Tampilkan postingan dengan label bersambung.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersambung.... Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2011

bukan siti nurbaya capture 17


SESUATU YANG TIDAK BIASA

Ternyata kebersamaan dengan ibu dan Aisyah tidak bisa berlangsung lama. Usai shalat subuh ibu dan Aisyah sudah siap-siap untuk pulang ke Bukittinggi karena Aisyah harus sekolah. Datuk meminta supirnya untuk mengantar mereka sampai ke rumah. Tentu saja ibu menolak, tapi Datuk berhasil meyakinkan mereka sehingga akhirnya ibu bersedia diantar.
Aku bisa meliha raut bahagia di wajah Aisyah. Tentu saja dia senang karena jarang-jarang bisa naik mobil pribadi. Aku jadi gemas melihat adikku itu. Aku berharap suatu saat ibu dan Aisyah bisa tinggal bersama denganku. Tapi tentunya atas izin Datuk. Aku mulai nggak tega membiarkan ibu mengurus rumah dengan kondisinya sekarang ini. Ibu seharusnya menikmati masa tua dengan banyak beristirahat bukannya bekerja. Belum lagi dalam hitungan bulan Aisyah akan kuliah, pastinya nanti ibu akan tinggal sendiri.
Sorot mataku tidak bisa berpaling melepas kepergian ibu. Memang jarak Bukittinggi-Padang tidaklah jauh, hanya 2 atau 3 jam perjalanan. Tapi waktu yang membuat jarak itu terasa sangat sulit ditempuh. Aku bekerja di puskesmas kampung nelayan sampai Jumat siang dan kemudian pulang ke rumahku. Hari Sabtu dan Minggu aku bersama Datuk. Beliau kerap membawaku bertemu dengan teman-teman bisnisnya. Dan sebagai seorang istri aku tidak boleh menolak, meski kadang aku harus memendam dalam-dalam rinduku untuk bertemu orang tuaku.
Kadang aku merasa sangat durhaka. Sebagai seorang anak aku belum bisa membahagiakan orang tuaku. Aku belum bisa membalas apa yang telah dilakukan ibu unukku. Aku masih sibuk dengan kehidupanku sendiri, bahkan saat aku menjadi seorang dokter, aku tidak tau kesehatan ibuku sendiri.
Sementara sebagai seorang istri aku tidak menjalankan tugasku layaknya seorang istri. Diam-diam aku sering merasa bersalah pada Datuk setiap kali aku melihatnya tidur di ruang kerja, lari pagi sendirian dan menghabiskan akhir pekannya dengan bekerja. Seorang suami tentu saja ingin menghabiskan waktu libur dengan menikmati kehangatan bersama keluarganya. Tapi aku malah tidak bisa menjalankan peranku sebagai penyejuk hatinya. Aku malah membuatnya seperti orang asing.
Apakah boleh, menikah karena terpaksa ku jadikan alasan untuk membenarkan semua tindakan ku ini? Apakah boleh aku membayar semua rasa kecewaku atas semua yang telah ditakdirkan Allah padaku dengan cara seperti ini? Aku tau semua ini tidak benar tapi aku tidak tau harus mulai dari mana untuk memperbaikinya.
Usai sarapan Datuk mengantarku ke desa nelayan. Pagi itu Datuk terlihat sangat berseri. Beliau mengenakan kemeja coklat tua dan celana dasar warna hitam. Terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
“Datuk itu berkharisma ya” kata-kata Aida kembali melintas di benakku. Dasar Aida, dia paling bisa menggodaku. Tapi memang benarkan?
“Kenapa kamu senyum Nur?” tanya Datuk mengagetkanku.
Seperti orang yang tertangkap basah aku jadi salah tingkah ditanya begitu. Apakah aku harus bilang kalau aku tersenyum karena mimikirkan dia atau harus mencari alasan lain yang lebih serius? Hah, lebih baik tidak memberi jawaban apa-apa.
“Kamu cantik hari ini,” kata Datuk tiba-tiba.
Apakah aku tidak salah dengar? Datuk barusan memujiku. Lagi-lagi aku salah tingkah. Baru kali ini ada laki-laki yang memujiku seperti itu, dan dia adalah suamiku sendiri. Jadi boleh donk aku sedikit bangga. Ternyata beginilah rasanya dirayu oleh seorang laki-laki.
Hari ini aku mengenakan baju gamis warna biru muda dan jilbab dengan warna senada. Stelan yang sedang ku pakai ini adalah oleh-oleh yang dibawakan Datuk untukku kemarin. Sebenarnya aku sangat suka dan nyaman mengenakan pakaian ini tapi aku sedikit canggung karena aku yakin baju ini pasti mahal. Dan aku tidak terbiasa memekai barang mahal. Tapi rezeki diberikan Allah bukan bertujuan agar kita mengeluh bukan?
Sesampai di depan rumah dinasku, Datuk membukakan pintu mobil dan mempersilahkan ku turun.
“Kamu yakin sudah sehat dan bisa bekerja hari ini?” tanya Datuk.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku benar-benar merasa sudah sehat, lagipula aku tau apa yang harus ku lakukan jika tiba-tiba nanti aku merasa sakit.
“Baiklah kalau gitu, kamu hati-hati dan jangan terlalu lelah. Nanti saya akan menginap di sini,” ujar Datuk.
Belum sempat aku menyetujuinya Datuk sudah menaiki mobilnya dan pergi usai memberi salam. Aneh, bukankah seharusnya hari ini dia berada di rumah istrinya yang lain? Mengapa dia malah mau menginap di rumah dinas yang sangat sederhana ini?
Hari ini banyak warga desa yang peduli padaku. Setiap ada yang berpapasan denganku mereka menanyai keadaanku. Saat aku akan membuang umbang-umbang yang ada di halaman rumah, Bapak Kepala Desa yang kebetulan lewat langsung menolongku. Ibu-ibu tetangga juga datang membawakan buah kelapa muda segar dan ikan yang sudah dimasak. Bahkan Zahara pun ikut-ikutan menjadi sangat over protektif. Saat aku akan mengangkat air galon ke atas dispenser dia langsung mengambil alih dan mengangkatnya sendirian.
“Uni jangan kerja berat-berat, nanti keguguran lho,” ujar Ara.
Aku melongo mendengar apa yang barusan dikatakannya. Keguguran? Siapa yang hamil? Aku jadi bingung.
“Siapa yang hamil?” tanyaku heran.
“Uni?” katanya.
Aku jadi tertawa dibuatnya.
“Jadi kamu kira uni hamil?” tanyaku di sela-sela tawaku.
Dengan muka nggak kalah bingung dia mengangguk.
“Dan ini semua karena kalian berfikir saya hamil?” tanyaku sambil menunjuk kelapa muda dan ikan goreng segar.
Lagi-lagi Ara mengguk.
Aku benar-benar tidak bisa menahan ketawa. Ku raih tangan Ara dan meletakkannya di perutku.
“Nggak buncitkan?” tanyaku menggoda.
“Ih uni kami kira uni hamil karena pingsan kemaren,” tawa Ara pecah begitu menyadari kekeliruannya dan orang desa.
Aku jadi heran, mengapa semua orang jadi membicarakan hal seputar anak. Kemarin Yudha dan ibu, sekarang Zahara dan orang desa. Sepertinya sakit kemarin menjadi arti khusus buat ku. Setidaknya ada yang bisa membuatku tertawa setelah kemarin mengalami hari yang cukup menakutkan.
Hari yang menyenangkan di desa nelayan. Warga desa yang sudah seperti keluar bagiku dan yang tidak ingin ku lewatkan adalah bermain bersama anak-anak pantai, tidak ketinggal ada Rosa di sampingku. Menikmati matahari terbenam sambil bermain, itu tidak pernah terlewatkan dan tidak pula terlupakan. Apalagi kalau ada jagung bakar, hhhmmm nikmat.
“Boleh saya bergabung di sini?” tanya Datuk yang kedatangannya tidak kami sadari.
“Hah tentu” jawabku sambil tersenyum.
Belum sempat Datuk beranjak dari tempatnya berdiri tiba-tiba bola kaki yang dimainkan oleh anak-anak pantai itu mendarat mulus di punggungnya. Datuk tampak kaget dengan kejadian itu, sementara anak-anak yang tadinya ribut juga tak kalah kaget. Ketakutan terlihat jelas di wajah mereka yang polos.
Datuk membalikkan badannya dan mengambil bola itu perlahan. Aku jadi khawatir Datuk akan memarahi mereka. Aku tidak bisa bayangkan kalau hal itu sampai terjadi. Aku makin cemas saat Datuk berjalan mendekati gerombolan anak-anak yang terlihat takut.
“Maaf Pak,” ujar salah seorang diantara mereka dengan suara bergetar.
Tapi ternyata Datuk bukannya memarahi mereka, malah dia ikut bermain dengan anak-anak itu. Bahkan dia tidak kalah heboh dibandingkan mereka. Saat anak dari timnya mencetak gol, dia ikut tos-tosan dengan mereka. Dengan cepat Datuk berbaur dengan anak-anak itu.
