Tampilkan postingan dengan label bersambung..... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersambung..... Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2011

bukan siti nurbaya capture 20


RAHASIA ITU TERKUAK
            Dengan langkah seribu aku menuju ke kamar rawat Datuk, sore ini Datuk sudah boleh pulang. Begitu sampai dikamar rawat Datuk, aku meliha suster yang biasanya bertugas membantu dr Yudha sedang merapikan barang-barang Datuk. Dia tersenyum ramah begitu melihat kedanganku. Mungkin dr Yudha memintanya untuk membantu Datuk beres-beres. Sementara Datuk berdiri di dekat jendela dan memandang ke arah luar. Entah apa yang sedang dilihatnya, sampai-sampai dia tidak menyadari kedatanganku.
”Barang-barangnya sudah siap Bu,” kata suster itu.
”Terimakasih ya,” kataku sambil tersenyum.
Suster itupun berlalu meninggalkan kamar Datuk.
Ku hampiri Datuk dan menyentuh bahunya. Dia terlihat kaget dengan kedatanganku. Ku lihat wajahnya tidak secerah saat dia tau bahwa dia akan segera pulang, wajanya terlihat kaku dan dingin.
”Suster sudah selesai membereskan barang-barangnya, ayo kita pulang,” ajakku. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Datuk langsung duduk di kursi roda yang ada di sampingnya. Ku dorong korsi roda itu perlahan tanpa berkata sepatah katapun. Aku bigung dengan sikap Datuk. Aku belum pernah melihat Datuk sedingin ini. Pak Ujang yang mengangkat barang-barang mengikuti kami dari belakang.
Tadinya ku pikir Datuk bersikap dingin seperti itu karena beliau merasa kurang sehat. Tapi sudah tiga hari ini beliau tidak begitu banyak bicara denganku. Beliau juga menolak saat aku mengajak beliau tidur di kamar yang sama denganku. Pada hal aku telah memindahkan selimut dan bantal yang biasa dipakainya ke kamar ku dan juga akan jadi kamar kami. Tapi dia malah kembali memindahkannya ke ruang kerja. Datuk benar-benar terlihat murung dan tidak bersemangat seperti biasa.
Suatu sore saat Datuk sedang duduk sambil membaca buku di balkon, aku memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
”Pak, ini Nur bawakan teh hangat,” ujarku dan kemudian duduk di kursi yang ada di samping Datuk.
”Terimakasih,” ujarnya tanpa menoleh sedikitpun padaku.
Lama aku duduk membisu karena tidak tahu harus memulaii pembicaraan kami dari mana.
”Pak....” panggilku dengan suara bergetar.
Ku kumpulkan semua keberanianku untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia begitu murung sejak pulang dari RS.
”Bolehkah Nur tau kenapa beberapa hari ini Bapak terliha sangat murung?” tanyaku masih dengan suara bergear.
Keasikan Datuk membaca sepertinya terusik dengan pertanyaanku. Dia mengalihkan pandangannya jauh ke depan. Untuk beberapa saat keheningan tercipa diantara kami.
”Apakah kamu menyesal menikah dengan saya, Nur?” tanyanya tiba-tiba dengan suara datar.
Aku terperanjat mendengar pertanyaan Datuk. Sikap dinginnya yang membuat rumah ini terasa diselimuti awan tebal, kini seakan dihantam badai salju. Aku merasa sedih dan hatiku tersayat-sayat mendengar pertanyaan itu.
”Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” tanyaku dengan suara bergetar.
”Nur.... Mengapa kamu tidak pernah kasih tau saya kalau kamu mencintai orang lain?” tanyanya lagi.
Aku benar-benar kaget mendengan apa ang baru saja dikatakan Datuk. Aku tidak bisa berkata apa-apa, lidahku terasa kelu dan kaku. Mengapa harus sekarang dia mengetahui hal ini. Mengapa tidak dari dulu saat diantara kami belum ada ikatan apa-apa. Mengapa setelah kami menikah dan saat aku telah catuh cinta padanya.
”Mengapa kamu tidak pernah memberitahu saya bahwa kamu menyukai Yudha,” kata Datuk lagi dengan suara makin bergetar.
