya.
Aku hanya menjawab dengan anggukan. Datuk sudah bisa membaca perasaanku dengan baik bahkan sangat baik.
”Bagi Nur berada di kampung nelayan seperti berada di tengah-tengah keluarga, Nur sedih sekali kalau harus meninggalkan mereka,” kataku datar.
”Mereka juga pasti akan sedih berpisah dengan kamu Nur, tapi kalau kamu menuruti perasaan, kamu hanya akan stag berada di satu titik. Sementara ada kesempatan besar menunggu di depan kamu. Seperti kamu meninggalkan ibu dan adikmu di desa untuk kuliah kedokteran. Waktu itu kamu pasti sedih juga, tapi kamu tetap meninggalkan mereka sehingga kamu bisa jadi dokter saat ini. Kejadian itu terjadi lagi pada kamu dengan kampung nelayan. Kamu harus meninggalkan mereka karena cita-cita mu ada di depan mata. Kamu harus meninggalkan satu titik untuk maju ke titik selanjutnya. Sebuah generasi harus maju dan digantikan oleh generasi selanjutnya,” kata Datuk bijaksana.
”Kamu masih ada waktu seminggu untuk berfikir kembali Nur, saya dukung semua keputusan kamu sayang. Kamu minta petunjuk Allah biar kamu yakin langkah apa yang akan kamu ambil,” kata Datuk dan senyum manis tersungging di bibirnya yang merah.
Aku merasa tenang mendengar saran Datuk. Itu adalah salah satu kelebihannya yang sangat aku suka, dia selalu memberi pencerahan terhadap masalah-masalah yang ku hadapi. Tapi dia tidak memaksakan kehendaknya padaku. Aku merasa benar-benar mendapat bimbingan darinya.
”Oh ya Nur, saya ada berita bagus buat kamu.”
”Apa?” tanyaku penasaran.
”Nanti saja di rumah, kita akan kedatangan tamu spesial,” katanya membuatku penasaran.
”Siapa?” tanyaku makin penasaran.
”Kamu lihat saja nanti,” kata Datuk membuatku makin penasaran.
Rasa penasaran menggelayuti hatiku sehingga aku jadi tidak sabar menunggu malam tiba. Untunglah aku bisa sedikit meredamnya dengan membantu Bu Zaedar dan Ibu yang sudah tinggal di rumah ini sejak sebulan yang lalu. Alhamdulullah Aisyah bisa jebol kuliah di jurusan Kedokteran Universitas Gajah Mada. Aku sungguh bangga padanya, dia bisa menimba ilmu di universitas yang kualitasnya lebih dari pada aku.
Sekitar pukul 19:00 WIB bel berbunyi, pasti itu dia tamu pentingnya. Setelah merapikan jilbabku aku berjalan menuju pintu depan, ternyata Datuk sudah lebih dulu membukakan pintu.
Aku melihat Yudha dan seorang laki-laki bertubuh tegap berjalan di belakang Datuk.
”Ah Nur, ini dia mereka sudah datang,” kata Datuk.
Aku tidak menyangka bahwa tamu spesial itu adalah Yudha dan temannya itu.
”Nur, ini dr Andra. Dia ini sahabatku waktu kuliah spesialis penyakit dalam dulu. Dia seorang spesialis tulang dari Jakarta,” kata Yudha memperkenalkan.
Aku mengatupkan telapak tanganku di depan dada untuk memberi salam. Aku masih belum mengerti mengapa dr Andra menjadi tamu spesial kami malam itu. Begitu mereka duduk, aku segera ke dapur untuk membuatkan minuman untuk  mereka. Tanda tanya masih saja menggelayut di benakku.
Setelah meletakkan minuman di meja tamu Datuk memintaku duduk.
”Nur, kemaren saya sudah bicara dengan dr Andra tentang Rosa. Dan beliau ini sengaja datang dari Jakarta untuk memeriksa Rosa dan kemungkinannya untuk memakai kaki palsu,” jelas Datuk.
Aku senang sekali mendengarnya. Sudah lama aku punya rencana seperti ini tapi belum pernah terwujud karena aku masih mengumpulkan uang untuk membeli kaki palsu untuk Rosa. Lagi pula untuk menggunakan kaki palsu Rosa harus mengikuti beberapa terapi yang juga tidak makan sedikit biaya. Walau Datuk memberiku sebuat ATM yang berisi banyak uang tapi aku takut menggunakan uang itu. Tapi lagi-lagi Datuk tau apa yang aku inginkan.
”Terimakasih,” kataku menatap mereka bergantian.
”Jadi kapan saya bisa bertemu anak itu?” tanya dr Andra.
”Besok kita akan sama-sama kesana,” jawabku cepat.
Aku jadi tidak sabar menunggu hari esok tiba agar bisa segera bertemu dan melihat reaksi Rosa.
”Ini baru kejutan pertama,” ujar Datuk.
Aku jadi kembali penasaran. Kejutan apa lagi yang akan ku dapatkan dari orang-orang ini. Hah, Datuk memang suka memberi ku kejutan. Dan aku menyukai semua kejutan yang diberikannya.
”Nur aku punya kabar buat kamu,” kali ini Yudha yang angkat bicara.
”Sepertinya aku akan mengambil sesuatu yang berharga dari mu,” Yudha menggantung kalimatnya, wajahnya terlihat sangat serius.
”Aku mau melamar sahabat kamu secepatnya,” ujar Yudha kemudian.
”Aida?” tanyaku tidak percaya.
Yudha menjawabnya dengan anggukan.
Subhanallah... terimakasih ya Allah, begitu banyak hal menyenangkan yang Engkau berikan padaku. Aku benar-benar tidak bisa lukiskan rasa syukurku saat ini. Aku bahagia karena orang-orang yang sangat ku sayangi mendapa titik terang dalam penantian hidup mereka.
***
Pekanbaru, 12 Mei 2009 12.19 Wib
Lagi off kerja