“Ternyata Datuk baik juga ya ni,” ujar Ara.
Aku hanya tersenyum sambil memperhatikan Datuk yang semakin asik bermain. Hhmm, kadang aku lupa betapa penyayangnya dia. Bahkan semua orang di lingkungan komplek pun sangat menghormatinya karena keramah-tamahannya. Dia disegani bukan ditakuti.
Entah mengapa matahari sore itu seakan kalah saing dengan Datuk. Buktinya mataku enggan beralih darinya. Apa mungkin karena kemeja coklat tua dan celana dasar warna hitam yang dikenaknnya? Entahlah… Yang jelas dia membuat matakku tidak bisa beralih darinya dan membawa tawa bagi anak-anak itu.
Sesuai janjinya malam ini Datuk menginap di rumah dinasku. Karena kamarnya hanya dua, Datuk tidur di kamarku. Aku canggung sekali berada satu kamar dengannya. Setelah 3 bulan menikah, ini kali ke kelimanya kami tidur satu kamar. Sebenarnya aku ingin mengungsi ke kamar Ara, tapi tidak mungkin karena aku tidak ingin Ara berfikir yang macam-macam.
Datuk tidur hanya beralaskan sebuah tikar karena di kamar ku hanya ada kasur singel. Aku menawarkan Datuk untuk tidur di atas kasur tapi dia menolak.
“Saya mengerti mengapa kamu sangat menyukai desa ini Nur,” ujar Datuk.
Aku tersenyum tipis.
“Tawa anak-anak itu mendamaikan hati. Saya seperti menemukan sebagian diri saya yang hilang.” Datuk menarik napas panjang, matanya menerawan seakan mengingat sesuatu.
“Dulu waktu saya seumuran mereka, saya tidak bisa menikmati kebebasan seperti itu. Bapak mendidik saya dengan sangat keras. Saya dipaksa belajar dan tingkah laku saya pun harus seperti bangsawan pada umumnya. Saya tidak sempat menikmati kebahagiaan masa kecil. Ibu yang sangat memahami saya meninggal saat saya benar-benar sedang butuh seseorang untuk mengadu dan mncurahkan semua isi hati saya. Saat Bapak dan ibu tiri saya mengalami kecelakaan dan meninggal pun saya harus menjalani hidup dengan sungguh karena harus mengurus usaha keluarga agar bisa bertahan hidup dengan Yudha. Yudha yang baru berumur 10 tahun kala itu belum benar-benar memahami apa yang terjadi. Tapi saya bersyukur karena memiliki dia dan bisa melihat dia tumbuh sampai sekarang. Dia adalah alasan terkuat saya untuk menjalani semuanya dengan sungguh-sungguh,” Datuk kembali menghela napas.
”Kamu tau Nur, anak-anak tadi mengingatkan saya pada 17 tahun yang lalu. Saat itu saya melihat segerombolan anak-anak sedang bermain bola kasti di lapangan dekat persawahan. Saya bermaksud mau melihat para petani memanen padi dan tiba-tiba bola itu mengenai kening saya hingga memar. Lalu seorang anak perempuan yang kira-kira berumur 7 tahun dan berambut panjang menghampiri saya. Dia menggulung rambutnya dan menggosokkannya ke kening saya. Gadis kecil itu berkata ’Kalau saya jatuh dan terluka, ibu selalu menggosokkan rambutnya ke luka saya dan setelah itu saya tidak merasa saki lagi.
Datuk menghentikan ceritanya. Sementara aku menatap wajah Datuk lekat-lekat. Lapangan yang diceritakannya itu adalah lapangan tempat aku dan ayah sering singgahi, dan gadis kecil yang diceritakannya itu adalah aku. Datuk membalas tatapanku.
”Saat itu saya merasakan sesuatu dalam hati saya dan saya berdoa semoga kelak gadis kecil itu akan menjadi bagian hidup saya, dan ternyata doa itu terkabul,” ujar Datuk.
Aku tidak sanggup berkata apa-apa dan hanya memandangi wajah Datuk yang tenang.
“Terimakasih Nur, kamu membawa damai dalam hidup saya,” ujar Datuk setengah berbisik.
Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa. Padahal baru saja aku merasa sangat berdosa karena tidak bisa membawa kesejukan baginya. Tapi ternyata Datuk malah merasakan kedamaian bersamaku. Aku makin tidak mengerti dengan sosok yang ada disampingku saat ini. Beberapa saat yang lalu aku masih melekatkan image yang tidak baik padanya. Tapi saat ini aku malah melihat dia sebagai manusia biasa yang punya kelemahan dan butuh orang lain untuk menguatkannya.
Entah kekuatan apa yang mendorongku, perlahan ku raih tangannya dan menggenggamnya erat. Tangan itu terasa lembut dan hangat seakan kasih sayangnya mengalir ke dalam jiwaku. Datuk mengingatkanku pada sosok Ayah yang sudah pergi untuk selamanya namun sering ku rindukan. Genggaman itu membuatku nyaman dan dikuatkan.
Aku merasa sesuatu terjadi di hatiku. Ada rasa ingin selalu dekat dengan Datuk. Rasa yang lebih dari sekedar mengagumi. Ada getaran halus di jiwaku yang dulu juga pernah ku rasakan pada Yudha, tapi kali ini lebih kuat. Ada asa ingin memiliki dan takut untuk kehilangan. Hah, mungkinkah ini cinta? Apakah aku telah jatuh cinta? Dan mungkin inilah yang dirasakan Datuk saat aku membantunya dulu.
***

bukan siti nurbaya capture 14


WHO IS DATUAK..??

Jumat sore Datuk menjemputku lalu membawaku pulang ke rumah kami. Lagi-lagi aku tidak bisa tidur di kamar yang luas itu. Aku duduk di balkon depan kamarku. Dari balkon ini aku bisa melihat halaman belakang yang luas dan pemandangan kota Padang malam hari. Lampu-lampu kota terlihat berkelap-kelip seperti bintang, indah sekali. Lampu yang ada di halaman belakang juga terlihat sangat indah. Taman di belakang rumah itu lebih bagus dari pada halaman depan karena ada kolam yang isinya ikan koi ukuran besar. Warnanya beraneka ragam dan mereka berenang hilir mudik mengelilingi kolam. Seandainya ibu dan Aisyah ada di sini mereka pasti juga akan menyukai pemandangan di sini. Lama sekali aku berada di balkon itu dan baru kembali ke kamarku kira-kira jam 11.00 WIB. Setengah jam kemudian aku baru tertidur.
Keesokan paginya aku bangun dengan tubuh yang segar. Usai shalat subuh aku menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk Datuk. Ternyata di dapur juga sudah ada Bu Zaedar yang sedang beres-beres.
“Ada yang bisa saya bantu Bu?” tanyaku.
“Ah tidak usah dokter, nggak banyak kok yang mau saya kerjakan,” tolaknya halus.
“Biasanya Bapak sarapan apa?” tanyaku lagi.
“Biasanya Bapak makan roti dan segelas kopi. Tapi nanti kira-kira jam setengah sembilan. Selesai shalat subuh Bapak biasanya jalan pagi mengitari komplek ini. Ibu Dokter tidak ikut?” tanya Bu Zaedar.
“Oh tidak…” jawabku.
Bu Zaedar sama sekali tidak tau kalau aku tidak sekamar dengan Datuk. Aku menuju balkon atas depan untuk melihat suasana sekitar komplek. Udara di sini segar sekali dan pemandangannya juga sangat bagus. Jalanan sekitar komplek itu terlihat sepi. Dari jauh aku melihat Datuk sedang berlari-lari kecil sambil sesekali mengayun-ayunkan tangannya. Tidak heran Datuk terlihat bugar dan tubuhnya tidak seperti Bapak-bapak kebanyakan. Tubuhnya masih terlihat tegap dan kekar.
Datuk itu kharismatik ya” kata-kata Aida terngiang di telingaku.
Aku jadi tersenyum sendiri mengingat apa yang dikatakan sahabatku itu. Hah, dia itu ada-ada saja. Aku belum pernah memperhatikan wajah Datuk lebih dari dua puluh detik jadi aku belum menangkap pancaran dari wajahnya. Tidak lama kemudian Datuk telah berada tidak jauh dari rumah kami seiring dengan matahari pagi yang mulai meninggi dan terasa hangat. Aku lihat Datuk sepertinya tengah menikmati matahari pagi itu di sebuah bangku batu di samping gerobak penjual susu kedelai.
Aku kembali ke dapur dan membantu Bu Zaedar mempersiapkan sarapan untuk Bapak.
“Buk, kebiasaan sehari-hari Bapak apa saja?” tanyaku sambil mengolesi selai di roti.