Air mataku meleleh, butiran bening itu juga ku lihat menganak sungai dimata Datuk. Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Tidak tau apa yang terjadi aku berlari menuju jalan komplek itu. Untunglah tidak jauh dari rumahku ada taxi yang sedang berhenti. Dengan spontan ku minta sang sopir mengantarku ke Rumah Sakit.
Hati ku sanga galau, kacau. Rasanya aku terjepit antara langit dan bumi, sesak sekali. Aku tidak habis pikir dari mana Datuk mengetahui itu semua. Apakah mungkin Aida yang memberi tahunya? Atau malah dr Yudha sendiri yang memberi tau. Hatiku yang gundah gulana meyakini dr Yudha lah yang memberi tau Datuk. Entah untuk apa tapi aku harus minta pertanggungjawannya.
Begitu sampai di RS aku langsung ke ruangan dr Yudha. Aku bahkan lupa bagaimana adabnya bertamu ketempat orang. Aku hanya ingin tau untuk apa dia memberi tau Datuk tentang ini semua.
Dokter Yudha yang tengah serius dengan beberapa kertas di atas mejanya terlihat kaget karena kedatanganku yang tiba-tiba.
”Kenapa Dokter? Kenapa Dokter tega mempermalukan saya pada suami saya sendiri?” kataku dengan suara marah.
”Ada apa Nur? Apa maksud kamu?” tanya dr Yudha dengan wajah bingung.
”Kenapa dokter memberi tau Datuk kalau dulu saya pernah menyukai dokter?” kataku masih dengan nada emosi.
”Demi Allah, saya tidak pernah memberi tau siapapun kejadian hari itu,” kata dr Yudha sunguh-sungguh.
Aku terduduk lemas di sofa yang ada di ruangan itu. Tubuhku terasa sangat lemas dan tidak berdaya. Apakah aku juga telah melakukan kesalahan lagi dengan menuduh orang tanpa bukti? Tapi siapa lagi kalau bukan dia? Mungkinkah Aida? Tidak mungkin sahabatku iu yang memberit tau Datuk. Aida hanya pernah satu kali menjenguk Datuk dan itupun bersamaku.
Tiba-tiba aku teringat seseorang, suster yag tempo hari membantu Datuk beres-beres. Dia juga ada di ruangan ini saat aku menyatakan perasaanku pada dr Yudha. Dan kemarin dia juga ada di kamar rawat Datuk. Mungkin saja Datuk mengetahui hal iu dari dia? Tapi untuk apa dia menceritakan hal itu?
Aku terasa makin terjepit di kolong langit ini. Aku benar-benar tidak kuasa menahan gemuruh dalam hatiku. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus ku lakukan.
Dengan gontai aku berdiri dan melangkah pergi dari ruangan dr Yudha.
”Maaf...” bisikku lirih.
Tinggal selangkah lagi tanganku menjangkau gagang pintu, suara dr Yudha menghentikan langkahku.
”Nur, kali ini saya tidak akan biarkan kamu pergi dari sini tanpa mengetahui apa-apa?”
Aku tersentak mendengar kata-katanya. Aku tidak berani membalikkan wajah ke arahnya. Aku hanya berdiri terpaku ditempatku dan memunggunginya.
”Sebelum kamu menyatakan perasaan mu, aku sudah tau bahwa Datuk telah meminangmu. Dan aku nggak mungkin melamar wanita yang sudah lebih dulu dilamar oleh kakak kandungku sendiri. Hari itu aku ingin bersimpuh di hadapan Allah dengan penuh rasa syukur, tapi ternyata aku bersimpuh dengan air mata duka. Setiap hari aku memintamu pada Allah Nur, tapi ternyata Allah membawamu ke sisiku dengan jalan lain,” kata dr Yudha dengan suara bergetar.
Seketika hatiku hancur berkeping-keping. Gemuruh hatiku telah mendatangkan badai yang hebat dan memporak-porandakan jiwaku yang terasa sangat lemah. Mengapa tidak saat itu dia menahan langkahku untuk keluar dari pengharapan terakhirku. Mengapa dia membiarkan ku merasa menjadi orang yang tidak pantas mendapat kebahagiaan. Mengapa dia membuat aku merasa menjadi orang paling malang di dunia ini. Mngapa?