“Kalau pagi selesai shalat Subuh Datuk keliling komplek untuk olah raga, beliau baru pulang pukul delapan kurang lalu mandi. Pukul setengah sembilan beliau sarapan dan berangkat ke kota. Baru pulang lagi sebelum Maghrib, kalau beliau bawa pekerjaan pulang ke rumah, beliau bisa bekerja di ruang kerjanya seharian. Tapi kalau di rumah istri beliau yang lain saya tidak tau,” jelas Bu Zaedar.
Aku manggut-manggut.
“Bu dokter adalah orang yang beruntung bisa menikah dengan Bapak,” ujar Bu Zaedar yang membuatku kaget.
“Kenapa?” tanyaku heran.
Bagiku menikah dengan orang yang lebih pantas menjadi ayahku dan menjadi istri kesekian bukanlah sebuah keberuntungan tapi takdir yang sulit namun harus ku terima.
“Walau istri Datuk banyak, tapi ada-ada saja orang tua yang meminta Datuk menikahi anaknya,” jelas Bu Zaedar membuatku tidak percaya.
“Benarkah?” tanyaku dengan nada ragu.
“Iya, sebulan yang lalu saja ada ibuk-ibuk yang menawarkan anaknya yang baru berumur 20 tahun untuk menikah dengan Datuk, tapi Datuk menolaknya.”
“Kenapa?”
“Saya tidak tau”
“Sebenarnya istri Datuk ada berapa sih Buk?” tanyaku lagi.
“Datuk nggak cerita pada dokter?” tanya Bu Zaedar balik.
“Bapak bilang saya istri kelimanya tapi beliau belum cerita lebih banyak karena saya tidak mempertanyakannya,” jawabku.
Bu Zaedar memperhatikanku dengan tatapan heran.
“Bapak sudah menikah lima kali…” wanita paruh baya itu mulai bercerita.
“Istri Datuk yang pertama sudah meninggal 20 tahun yang lalu saat melahirkan, bayinya ikut meninggal. Dua tahun kemudian Bapak menikah lagi dengan seorang perawan tua dari desa dokter dan mereka memiliki satu anak yang sekarang berumur 15 tahun. Bu Dokter kenalkan dengan Salma?” tanya Bu Zaedar dan ku jawab dengan anggukan.
Salma adalah seorang guru SD yang tinggal di Kapau yang rumahnya sangat bagus itu. Dia baru menikah di umur 30 tahun dan menjadi gunjingan orang kampung karena dianggap perawan tua.
“Ketiga, Datuk menikah dengan seorang janda yang punya dua orang anak, tapi mereka hanya menikah setahun karena ternyata janda itu bukan wanita baik-baik. Dia hanya mengharapkan harta Datuk. Datuk menceraikan dia setelah ketahuan mencuri uang Datuk dalam jumlah yang tidak sedikit. Kemudian Datuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu bekas pegawainya di show room mobil namanya Aryuni. Lalu yang terakhir Bu Dokter,” jelas Bu Zaedar panjang lebar.
Berarti saat ini Datuk hanya memiliki tiga orang istri dan seorang anak kandung. Memiliki harta yang begini banyak tapi hanya memiliki seorang anak kandung dan seorang anak tiri. Sementara orang yang kehidupannya pas-pasan atau susah memiliki banyak anak. Bahkan waktu sekolah dulu aku punya seorang teman yang memiliki 10 orang saudara. Orang tuanya hanya petani biasa dan kehidupan mereka cukup memprihatinkan.
Bagaimana dengan saudara Datuk Buk?” tanyaku lagi.
“Datuk cuma dua bersaudara. Bapaknya orang Belanda dan ibunya orang Minang asli yang berasal dari desa Bu Dokter. Tapi saat Datuk berusia 15 tahun ibu beliau meninggal dan Bapaknya Datuk menikah lagi dengan orang Padang...”
Ya, aku memang pernah dengar tentang itu.
“Adik Datuk bernama Yudha van Bowell dia juga seorang dokter. Yudha adalah adik sebapak Datuk. Jarak umur mereka sangat jauh, 21 tahun. Begitu kedua orang tua mereka mendapat kecelakaan dan meninggal saat Yudha masih berusia 10 tahun, dia dibesarkan oleh Datuk. Alhamdulillah Yudha sudah jadi orang sekarang. Datuk amat sangat menyayangi orang-orang terdekatnya. Bahkan Datuk juga telah banyak membantu saya dan keluarga saya. Saat suami saya tidak dapat pekerjaan, Datuk memberi kami pekerjaan dan membantu biaya sekolah dua orang anak kami,” cerita Bu Zaedar.
Aku benar-benar tersanjung mendengar cerita tentang Datuk. Ternyata beliau adalah seorang yang bertanggungjawab dan sangat menyayangi keluarganya. Hanya satu yang disayangkan imagenya sebagai orang yang doyan kawin sudah terpatri di benak setiap orang.
Tapi sungguh aku sama sekali tidak tau tentang apa yang barusan diceritakan oleh Bu Zaedar. Aku jadi ingin tau lebih banyak tentang suamiku itu. Dengan seksama aku dengarkan setiap cerita Bu Zaedar sampai-sampai aku tidak melakukan apa-apa karena terpana melihat Bu Zaedar bercerita begitu semangat. Terlihat jelas bahwa Bu Zaedar sangat mengagumi sosok Datuk.
Pukul setengah sembilan kurang beberapa menit Datuk telah duduk di meja makan dan memakan roti dan menghirup kopi yang ku buatkan untuknya.
“Hhmm, enak sekali rasanya tidak seperti biasa, apa kamu yang membuatnya Nur?” tanya Datuk padaku yang duduk di sampingnya. Aku menganggukkan kepalaku. Beliau kembali menikmati roti sarapannya dan meminum kopi buatanku hingga habis.
“Apakah nanti siang kamu ada acara?” tanya Datuk padaku.
Aku menggleng.
“Nur maukan menemani saya nanti siang,” tanyanya lembut.
Aku mengangguk.
“Kita akan pergi habis Zhuhur,” kata beliau sambil mencuci tangannya di kobokan yang sudah tersedia. Datuk kemudian beranjak dan kembali ke kamarnya.
Aku bosan sekali berada di rumah sebesar ini. Begitu melihat pintu kamar Datuk aku jadi tergoda untuk melihat apa yang sedang beliau lakukan di dalam kamar itu. Tapi tanganku tertahan begitu akan mengetuk pintunya. Rasanya tidak mungkin aku masuk ke dalam tanpa alasan yang jelas. Untung saja aku mendapatkan akal. Aku segera turun menuju dapur, mengambil segelas air putih dan membawakannya untuk Datuk.
Begitu masuk ruangan itu aku terpana melihat sekelilingnya. Ruangan itu terasa dingin karena ber-AC, di sekelilingnya terdapat rak-rak yang dipenuhi oleh buku. Datuk duduk di belakang meja kerjanya dan sibuk mengotak atik laptop yang ada di depannya. Ternyata ruangan ini bukan kamar tapi pustaka dan ruang kerja Datuk. Tidak ada tempat tidur atau kasur di sana, hanya sebuah sofa panjang yang diatasnya ada bantal dan selimut. Jadi di sanalah Datuk tidur. Aku merasa sangat bersalah. Sementara aku tidur di kasur yang empuk, Datuk tidur di sofa. Alangkah berdosanya aku sebagai seorang istri.
“Nur…” panggil Datuk mengagetkanku. Aku jadi salah tingkah ketahuan melamun.
“Tarok airnya di sini saja,” pintanya dengan suara lembut.
Aku berjalan menuju meja beliau dan menaruh gelas berisi air putih itu di atas mejanya. Lagi-lagi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Lama aku berdiri terpaku di dekat meja Datuk tanpa berbuat dan berkata apa-apa. Aku memperhatikan wajah Datuk yang terlihat sangat serius.
Benar yang dikatakan Aida, Datuk terlihat berkharisma. Wajahnya putih bersih dengan mata yang teduh. Dia terlihat lebih muda dari umurnya walaupun garis wajahnya tetap menunjukkan umurnya jauh lebih tua dariku. Kalau diperhatikan secara seksama beliau memiliki kemiripan dengan Yudha. Dug..., tiba-tiba jantungku berdebar.
“Nur, kenapa berdiri saja? Duduklah,” pintanya mengagetkanku dan lagi-lagi aku salah tingkah dibuatnya.
Dengan wajah yang terasa memanas aku duduk di satu-satunya sofa yang ada di sana. Datuk kemudian menghampiriku dan menyerahkanku setumpuk map.
“Apa ini Pak?” tanyaku.
“Ini semua adalah daftar perusahaan kita,” jawabnya singkat.
Aku memperhatikan map-map itu dengan tatapan heran tanpa berani menyentuhnya.
”Kamu berhak tau apa saja harta suamimu,” ujar Datuk seolah bisa membaca pikiranku.
Aku membuka satu map yang paling atas. Itu adalah berkas kepemilikan Mall yang ada di kota Padang, lengkap dengan surat-surat lainnya. Lalu ku ambil lagi map selanjutnya yang berisi tentang surat kepemilikan 100 Ha kebun sawit di daerah Riau. Begitu juga map-map lainnya. Semua map itu berisikan semua aset milik Datuk, tidak hanya di Sumatera Barat tapi juga ada di Riau. Subhanallah, aku benar-benar tidak menyangka Datuk memiliki harta sebanyak itu. Pantas juga orang-orang berfikir aku menikah dengan pria tua karena harta. Hah, aku benar-benar tidak habis pikir.
***
Dua hari bersama Datuk di rumah kami dan berkunjung ke beberapa tempat, membuatku mengetahui banyak hal tentang suamiku itu. Datuk adalah orang yang ramah pada siapa saja. Tidak ada yang mencolok dari penampilan atau omongannya. Beliau tidak banyak bicara dan bicara yang penting-penting saja. Beliau terlihat akrab dengan siapa saja namun wibawanya sebagai seorang pemimpin tetap terlihat. Beliau juga adalah sosok yang perhatian dan peduli pada orang lain.
Beliau suka makan sayur dan buah-buahan. Dalam mobilnya beliau selalu membawa buah-buahan, terutama apel merah. Datuk membawaku ke beberapa perusahaannya. Beliau memperkenalkanku pada manager dan orang-orang penting lainnya di perusahaan itu.
”Bisa saja nanti jika saya tidak sempat mengecek keadaan di sini, Ibu Nur yang mengecek ke sini, dan saya harap kalian bisa membantu beliau,” ujarnya pada mereka.
Aku hanya tersenyum ketika mereka menoleh ke arah ku. Apa kah itu artinya Datuk mempercayakan perusahaannya padaku? Hah, aku kan tidak punya basic ilmu manajemen.
Sebelum mengantarku pulang ke rumah dinas, aku sempat menemani beliau mengecek salah satu mallnya yang ada di kota Padang, aku melihat sebuah laptop warna putih 10 inci di sebuah toko komputer di dalam mall itu. Aku sudah lama menginginkan sebuah laptop tapi aku belum sanggup membelinya. Apa lagi laptop itu luar biasa mahalnya, Rp 15 juta. Aku jadi ingat puskesmas yang semua datanya masih ditulis secara manual. Alangkah bagusnya jika di sana ada komputer meskipun hanya komputer biasa.
Aku teringat pada kartu debet yang diberikan Datuk padaku tempo hari. Jika aku mau  aku bisa saja membeli laptop atau komputer untuk puskesmas desa nelayan. Begini cerinya, tadi waktu berada di depan Mall, aku mampir dulu ke ATM, rencananya aku mau transfer uang untuk ibu dan adekku di kampung melalui ATM.
Usai mentransfer uang dari ATM ku, iseng ku masukkan ATM yang diberikan Datuk. Begitu aku melihat berapa jumlah saldo dalam ATM itu, berkali-kali aku meyebut nama Allah. Berulang-ulang aku menghitung jumlah nol yang tertera di sana sampai aku yakin dalam rekening itu ada uang sebesar Rp 100 juta. Subhanallah, aku hampir pingsan melihat jumlah uang sebanyak itu. Jangankan Rp100 juta, uang Rp 2 juta saja belum pernah tersimpan dalam rekeningku.
Dengan uang itu aku bisa saja membeli laptop yang kuinginkan bahkan barang-barang yang lain pun bisa aku beli.  Tapi aku tidak mau kehilangan kesederhanaan yang sudah dipupuk sejak aku kecil. Tidak sulit belajar menjadi orang kaya, tapi sangat sulit belajar menjadi orang yang sederhana. Aku tidak akan menghambur-hamburkan uang yang diberikan Datuk padaku.
Begitu sampai di rumah dinasku, Datuk memberikan sebuah kotak yang dibungkus rapi. Begitu beliau meninggalkan rumah dinas kecilku, ku buka kotak itu, ternyata isinya laptop yang ku lihat di mall tadi. Aku tidak menyangka ternyata Datuk mengetahui bahwa aku menyukai laptop itu.
Air mataku jatuh ketika itu juga. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku hanya terpana meliha laptop itu tanpa berani menyalakannya. Dan aku tidak tau apa yang aku tangisi. Apakah ini tangis bahagia atau malah tangis sedih? Sedih karena aku masih belum sadar dan aku lupa mensyukuri rahmat Allah yang memberiku suami yang begitu baik.
***
Pulang dari puskesmas aku teringan Rosa, sudah empat hari aku tidak bermain dengan bocah kecil itu. Usai shalat Ashar aku berkunjung ke rumahnya dan bermain bersamanya di tepi pantai seperti biasa. Dia banyak bertanya kenapa aku jarang mengunjunginya akhir-akhir ini.
“Oca suka kangen sama Ibu doktel karena ibu doktel udah jarang main ke rumah Oca,” ujarnya.
“Maaf ya sayang, Ibuk kan udah punya suami jadi setiap hari Jumat sampai Minggu, Ibu nggak bisa main sama kamu sayang,” jawabku.
“Kalau Ibu udah punya suami belalti bental lagi akan punya dedek donk?” tanyanya lugu.
Aku menjawabnya dengan tawa geli. Anak sekecil dia sudah tau tentang hal itu. Bagaimana mungkin aku punya anak, samapai detik ini Datuk belum pernah menyentuhku. Bagi wanita yang telah menikah itu adalah aib, tapi bagiku itu bentuk ketidaksiapanku menjalani semua ini. Hhhaahh...
Aku kembali teringat janjiku untuk memberikan Rosa kaki palsu agar dia bisa berjalan dan sekolah lagi. Dengan uang yang diberikan Datuk aku bisa saja membelikan kaki palsu buat Rosa kapan saja, tapi aku harus minta persetujuan Datuk. Kalau nanti beliau menjemputku aku akan membicarakan hal ini padanya dan memperkenalkan beliau pada Rosa.
Mata hari terbenam sore itu sangat indah. Sinar jingganya membentur awan membentuk siluet istana yang sangat megah. Sunggh indah dan sempurna alam ini diciptakan Allah SWT.
***

bukan siti nurbaya capture 6


YANG TIDAK KU TAHU

Dua minggu sudah aku berada di desa nelayan dan seminggu sudah setelah peristiwa di ruangan dr Yudha terjadi. Aku tidak penah menghubungi ibu di desa meski beberapa kali Aisyah sms menanyakan kabarku. Begitu juga dengan dr Yudha, aku tidak pernah lagi menemuinya dan diapun sepertinya enggan mengontakku.
Sekuat tenaga ku coba melupakan kejadian itu. Ku sibukkan diriku di desa nelayan hingga tidak ada waktu tersisa untuk memikirkan betapa bodohnya tindakanku.
Hari-hari ku jalani dengan berusaha mengenali seluk beluk desa nelayan dan sekitarnya. Aku suka melihat ibu-ibu menjemur ikan di depan halaman rumah mereka. Walaupun bau amis sangat menusuk hidung tapi aku menikmati setiap kebersamaanku dengan mereka. Aku merasa sudah sangat akrab dengan mereka. Begitu aku memeriksa kesehatan mereka, mereka terlihat sangat senang dan berterima kasih sekali.
Ini ku lakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui tingkat kesehatan warga yang profesi utamanya adalah nelayan. Hasilnya kesehatan mereka cukup baik, masalah terbesar yang mereka hadapi adalah tidak bisa hidup bersih karena belum ada sarana MCK yang memadai. Tidak semua rumah memiliki WC sehingga banyak dari mereka yang memanfaatkan WC umum. Anak-anak juga kebanyakan kekurangan gizi karena mereka tidak makan lauk-pauk yang beragam. Tapi sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tidak jarang warga datang mengunjungiku dan membawakanku kelapa muda atau ikan yang sudah dimasak. Mereka juga memperlakukanku dengan sangat baik. Hal yang paling membuat ku senang adalah Rosa. Kini bocah kecil itu tidak lagi takut pada ku. Walau masih malu-malu dia sudah mulai mau berbicara dan bercerita pada ku. Aku juga sudah memeriksa kakinya. Bekas amputasi kakinya sudah mengering tapi lapisan kulitnya belum bereinkarnasi secara sempurna. Kira-kira beberapa bulan lagi dia sudah bisa memakai kaki palsu agar bisa berjalan dengan lebih baik. Namun aku yakin, orang tuanya tidak akan sanggup membeli kaki palsu yang harganya cukup mahal itu.
“Ibu doktel, Oca dulu pandai menali lho,” cerita Rosa dengan lidahnya yang cadal saat kami sedang berada di tepi pantai sore itu.
“Oya? Nari apa?” tanyaku antusias.
“Tali piling. Oca dulu sering disuruh nali sama gulu,” lanjutnya lagi.
“Pintar…” aku memuji sambil membelai kepalanya.
“Tapi sekalang udah nggak bisa lagi ibu doktel,” raut mukanya langsung berubah menjadi sedih.
“Rosa kan masih bisa menggerakkan tangan?” hiburku dan dia mengangguk pelan.