Ku seka air mataku dan berbalik ke arahnya.
”Dulu saya memang sangat menyukai dokter, tapi sekarang saya sadar bahwa tidak ada yang lebih pantas saya cintai selain suami saya sendiri,” ujarku kemudian berlalu meninggalkan dokter Yudha yang berdiri kaku di belakang mejanya.
***
Sebulan sudah sejak hari itu aku menyendiri di kampung nelayan. Aku tinggalkan semua kegalauanku saat berada di puskesmas. Namun kala sang surya mulai membakar cakrawala rasa sepi itu muncul. Aku rindu ibu, Aisyah dan Datuk. Aku sanga merindukan Datuk. Masih marahkah dia padaku? Sefatal itukah kesalahanku sehingga dia tidak lagi mau menemuiku? Mengapa dia tidak menjemputku?
Setiap Jumat sore aku selalu siap-siap berharap Datuk akan menjemputku seperti biasa. Tapi tiada. Terkadang ku beranikan diri untuk menelponnya, tapi saat panggilan itu akan tersambung aku selalu menjadi galau dan akhirnya aku matikan lagi telponnya.
Kala malam telah sunyi sepi aku terbangun dan laru dalam sujudku. Tidak ada lagi tempat mengadu selain Dia. Tidak ada lagi tempat meminta selain Dia. Hanya pada-Nya aku serahkan semua. Pada-Nya ku tumpahkan air mataku dan pada-Nya ku tengadahkan tanganku. Aku meminta belas kasihan-Mu ya Allah. Bawalah aku keluar dari derita yang ku tanggung saat ini. Sentuhlah hati kekasihku dengan tangan lembutmu. Getarkanlah hatinya saat aku menyebut namanya. Dan tuntunlah langkahnya ke arahku saat dia mengingatku. Engkau Maha Mengatur ya Allah dan Engkau pula yang Maha Menyayangi....
Sedikit demi sedikit beban hatiku terasa berkurang setiap kali aku shalat tahajud. Malam ku tak lagi sepi dan dukaku tak bertambah dalam karena aku mengadukannya pada Kekasihku yang paling setia. Kekasih yang tidak akan meninggalkanku walau aku pernah berbuat dosa pada-Nya. Kekasih semua umat manusia yang takut pada-Nya dan mau menjalankan perintahnya.
***

bukan siti nurbaya capture 19


CINTA ADALAH KEIKLASAN

Beberapa hari ini aku merasa sangat bahagia. Senyum seakan tidak pernah lepas dari bibirku. Rasanya aku tidak sabar menunggu akhir pekan untuk bertemu dengan Datuk. Aku tidak sabar menunggu dia datang menjemputku. Aku rindu padanya.
Kebahagiaanku bertambah karena kemarin dokter Yudha bersedia menjadi pembimbing sementara Aida. Setidaknya ini adalah kesempatan baik untuk mereka agar saling mengenal lebih dekat dan kesempatan yang telah lama kutunggu untuk membantu Aida. Aku berharap Aida bisa segera menyelesaikan koas dan kuliah kedokterannya. Aku sudah tidak sabar berpartner dengannya.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling kamarku yang dipenuhi bunga beraneka ragam. Aku benar-benar bahagia melihat bunga-bunga itu. Mereka bermekaran seperti cinta yang sedang mekar di hatiku. Aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan Datuk walaupun jantungku berdebar-debar dan aku tidak tau apa yang harus aku katakan atau ku lakukan di hadapannya nanti.
Jumat sore menjadi hari yang sangat ku nanti-nantikan. Usai shalat Ashar aku segera bersiap-siap karena biasanya Datuk datang sekiar jam 4 sore. Aku mengenakan pakaian terbaikku dan sedikit berdandan dengan harapan Datuk akan senang begitu melihatku. Ara yang melihat penampilanku agak berbeda saat itu tersenyum menggoda. Aku jadi tersipu dibuatnya.
Pukul 4.30 sore terdengar suara mobil memasuki perkarangan rumah dinas ku. Aku bergegas keluar karena yakin itu adalah mobil Datuk, aku sangat hapal suara mobilnya. Begitu aku membuka pintu,  sebuah cerooki hitam berdiri dengan gagah di perkarangan yang tidak terlalu luas itu.
Begitu pintu mobil dibuka, ternyata yang turun dari mobil itu bukan sosok yang ku nanti. Wajah ramah Pak Ujang menimbulkan pertanyaan di hati ku akan keberadaan Datuk. Belum pernah Pak Ujang menjemputku sebelumnya, Datuk selalu melakukannya sendiri.
“Udah siap mau pulang Bu dokter?” tanya Pak Ujang ramah sambil meraih tas yang ku jinjing.
“Iya sudah,” jawabku dan kemudian melangkah di belakang Pak Ujang menuju ke mobil.
Perlahan mobil meninggalkan rumah dinas ku yang sangat sederhana itu.
“Datuk kemana Pak Ujang?” tanyaku pada Pak Ujang.
“Hhmm anu Buk…” Pak Ujang terlihat sedikit bingung menjawab pertanyaanku.
“Kenapa Pak?” tanyaku lagi.
“Sebenarnya Bapak sedang sakit, tapi beliau bilang jangan kasi tau Ibuk dulu biar tidak khawatir,” jelas Pak Ujang akhirnya.
Kenapa Datuk berfikir seperti itu? Malah aku akan lebih kuwatir kalau aku tidak tau keadaannya saat ini.
“Sekarang beliau dimana dan sakit apa Pak Ujang?”
“Beliau di rumah sakit sejak kemarin, magh beliau kambuh,” jelas Pak Ujang.
Kecemasan menggerogoti hatiku. Aku tidak pernah tau kalau Datuk punya penyakit magh. Setahuku beliau sangat menjaga pola makan dan selalu memakan makanan yang bergizi. Untunglah kami segera sampai di rumah sakit tempat Datuk dirawat. Aku berjalan dengan cepat menuju kamar rwatnya.
Begitu pintu kamar VIP itu terbuka, langkahku tertahan dan aku tidak berani masuk ke dalamnya. Seorang wanita dan seorang anak perempuan remaja yang kira-kira tidak jauh beda umurnya dengan Aisyah sedang duduk di samping tempat tidur Datuk. Suasana hangat tercipta diantara mereka. Meski terbaring lemah dengan infuse tertancap di tangannya Datuk masih bisa tertawa.
Wanita itu pasti Salma istri kedua Datuk dan anak itu adalah Lulu anak kandung Datuk satu-satunya. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya tapi aku sudah banyak mendengar cerita tentang mereka dari Bu Zaedar.
Ku balikkan tubuhku dan duduk di bangku yang menempel di dinding rumah sakit itu. Perasaanku tidak enak jika harus masuk ke dalam dan merusak kehangatan yang tercipta diantara mereka. Hhhaaahhh aku menghela napas panjang dan menunduk memperhtikan jari-jariku yang tidak bisa berhenti bergerak mengikuti gemuruh dalam hatiku.
Tadinya ku harap bisa segera melihat Datuk dan memegang tangannya agar dia jadi lebih kuat. Tapi ternyata sudah ada orang lain yang melakukan itu untuknya. Bahkan aku tidak yakin Datuk mengharapkanku untuk membesuknya. Dia tidak memberitahuku bahwa saat ini dia sedang terbaring di rumah sakit, mungkin dia ingin bersama istri dan anaknya. Aku jadi merasa tidak dianggap olehnya, aku juga merasa bukan bagian dari hidupnya. Aku benar-benar cemburu melihat wanita itu menyuapi Datuk.
Cukup lama aku tertunduk di sana dan sibuk dengan pikiranku sendiri sampai sebuah suara menegurku.
“Kok nggak masuk Nur?” tanya dokter Yudha yang kemudian duduk di sampingku.
“Ah, tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum kecut tanpa melihat ke arahnya.
Yudha bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Datuk. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali duduk di tempatnya semula.
“Ooo, itu namanya Kak Salma dan anaknya Lulu,” jelas Yudha seakan mengerti alasanku tidak masuk ke sana.
Aku hanya diam mendengar penjelasan Yudha. Aku tidak tau harus berkata apa.
“Datuk sakit apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Yudha diam sejenak dan kemudian menarik napas panjang.