“Kan dengan menggerakkan tangan saja masih bisa menari, tari indang kan duduk sayang, yang digerakkan cuma tangan kan?” hiburku.
Dia terlihat berfikir sejenak. Ku lihat matanya mulai berbinar menutupi rasa sedih yang tadi menyerangnya.
“Oo iya bu doktel, Oca masih bisa tali indang,” dia tersenyum lebar.
Anak itu terlihat sangat tegar untuk anak seumurnya. Aku saja tidak bisa membanyangkan jika musibah itu menimpa diriku. Aku tidak tau bagaimana akan menjalankan hidup dalam kekurangan seperti Rosa. Aku bersyukur sampai saat ini tidak ada satupun bagian dari tubuh ku yang tidak berfungsi atau sakit. Allah masih melimpahkan nikmat kesehatan padaku.
Sebelum Maghrib Aida datang ke rumah dinasku. Tadi siang dia menelpon dan mengajakku makan malam di luar. Aku jadi geli memikirkannya. Aida itu seperti cowok yang sedang mengincarku untuk melakukan PDKT saja. Dia memberi perhatian dan kenyamanan pada ku. Hahahahahaha….
”Maaf kan aku Da, aku tidak bisa menceritakan padamu tentang apa yang telah ku lakukan minggu kemaren,” bisik hatiku.
Aku tidak ingin ada yang tau peristiwa itu karena itu sangat memalukan buatku. Entah berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk menghapus kenangan buruk dalam hidupku itu.
Selesai shalat kami pun berangkat menuju kota Padang. Aida mengajakku makan jagung bakar di Jembatan Siti Nurbaya. Aku jadi ingat dengan teman-teman di kontrakanku. Kami juga pernah makan jagung bakar di sini sambil bercerita. Waktu itu mereka mempertanyakan namaku. “Kenapa nama kamu Siti Nuraini sih, bukannya Siti Nurbaya,” itu yang selalu dipertanyakan mereka.
Namaku memang bukan Siti Nurbaya tapi sepertinya nasipku hampir sama dengannya. Siti Nurbaya juga dijodohkan dengan orang tua kaya raya yang punya banyak istri. Siti Nurbaya dipaksa menikah oleh orang tuanya, pada hal ia sudah mencintai Syamsul Bahri. Karena tidak mau menerima pernikahan itu akhirnya dia melompat ke laut, bunuh diri.
Perasaanku saat ini sama dengan Siti Nurbaya. Aku merasa sangat putus asa dan tidak tau harus berbuat apa. Tapi aku tidak mau melakukan apa yang dilakukan sosok wanita yang menjadi legenda rakyat Minang Kabau itu. Bagaimanapun Islam mengajarkan bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang sangat terkutuk. Seseorang tanpa dihitung amal ibadahnya akan langsung dilempar ke dalam Neraka Jahanam.
Aku tidak mau bernasip seperti itu. Orang tuaku memberiku nama Siti Nuraini agar aku menjadi salah seorang yang pertama ditimbang amal ibadahnya. Dan Nur artinya adalah cahaya. Mereka juga berharap aku memberi cahaya pada kehidupan mereka. Aku tidak mungkin meredupkan harapan itu dengan perbuatan dosa.
“Aku ada kabar baik Nur,” ujar Aida membuyarkan lamunanku.
“Apa,” tanyaku.
“Semester depan aku akan koas,” ujarnya dengan senyum mengembang.
“Selamat ya,” ujarku tak kalah bahagia.
“Dimana?”
“Di RS M Jamil.”
Hah, itu artinya di RS yang sama denganku dulu dan Aida pasti akan sering bertemu dengan dr Yudha, cinta pertamanya dan juga aku. Bahkan padanya sudah ku ungkapkan perasaanku. Tapi sampai detik ini aku belum mendapatkan jawaban darinya. Dan mungkin tidak akan pernah ada jawaban.
Aku bisa melihat Aida sangat senang sekali. Mungkinkah senyum bahagianya itu akan tetap mengembang seperti ini jika dia mengetahui apa yang telah sahabatnya ini lakukan?
Dulu aku juga merasakan kebahagiaan seperti dia. Bahkan sampai kemarinpun aku masih bahagia, tapi sekarang semuanya sudah hilang. Aku harus membangunnya dari awal lagi atau malah tidak akan pernah bahagia selamanya. Ahh, tidak aku tidak boleh bersedih saat ini. Aku tidak boleh merusak kebahagiaan Aida. Biarlah ini akan tetap menjadi rahasia.
Kami terus bercerita tentang hal yang menyenangkan malam itu sampai aku dikagetkan oleh bunyi HP ku. Ku lihat dilayarnya muncul nomor telpon Ibu. Jantungku berdebar-debar melihat no itu. Aku takut sekali untuk menerima panggilan itu.
“Assalmualaikum,” kataku gugup.
“Waalaikumsalam.” jawab suara Aisyah di seberang sana.
Beberapa hari yang lalu sampai tadi siang adikku itu sering mengirimkan SMS untuk menanyakan kabar dan keberadaanku. Tapi seperti biasa aku tidak pernah membalasnya. Rasa kesalku belum juga hilang dan bagiku menghilang adalah langkah terbaik saat ini.
“Uni, ibu masuk rumah sakit,” suara Aisyah diseberang sana terdengar bergetar.
“Apa? Sakit apa?” aku kaget sekali mendengarnya.
“Belum tau Ni, ibu masih di ruang gawat darurat rumah sakit Achmad Mukhtar. Uni cepatlah pulang, Ai takut uni,” kata Aisyah masih dengan suara bergetar. Aku mengerti betapa takutnya dia saat ini.
“Telpon dari siapa Nur,” tanya Aida heran.
“Aisyah, dia bilang ibu masuk rumah sakit,” jawabku singkat. Aku cemas sekali tapi di saat-saat seperti ini aku tidak boleh panik. Aku akan pulang sekarang juga tapi aku belum tau apakah masih ada bus atau travel ke Bulittinggi.
“Lho kok bengong, ayo,” Aida menarik tanganku. Aku menatapnya bingung.
“Aku yang kan antar kamu ke Bukittinggi,” katanya dan berjalan dengan cepat untuk membayar makanan kami dan langsung masuk ke mobilnya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Sekali lagi Aida membantuku dan ada disaat-saat darurat dalam hidupku. Aku benar-benar tidak tau bagaimana caranya membalas budi baiknya. Aku jadi merasa bersalah pada Aida atas kejadian ”penembakan” minggu lalu. Aku merasa menjadi seorang penghianat. Hatiku jadi gerimis dan mataku terasa panas.
Aida mengebut mobilnya di jalan lintas Padang-Bukittinggi yang tidak begitu ramai. Dengan serius dia meliuk-liukan Teranno hitam itu dan mendahului semua kendaraan yang ada di depannya. Aku tidak bisa memprotes aksi kebut-kebutannya itu karena aku ingin segera sampai di RS tempat ibu dirawat.
Perjalanan yang normalnya dua jam lebih itu, hanya kami tempuh dalam waktu satu jam lebih. Memang nggak salah cerita Tante Yuni, mama Aida yang mengatakan bahwa waktu SMU Aida adalah pembalap dan sering ikut balapan liar di jalan dekat Pantai Padang. Aida sempat mengecap kehidupan anak-anak bandel Padang. Tapi untunglah kemudia dia sadar dan menjadi jauh lebih baik setelah mamanya jatuh sakit. Aida meninggalkan kehidupan hura-hura demi kesembuhan mamanya.
Dia meninggalkan egonya demi orang yang telah melahirkan dan dengan tangan sucinya telah membimbing Aida hingga menjadi seperti sekarang. Apakah aku juga harus membuang ego ku demi kesembuhan ibu? Entahlah...
 Kami langsung berlari menuju unit gawat darurat. Ku lihat Aisyah duduk tertunduk di kursi di depan kamar gawat darurat yang tertutup rapat.
“Ai…” panggilku dan dia langsung menghambur ke dalam pelukanku.
“Ibu uni, Ai takut terjadi apa-apa sama ibu,” Aisyah terisak di bahuku.
“Tenang lah, kita berdoa aja ibu nggak apa-apa,” aku menenangkannya.
Walaupun aku adalah seorang dokter tapi aku juga tidak bisa menghilangkan rasa cemas yang menyesak di dadaku. Air mataku juga ikut mengalir karena aku sangat mengkhawatirkan keadaan ibu.
Setengah jam kami menunggu di depan kamar itu sampai akhirnya seorang suster keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana keadaan ibu saya suster?”
“Ibu anda akan segera dipindahkan ke kamar perawatan dan silakan selesaikan administrasinya di kasir depan,” ujar suster itu dengan wajah dingin.
Aku sedikit kesal mendengar kata-kata suster itu. Apakah begini RS memperlakukan keluarga pasiennya. Bukannya menenangkan keluarga si pasien tapi malah meributkan soal administrasi. Aku langsung menuju ke ATM yang terletah tidak jauh dari kasir, sedangkan Aida tetap disana menemani Aisyah. Kulihat saldo yang ada di ATM ku hanya Rp 1 juta.