“Dari waktu dia masih muda Datuk itu udah jadi workaholic sampai-sampai lupa dengan dirinya sendiri. Dia jadi tidak memperhatikan kesehatan dan yang paling parah, maghnya sudah akut. Jika dia melenceng sedikit saja dari jadwal makannya, akibatnya ya seperti sekarang,” terang Yudha.
Aku manggut-manggut mendengarnya. Pantas saja Datuk selalu makan tepat waktu dan dia tidak pernah lupa membawa buahan atau roti setiap akan bepergian. Aku tidak pernah tau itu.
“Ayo,” Yudha berdiri dan mengajakku untuk masuk ke kamar Datuk.
Aku menggeleng, tapi Yudha terus mengajak dan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Dan aku tetap menggeleng.
“Sampai kapan kamu nggak mau menghadapi mereka? Cepat atau lambat kamu pasti bertemu dengan istri Datuk yang lainnya. Dan mungkin inilah waktunya,” ujar Yudha lagi.
Entah sejak kapan aku merasa bahwa Yudha sangat memahamiku seolah dia bisa membaca apa yang ada dalam hatiku. Dia selalu punya cara untuk membuatku melakukan apa yang terkadang sulit untuk ku lakukan. Seperti sekarang, aku tidak bisa menolak ajakannya untuk masuk ke kamar Datuk.
Dengan tersendat-sendat aku berjalan mengikuti Yudha memasuki kamar Datuk. Udara sejuk langsung menyambutku dan perlahan mengusir rasa gundah yang tadi memenuhi rongga dadaku. Hatiku mulai tenang begitu senyum Salma mengembang saat pandangan kami saling bertemu.
Senyumannya sangat lembut dan hangat. Aku jadi heran, apa alasan Datuk mencari istri lagi setelah menikahi wanita yang memiliki senyum sangat lembut itu. Padahal wanita itu juga telah memberinya seorang anak perempuan yang sangat cantik. Tapi aku menangkap rona sinis yang terpancar dari mata indah gadis remaja itu. Berbeda sekali dengan Salma yang menyambutku dengan hangat.
“Nur, maaf saya tidak bisa menjemput kamu,” ujar Datuk dengan suara yang sayup.
“Tidak apa-apa Pak,” jawabku.
“Oh ya kenalkan ini Salma,” ujarnya lagi dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Salma menjaba tanganku dengan hangat dan matanya juga memancarkan rasa senang bisa berkenalan denganku. Begitu aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengan Lulu, gadis remaja yang memiliki rambut ikal itu melengah dan tidak mau menyambut tanganku.
“Lu, nggak boleh gitu nak,” ujar Salma lembut.
“Lulu nggak suka sama orang yang sudah mengambil Papa dari kita,” ujarnya ketus dan kemudian berlari ke luar.
“Ah, maafkan sikap Lulu,” ujar Salma yang merasa tidak enak dengan sikap anaknya.
“Tidak apa-apa Kak,” ujarku pada istri kedua Datuk yang ku panggil Kakak itu.
Suasana hening menyelimuti. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara Datuk terlihat menerawang entah apa yang dipikirkannya. Kejadian tadi pasti berpengaruh tidak baik pada kondisinya saat ini. Aku jadi merasa bersalah sudah berada di ruangan ini karena membawa keributan.
Begitu Salma keluar untuk mencari Lulu suasana masih tetap hening. Yudha pun sepertinya tidak mau ikut larut dalam keheningan pamit dengan alasan harus mencek pasien lainnya. Sedangkan aku masih tetap berdiri di posisiku semula tanpa tau harus berbuat apa.
“Nur, duduklah di sini,” pinta Datuk.
Aku menuruti permintaan Datuk dan duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Salma.
“Maafin sikap Lulu tadi ya,” kata Datuk.
Aku benar-benar tidak tega mendengar suaranya yang lemah. Biasanya setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat tegas dan berenergi. Tapi sekarang aku benar-benar tidak tega mendengar dia bicara. Ku raih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
“Tidak apa-apa Pak,” ujarku sambil tersenyum.