Untunglah uang itu cukup untuk membayar administrasi. Usai membayar administrasi aku kembali ke tempat Aisyah dan Aida berada. Begitu dokter keluar dari ruangan itu, aku langsung menanyakan keadaan ibu.
“Ibu anda terkena serangan jantung,” kata dokter itu singkat.
Aku langsung lemas mendengarnya. Sedangkan Aisyah langsung menangis tersedu-sedu. Aida berusaha menenangkan Aisyah.
“Kami sudah berusaha semampunya, berdoa saja semoga ibu anda bisa melewati masa-masa kritisnya,” lanjutnya lagi.
Aku merasa tubuhku lunglai. Aku kembali teringat Ayah, mengapa sakit yang sama juga menimpa ibu? Aku takut ibu juga akan berakhir seperti ayah. Aku belum siap kehilangan ibu, aku belum mau kehilangan beliau. Aku tidak ingin ibu pergi untuk selamanya dan meninggalkanku dalam kedurhakaan.
”Ya Allah, apa saja akan ku lakukan demi kesehatan ibu,” pintaku pada Illahi.
Hanya pertolongan-Nya yang bisa menyelamatkan ibu saat ini dan Dia adalah sebaik-baiknya tempat meminta dan berharap.
Usai shalat dan berdoa, aku kembali ke ruang ICU tempat ibu berada. Terdengar suara tik tik tik dari mesin penghitung denyut jantung yang ada di samping kiri tempat ibu terbaring. Di muka ibu terpasang alat bantu pernapasan dan 2 buah jarum infuse tertancap di lengannya. Ibu terbaring lemah disana.
Aisyah duduk disamping ibu dan air mata terus mengalir di pipinya yang mulus. Aku menghampiri Aisyah dan memeluk adikku itu.
“Uni, apakah ibu akan bernasip seperti ayah?” tanya Aisyah serak.
“Kita berdoa aja agar ibu sehat ya Dek,” jawabku mencoba menghiburnya dan menghibur diriku sendiri.
Aisyah menatapku, lalu dia berlari ke luar ruangan itu. Ku perhatikan wajah ibu yang tenang dengan mata yang tertutup rapat. Apakah dalam perjuangan antara hidup dan matinya ibu akan menang memperjuangkan hidupnya? Apakah ini saatnya aku akan kehilangan satu-satunya orang tuaku yang tertinggal?
“Nur dan Ai masih membutukan ibu, kami masih ingin ibu menemani kami. Ibu berjuanglah untuk kembali pada kami,” bisikku di telinga ibu.
Aku berharap ibu mendengar bisikanku. Ku ambil Al-Quran yang ada di dalam tasku dan membaca surat Al Ambiya dengan setengah berbisik.
***
Aku dapati Aisyah sedang menangis di depan kamar rawat ibu. Dia menunduk dan memainkan jari-jarinya. Aku memegang bahunya lalu duduk di sampingnya.
“Apa ibu sudah sadar uni?” tanyanya.
Aku menggeleng menatapnya dengan penuh kasih. Aku mengerti perasaan adikku itu. Aku pernah merasa begitu takut saat ayah juga berada dalam keadaan ini. Dan saat itu ibu meyakinkan ku bahwa ayah akan baik-baik saja.
“Ai, kenapa ibu bisa kena serangan jantung? Apakah ada orang yang menyakiti hati beliau?” tanyaku hati-hati.
Aisyah menggeleng. Dia menyeka air mata yang mengalir di pipnya yang bersih.
“Sejak uni pergi ibu sering melamun. Ibu jadi jarang makan dan beliau terlihat sangat sedih,” Ai bercerita.
Astghfirullah, ternyata akulah orang yang telah menyakiti hati ibu sehingga beliau sakit seperti sekarang. Rasa bersalah menyesak di dadaku dan aku benar-benar tidak bisa mengatasinya. Mataku tiba-tiba jadi panas.
“Dulu waktu uni kuliah, ibu makin sering bekerja di sawah orang-orang desa. Banyak orang yang menggunjingkan ibu. Mereka bilang ‘jaleh-jaleh miskin, sok-sokan pulo nak manguliahan anak, suruah lah si Nur tu baranti kuliah tu balaki bia ndak manjadi baban’. Hampir setiap hari ibu dikatai seperti itu oleh orang-orang kampung. Tapi ibu tidak pernah ambil pusing dan terus bekerja. Ibu selalu bertanya pada Ni Memet apa-apa saja yang dibutuhkan oleh mahasiswa kedoktean karena dulu dia juga kuliah kedokteran. Dari Ni Memet ibu tau kalau uni butuh banyak uang untuk beli buku dan bayar ini itu. Ibu mencari pinjaman uang untuk dikirim ke uni, tapi nggak ada yang mau meminjamkan uang pada ibu, kalau dapat pinjaman pastilah sebelumnya ibu dikatai. Sampai pada saat uni mau koas, ibu kembali mencoba meminjam uang tapi sudah tidak ada yang mau meminjamkan ibu karena hutang yang sebelumya belum lunas. Akhirnya ibu mencoba meminjam uang pada Datuk Bandaro Kayo. Ternyata Datuk mau meminjamkan ibu uang, bahkan setelah mendengar cerita ibu, beliau memberikan dua petak sawahnya untuk dikerjakan oleh ibu. Dia yang menyediakan benih dan pupuk, tapi saat panen dia sama sekali tidak meminta bagian dari hasil panen itu. Dia memberikan semuanya pada ibu. Kita berhutang budi banyak pada Datuk uni,” cerita Aisyah.
Aku merasa sedih sekali mendengar cerita Aisyah. Aku tidak tau segitu susahnya ibu untuk membiayai kuliahku. Ternyata ibu menerima lamaran Datuk untukku bukan karena ingin harta orang kaya itu tapi untuk membals semua budinya. Kalau aku berada di posisi ibu mungkin aku akan melakukan hal yang sama karena hutang uang bisa dibayar tapi hutang budi akan dibawa mati.
Jika Aida memintaku untuk mengorbankan sesuatu yang berharga untuk membalas semua budinya padaku aku juga akan memberikannya. Jika ibu hanya berhutang uang atau materi pada Datuk aku akan bekerja keras untuk melunasinya. Tapi hutang budi tidak bisa diukur dan dibayar dengan materi.
Dan aku sudah sangat egois melawan permintaan ibu bahkan menyalahkannya. Beliau saja mengorbankan hartanya yang sangat berharga untuk membalas budi orang lain yaitu aku. Lalu mengapa aku yang bisa menjadi seperti sekarang karena ibu tidak mau sedikit berkorban untuknya. Bahkan apa yang aku korbankan belum tentu cukup untuk membalas setitik air susunya. Aku merasa sangat berdosa pada ibu. Aku merasa sangat durhaka pada perempuan yang sudah melahirkan aku ke dunia ini.
“Seandainya Ai bisa, Ai akan menggantikan uni untuk membuat ibu sehat kembali,” bisik Aisyah lirih.
Aku memeluk adikku itu dengan erat. Aku sangat malu padanya. Aku jauh lebih tua darinya, tapi saat ini aku merasa jauh lebih kecil darinya. Dia saja sudah bisa berfikir untuk melakukan itu untuk ibu, kenapa aku tidak. Aku benar-benar merasa bersalah pada ibu dan Aisyah. Aku merasa tidak pantas menjadi bagian dari orang-orang yang baik hati seperti mereka.
“Ibu kalian pasti sembuh,” tiba-tiba Aida datang dan ikut memeluk kami.
***
Pagi yang cerah di kota Bukittinggi. Matahari pagi kembali hadir memenuhi janjinya untuk menyinari alam semesta. Sinarnya menghangatkan pagi yang beku di kota kecil yang dikelilingi bukit itu.
Pagi ini benar-benar cerah, secerah wajah Aisyah begitu ibu sadar karena telah berhasil melewati masa-masa kritisnya. Aku memasuki kamar tempat ibu dirawat. Meskipun samar aku bisa melihat senyuman tersungging di bibirnya yang kering. Aku menggenggam tangan ibu dan menciuminya.
“Maafkan Nur karena sudah bikin ibu jadi seperti ini,” kataku dengan air mata penyesalan.
Ibu membelai kepalaku dan aku bisa rasakan tangannya sama sekali tidak punya tenaga. Beliau sangat lemah dan kekuatannya sama sekali telah luruh.
“Kamu tidak salah nak, ibu yang seharusnya minta maaf,” bisiknya terbata-bata.
Aku menggeleng dan membungkuk memeluknya. Aku merasakan air mata ibu di pipiku. Ku pandangi wajah ibu yang dipenuhi oleh keriput dan terlihat sangat lelah. Ku seka airmatanya dan ku kecup keningnya dengan penuh rasa cinta.
“Ibu, Nur akan menikah dengan Datuk kapanpun waktu yang ibu tetapkan,” kataku mantap.