Hari itu terasa sangat panjang bagiku. Berada diantara Datuk, Salma dan Lulu yang memandangku dengan tatapan sinis. Aku menawari mereka untuk pulang ke rumah kami di Indarung, tapi Salma menolak dengan halus. Katanya dia akan menemani Datuk malam ini di rumah sakit. Sedangkan Lulu sudah pasti bisa ditebak tidak akan mau menginap di rumahku.
Sebenarnya aku juga ingin menemani Datuk di rumah sakit malam itu tapi Datuk tidak mengizinkan. Dia malah memintaku untuk pulang dan beristirahat. Aku jadi makin merasa Datuk benar-benar tidak menginginkan kehadiranku. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah di atas bukit itu, aku tidak ingin “terusir” lagi dari ruangan ini.
Lampu-lampu kota dimalam hari berkelap-kelip layaknya bintang-bintang yang ada di langit jika dilihat dari balkon kamarku. Aku seperti berada di tempat yang lebih tinggi dari bintang-bintang itu. Gugusannya seakan membentuk sebuah kota yang bernama kota Padang.
Malam hampir larut dan lagi-lagi aku tidak bisa tidur di kamar ini. Hatiku diselimuti kabut tebal dan udara dingin seakan menusuk-nusuk jantungku. Jiwaku seakan dibawanya terbang jauh dari jasatku yang tengah bimbang. Titik demi titik airmataku tumpah tanpa permisi. Aku benar-benar gundah saat ini.
Ternyata cinta tidak seindah ku duga dan keiklasanku untuk menikah dengan Datuk kembali diuji. Ternyata tidak gampang mngiklaskan orang yang ku cintai bersama wanita lain yang juga mencintainya. Bahkan mungkin Datuk juga sangat mencintai istrinya itu.
Aku merasa menjadi seorang pengganggu dan duri dalam kehidupan rumah tangga mereka. Mungkin Lulu benar, aku telah mencuri seorang ayah dari anaknya dan suami dari istrinya. Tapi sungguh semua ini diluar kemampuanku. Jika aku bisa melawan takdir aku elakkan semua ini agar tidak terjadi. Tapi apa yang harus ku lakukan, aku sebenarnya juga tidak senang berada di posisi ini. Tangisku pecah dan hatiku rasanya sangat sakit sekali.
Malam ini aku bersimpuh di hadapan Allah dan larut dalam setiap doa yang kupanjatkan dengan linangan air mata. Aku yakin Allah senantiasa memberiku pertolongan sehingga aku masih kuat sampai detik ini.
***
Pagi-pagi usai sarapan aku meminta Pak Ujang untuk mengantarku ke rumah sakit. Begitu melewati tukang susu kedelai aku berhenti dan membeli beberapa bungkus untuk ku bawa ke rumah sakit. Walaupun tengah sakit ku harap Datuk tetap bisa menikmati harinya dengan meminum susu kedelai kesukaannya dan sebuah koran.
Begitu memasuki ruang perawatan, ku lihat Datuk sedang asik membaca koran yang sama dengan yang ku belikan untuknya. Aku jadi merasa bodoh sendiri, ini adalah kamar VIP dan tentunya rumah sakit menyediakan apa yang dibutuhkan oleh pasiennya.
“Assalamualaikum,” sapaku.
“”Waalaikumsalam,” jawab Datuk sambil melipat korannya.
Wajahnya terlihat lebih berseri dan segar pagi ini. Dia menyambutku dengan senyum hangat. Ku letakkan kantong plastik yang berisi susu kacang kedelai di rak yang ada di samping tempat tidurnya. Ku buka bungkusnya dan menuangnya ke dalam gelas.
“Wah, terimakasih Nur. Saya memang sangat ingin minum susu kedelai ini,” katanya sambil meneguk susu itu. Aku memperhatikan Datuk sejenak. Aku terhibur melihat dia menikmati susu kedelai itu.
“Tadi kamu bawa apa lagi Nur?” tanya Datuk kemudian.
“Koran Pak, saya kira tidak ada koran di sini,” kataku menahan malu.
“Sini korannya,” ujar Datuk.
“Sama dengan Koran yang Bapak baca kok,” ujarku.
“Tidak apa-apa,” ujar Datuk lagi.