Ya, aku sudah berfikir dan bersimpuh di hadapan Sang Khalik semalaman dan aku sampai pada keputusan untuk menikah dengan Datuk. Aku sudah mantap dengan keputusan ini dan aku tidak akan menyesalinya. Aku mengambil jalan yang berbeda dengan Siti Nurbaya karena itu namaku Siti Nuraini.
“Tidak nak, ibu tidak mau memaksamu,” kata ibu sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Nur sama sekali tidak terpaksa bu. Nur akan lakukan apa saja agar ibu sehat dan bahagia. Insyaallah, jodah dari ibu adalah jodoh dari Allah juga,” ujarku mantap.
Air mata ibu kembali menetes dan kami kembali berpelukan.
“Ibu harus banyak istirahat dan cepat sembuh supaya bisa menjahitkan kebaya untuk pernikahan Nur nanti,” kata ku lagi.
Ibu mengangguk dan tersenyum. Senyuman ibu kali ini lebih jelas dan sangat manis. Aku kembali bisa melihat kecantikan ibu. Ya, sisa-sisa kecantikan ibu masih terpancar dari wajahnya yang sudah mulai keriput.
“Nur, kamu benar-benar mau menikah dengan Datuk?” tanya Aida begitu kami keluar dari kamar rawat ibu.
Aku menjawabnya dengan anggukan tanpa keraguan sedikitpun.
“Nur, aku bangga punya sahabat seperti mu,” Aida memelukku.
“Apakah keputusanku tepat Da?” tanyaku.
“Jodoh dari orang tua adalah jodoh dari Allah, restu orang tua adalah restu Allah. Kamu harus iklas Nur,” Aida menenggam tanganku.
***

bukan siti nurbaya capture 5


GUNDAH

Aku mempercepat jadwal pengabdianku di desa nelayan yang menurut rencana baru akan dimulai 10 hari mendatang. Karena masih belum waktunya, begitu aku datang ke desa itu, rumah dinas yang akan aku tinggali belum dibersihkan warga. Berkali-kali Pak Samsuri minta maaf padaku karena mereka belum membersihkan rumah itu. Aku hanya tersenyum karena ini bukan salah dan kemauan mereka. Aku yang tidak menepati waktu. Saat ini aku hanya ingin sendiri untuk berfikir lebih jernih.
Banyak warga desa nelayan yang membantuku membersihkan rumah itu. Aida juga datang untuk membantu kepindahanku dari rumah kontrakan. Tidak ada meja makan, kursi tamu apalagi tempat tidur dan perabotan lainnya di rumah itu. Aku baru bisa mengisinya dengan barang-barang yang ku punya semasa kuliah dulu. Kompor, lemari pakaian dan kasur. Untunglah ada warga yang berbaik hati memberiku dua buah tikar untuk dijadikan alas.
“Sepertinya kamu bakal kesepian di sini Nur karena tidak ada apa-apa,” ujar Aida begitu rumah itu sudah bersih dan semua orang yang membantuku sudah balik ke rumah mereka masing-masing.
“Gak apa-apa Da, Insyaallah nanti kalau aku sudah dapat rejeki aku akan beli beberapa perabotan,” jawabku.
Untuk saat ini aku belum mengeluhkan kondisi rumah ini. Ada hal lain yang lebih mendominasi pikiranku yaitu perjodohan ku dengan Datuk tua itu. Hatiku benar-benar diselimuti rasa marah dan sedih. Itu bukan sekedar lamaran lagi tapi perjodohan yang akan merenggut seluruh kebahagiaan dan kebanggaan yang aku punya. Aku kuliah kedokteran dan lulus sebagai mahasiswa terbaik dan dokter termuda, semuanya terasa tidak berguna sekarang. Semuanya hancur, aku sudah tidak merasa berarti lagi saat ini. Ternyata nasipku tidak jauh berbeda dengan Siti Nurbaya.
“Hey kok melamun,” Aida mengibaskan tangannya di depan wajahku.
Aku hanya menunduk di depan sahabatku itu. Aku ingin sekali bercerita dan mengadu padanya, tapi aku tidak tau harus mulai darimana. Tanpa ku sadari air mata mengalir begitu saja membasahi pipiku. Aku benar-benar merasa sangat sakit saat ini. Aida memelukku erat, dan untuk sejenak aku merasa sangat tenang dalam pelukan sahabatku itu. Lama sekali aku menangis dalam pelukannya. Sampai akhirnya aku bisa meredam tangisku.
“Udah mau cerita?” tanya Aida lembut dan menyodorkan aqua gelas padaku.
Lama aku terdiam sampai akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi saat aku berada di desa sampai aku memutuskan untuk mempercepat jadwal praktekku di desa nelayan ini. Aida mendengarkan ceritaku dengan seksama dan penuh perhatian. Matanya juga berkaca-kaca mendengar cerita di tengah isakanku. Dia menggenggam tanganku erat.
“Ibu ku jahat Da. Dia menerima lamaran itu tanpa persetujuanku,” aku kembali menangis tersedu-sedu.
“Istighfar Nur, tidak ada orang tua yang berniat jahat pada anaknya. Tidak ada orang tua yang mau hal buruk menimpa anak yang sudah dilahirkan dan dipeliharanya hingga besar. Dan nggak mungkin Ibu tega menyakiti anak yang paling disayangi dan dibanggakannya Nur,” Aida menasihatiku.
“Pasti ada alasan mengapa ibu mu menerima lamaran itu sebelum minta persetujuan mu Nur,” lanjutnya.
Aku tidak tau harus berkata apa. Aku benar-benar tidak bisa berfikir dengan jernih saat ini. Aku tidak bisa melihat sisi baik dari perjodohan yang tidak wajar ini.
“Nur, kamu ingatkan kemarin kamu bilang mempercayakan jodoh kamu pada ibu?” tanya Aida.
Ya aku memang pernah bilang seperti itu pada ibu, tapi bukan dengan laki-laki yang lebih pantas jadi bapakku dan punya banyak istri.
“Da, kamu nggak ngerti. Aku bisa terima jika saja yang dijodohkan denganku bukan orang tua yang sudah punya istri. Aku nggak mau jadi istri yang kesekian Da,” aku memelas meminta agar dia lebih memihak padaku.
“Nur, aku ngerti perasaan kamu. Jangankan laki-laki yang sudah punya istri, tentunya yang masih bujangan pun kita ingin mengenalnya terlebih dahulu. Tapi aku yakin, kali ini ibu kamu pasti punya alasan yang sangat kuat sehingga menerima lamaran itu. Sebaiknya kamu membicarakan hal ini lagi dengan ibu,” Aida menasihatiku.
Entahlah, aku benar-benar bingung. Rasanya berat sekali buatku untuk bicara dengan ibu sekarang. Ada sisi hatiku yang merasa sangat marah pada ibu. Dari kecil aku tidak pernah menolak permintaan ibu, aku belum pernah menentang beliau tapi kali ini aku benar-benar kehilangan itu semua. Aku ingin sekali memberontak. Aku ingin menentukan jalanku sendiri kali ini saja karena akulah yang akan menjalankannya kelak.
Tapi apakah aku masih bisa menolak? Apakah aku masih punya pilihan? Aku tidak tau, hatiku benar-benar galau. Aku ingin sekali melarikan diri sejauh mungkin dari persoalan ini. Aku ingin sekali berhenti jadi diriku. Untuk pertamakalinya aku merasa benci jadi diriku. Aku ingin berganti posisi dengan orang lain yang nasipnya tidak sepertiku.
Ya Allah apakah aku tidak boleh memilih jodohku sendiri?
***
Aku berjalan menyusuri Pantai Bungus di sore yang cerah ini. Beberapa orang nelayan terlihat mulai sibuk mempersiapkan kapal mereka untuk melaut. Anak-anak dengan riang bermain bersama-sama di pasir yang sedikit memutih. Pasir pantai bungus adalah pasir yang paling bagus menurutku. Warnanya lebih terang dari pada pasir yang ada di pantai lainnya di sepanjang kota Padang. Ombaknya juga tidak terlalu besar. Di ujung pantai yang berbatasan dengan jalan raya tumbuh pohon yang rindang dan beberapa pohon kelapa.
“Ibu dokter, mau kemana?” seorang wanita yang kira-kira tidak terlalu tua dariku menegur dengan suara yang keras. Dia bukannya sedang marah, tapi orang yang tinggal di pesisir pantai memang suaranya lebih keras dari pada orang yang tinggal di kota atau daerah pegunungan. Ini karena mereka harus bertarung dengan suara ombak agar suara mereka terdengar.
Aku menghampiri wanita yang tengah memungut ikan yang tadinya dijemur di atas seng depan rumahnya.
“Ini uni lagi jalan-jalan sore,” jawabku sekenanya.
“Dokter sendirian?” tanyanya lagi.
“Iya uni, perawat yang akan kerja bersama saya di puskesmas baru akan datang senin depan,” jelasku.
“Ooo… Dokter belum menikah?” tanyanya lagi tetap sibuk dengan ikan-ikannya.
Aku terdiam mendengar pertanyaan uni itu. Pertanyaannya itu seperti memaksaku mengingat kembali semuanya. Aku kembali ingat kata-kata Nyiak Tuo dan Ibu. Aku sakit sekali mengeingat itu semua.
“Belum,” jawabku singkat.
“Kalau calon sudah punya kan dokter?” tanyanya lagi.
Lagi-lagi aku terdiam. Aku tidak mungkin menjawab bahwa aku sudah dijodohkan dengan seorang laki-laki paruh baya dan sudah punya beberapa istri. Sebentar lagi aku akan menambah panjang deretan istrinya. Tidak, aku tidak mungkin mengatakan hal itu.
“Permisi dulu ya uni, saya mau lihat-lihat daerah sini,” aku segera berpamitan agar terhindar dari pertanyaan selanjutnya. Aku terus berjalan mendekati tempat segerombolan anak-anak yang sedang asik bermain bola kaki di atas pasir. Aku duduk di pohon kelapa yang sepertinya sudah lama tumbang dan dibiarkan tetap disana karena bisa dijadikan tempat duduk.
Angin sepoi-sepoi berhembus menebarkan bau air laut. Jilbabku juga ikut bergoyang mengikuti hembusan angin. Aku merasa damai sekali berada di tempat ini. Aku ingin sekali perasaan tenang dan damai seperti ini terus ada dalam hatiku. Ku arahkan pandanganku ke batas cakrawala. Sang mentari dengan perlahan menuju ke batas itu.
Sesekali ku alihkan pandanganku pada anak-anak yang sedang asik bermain bola kaki di atas pasir. Teriakan mereka membuat suasana sore itu makin ceria. Saat aku akan berpaling kembali ke arah laut aku menangkap sosok seorang anak perempuan yang bertumpu pada tongkat yang ada di tangan kanannya. Sepertinya dia juga sedang memperhatikan ku. Aku tersenyum kepadanya, tapi dia terus memandangku tanpa ekspresi.
Tanpa ku sadari dan juga tanpa dia sadari, tiba-tiba bola yang dimainkan oleh segerombolan anak tadi mengenai kepalanya dan diapun tersungkur. Aku segera berlari menghampirinya. Anak perempuan itu meringis kesakitan. Aku memeriksa kepalanya dan Alhamdulillah tidak ada yang luka.
Seorang wanita datang dan langsung memegang anak perempuan itu.
Itulah, kan alah amak katoan, hati-hati,” kata wanita itu sambil memeriksa anak perempuan itu dengan rasa cemas.
Ternyata wanita kurus berkulit hitam karena terbakar matahari itu adalah ibunya anak perempuan itu.
“Dia nggak apa-apa kok uni,” aku menenangkan wanita itu.
Wanita itu tersenyum padaku. “Adek dokter puskesmas itu kan?” tanya si wanita itu. Aku mengangguk untuk mengiyakan.
“Nama anak uni siapa?”
“Rosa.”
Ternyata anak perempuan itu bernama Rosa. Kalau dilihat, Rosa adalah anak yang manis. Kulitnya putih tapi ada beberapa bekas luka di kaki dan tangannya. Rambutnya panjang dan pirang seperti rambutku waktu kecil.
Tanpa ku tanya, Uni Ratna ibunya Rosa bercerita mengapa ada begitu banyak bekas luka di tubuh Rosa. Setahun yang lalu bocah yang berusia 8 tahun itu ditabrak mobil. Dia terluka parah dan tulang kakinya patah. Karena tidak punya cukup uang Rosa tidak dirawat intensif di rumah sakit sehingga lukanya membusuk kaki kanan rosa terpaksa diamputasi. Sejak itu kemana-mana dia harus pakai tongkat. Dia jadi tidak bisa bermain lagi dengan teman-temannya. Rosa juga berubah menjadi anak yang pendiam dan tidak mau sekolah karena dia sering diledekin oleh teman-teman sekolahnya.
Aku menangkap sorot mata Rosa yang dingin. Waktu aku mengajaknya bicara Rosa hanya diam dan tidak mau bicara sepatah katapun.
“Dia memang begitu, takut pada orang baru. Kadang-kadang mendengar suara bus yang agak keras, dia langsung berteriak dan menangis ketakutan,” cerita uni Ratna.
Aku jadi sedih mendengar cerita tentang anak malang itu. Aku tau memang susah menghilangkan trauma dari diri seseorang, apa lagi anak kecil. Hal itu diperparah karena kecelakaan itu telah merenggut sesuatu yang sagat berharga dari dirinya. Hal itu juga mengakibatkan dia kehilangan teman-teman bermainnya.
Dan sepertinya rasa kehilangan susuatu yang sangat berharga akan menimpaku. Dan rasa sedih yang dirasakan Rosa akan ku rasakan juga. Hidup bersama orang yang sama sekali asing bagi ku.
Aaaaaaaarrrrrrrgggggghhhhhh.......
Saat hatiku gundah aku jadi tidak bisa berfikir secara jernih. Aku hanya ingin lari dari kenyataan ini. Aku ingin lepas dari semua derita yang mendera jiwaku. Keputusan ibu benar-benar telah merenggut seluruh kebahagiaanku. Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa membawaku pergi jauh dan mengusir Datuak Bandaro Kayo dari hidupku.
Entah mengapa saat ini aku teringat pada dr Yudha. Ku harap padanya ku temukan sebuah penyelesaian atas semua rasa gundahku. Aku benar-benar kalut dan aku sudah tidak tau lagi mau mengadu pada siapa. Aku tidak mungkin selalu mengeluh pada Aida. Aku sudah tau apa yang akan dikatakan Aida.
Dengan segenap keberanianku, aku mendatangi RS M Jaamil untuk menemui dr Yudha keesokan harinya. Saat memasuki ruangannya aku tidak melihat sosoknya ada di sana. Hanya ada seorang suster yang sedang sibuk melaksanakan tugasnya. Saat aku bertanya tentang keberadaan dr Yudha padanya dia mempersilahkanku duduk dan menunggu dr Yudha karena dia sedang memeriksa pasien rawat inap dan akan kembali beberapa menit lagi.
Hawa dingin dari pendingin ruangan yang cukup besar itu tidak cukup untuk menyejukkan hatiku yang sedang galau. Aku hanya ingin bertemu dr Yudha secepatnya. Untunglah tak lama kemudian dia datang dan ku lihat dia sedikit kaget melihat keberadaanku.
”Nur, apa kabar? Ada apakah gerangan kamu datang ke sini?” tanyanya.
Aku menatapnya sesaat dan aku bisa lihat ada keheranan di matanya. Seketika aku diselimuti rasa bimbang, haruskah aku membicarakan tentang hal ini pada dr Yudha? Solusi apa yang akan diberikannya? Bagaimana aku memulai kisahku padanya?
”Aku rasa dia menaruh hati juga sama kamu” kata-kata Aida terngiang kembali di benakku. Jika memang dia menaruh hati padaku mungkin saja dia bisa membantuku keluar dari masalahku.
”Kok diam Nur? Kamu baik-baik saja? Apa ada masalah di kampung nelayan?” tanyanya bertubi-tubi karena dari tadi aku hanya diam.
Aku menarik nafas panjang dan kembali meyakinkan diriku bahwa apa yang akan ku minta padanya adalah jalan keluar terbaik.
”Dokter, apakah dokter mau menikahi saya?” tanyaku dengan suara bergetar dan pada akhirnya hanya itu yang bisa langsung ku katakan tanpa ada kisah sebelumnya.
Seluruh alam terasa terbalik. Adat minang mengajarkan seorang wanita untuk tidak gampangan. Wanita sama sekali tidak pantas mengungkapkan perasaan lebih dulu. Itu sangat memalukan dan bahkan akan menjadi aib bagiku. Tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain hal ini.
Dokter Yudha sepertinya shock mendengar pertanyaan sekaligus permintaanku. Lama aku menunggu jawaban darinya, tapi detik demi detik terasa sangat lama untuk sebuah jawaban iya atau tidak. Aku mulai meragukan kata-kata Aida bahwa dr Yudha menyukaiku.
Detik itu telah berganti menit dan dr Yudha belum juga memberi jawaban. Dia hanya terpaku menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan. Hatiku hancur seketika. Bukannya jawaban atas rasa gundah yang ku dapatkan tapi satu lagi beban dan rasa malu yang harus ku tanggung. Aku berbalik dan berlari keluar ruangan dr Yudha. Aku benar-benar melakukan tindakan bodoh. Ku kira akan mendapatkan sedikit cahaya terang dengan bicara pada dr Yudha, orang yang ku cinta. Tapi ternyata tidak.
Sepanjang perjalanan pulang ke kampung nelayan aku tidak henti mengutuk tindakan bodoh yang baru saja ku lakukan. Aku benar-benar merasa bodoh dan sangat putus asa. Air mataku tidak bisa ku bendung. Hatiku benar-benar tengah dihantam badai yang memporak-porandakan ketegaranku.
***