Akhirnya aku menyerahkan koran itu pada Datuk. Tanpa banyak komentar dia langsung membuka koran itu dan membacanya. Sementara koran yang tadi dibaca dibiarkannya terlipat di samping ranjangnya.
Tidak lama berselang Salma datang bersama Lulu. Mereka tadi pergi untuk sarapan. Salma menegurku dengan ramah sementara Lulu berbalik dan pergi entah ke mana.
“Udah lama?” tanya Salma.
“Baru Kak,” jawabku.
“Kamu udah ketemu dokter?” tanyanya lagi dan ku jawab dengan gelengan.
“Tidak usah khawatir, keadaan Bapak udah jauh lebih baik,” jelasnya.
Aku lega mendengarnya. Aku juga lihat Datuk lebih bersemangat hari ini. Aku dan Salma berbincang-bincang sambil menunggui Datuk. Aku benar-benar kagum pada Salma.
Dia adalah guru honor Sekolah Dasar di desa sebelah desaku. Walau sudah mengajar selama 20 tahun tapi statusnya belum juga naik menjadi pegawai negeri. Tapi keadaan itu tidak serta merta membuatnya kecil hati dan berniat untuk pindah. Ia bertahan karena sangat mencintai anak-anak yang ada di desanya. Baginya status dan uang tidaklah penting karena dia masih menerima nafkah dari Datuk.
Aku benar-benar kagum padanya. Dia benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa dan tidak banyak orang seperti dia. Sama sekali aku tidak merasa seperti istri muda suaminya. Dia memperlakukan aku seperti adiknya sendiri. Padahal kalau dilihat-lihat aku lebih pantas menjadi anaknya.
Aku sempat mempertanyakan keberadaan Aryuni istri keempat Datuk. Menurut Salma dia tidak bisa datang karena sedang berada di Jogja untuk menghadiri acara wisuda anaknya. Anak Ariyuni adalah anak tiri Datuk, tapi biaya pendidikannya ditanggung oleh Datuk. Sebenarnya Datuk akan pergi ke Jogja bersama Aryuni, bahkan tiket sudah dipesan, tapi Datuk malah jatuh sakit. Akhirnya Aryuni berangkat sendiri ke Jogja menghadiri wisuda anaknya.
Cukup lama aku berbincang-bincang dengan Salma sampai akhirnya dia berpamitan untuk pulang ke desanya yang berada di sebelah desaku. Walau Datuk belum dinyatakan sembuh benar dia mempercakan Datuk padaku.
”Sekarang giliran kamu untuk jaga suami kita,” katanya dengan senyum mengembang.
Aku benar-benar kagum dengan kebesaran hati wanita itu. Dalam posisinya sebagai istri pertama saat ini, dia tidak mau egois untuk memberikan segenap kasih sayang dan perhatian pada suaminya. Dia masih sempat berbagi dan bisa memberikan senyuman setulus itu. Jika aku berada di posisinya belum tentu aku bisa bersikap semanis itu.
Hatiku terenyuh mengingat curahan hatinya beberapa saat lalu.
”Kakak senang melihat kamu berada di sisi Datuk karena dia benar-benar membutuhkan kamu Nur,” katanya dengan nada serius.
”Ah, Datuk membutuhkan kita semua untuk memberinya dukungan kak,” bantahku merasa tidak enak seakan memonopoli keadaan.
”Datuk benar-benar mencintai kamu Nur, kakak bisa melihat dari sorot matanya.”
Kalimatnya terhenti dan matanya menerawang ke langit-langit rumah sakit.
”Waktu itu Datuk datang ke pada kakak dan menceritakan tentang keinginannya untuk punya istri lagi. Saya sangat kecewa saat itu tapi sudah mulai terbiasa karena sebelumnya Datuk pernah mengemukakan keinginan yang sama. Tapi entah mengapa, saat saya mendengar Datuk ingin menikahi kamu saya merasa sangat cemburu. Saya cemburu karena saya tau Datuk benar-benar mencintai kamu. Tidak seperti saya atau Aryuni yang dinikahi Datuk karena kasihan. Walau Datuk tidak bilang tapi saya bisa rasakan kalau kamu adalah orang yang benar-benar dia cintai. Dan saya senang Datuk akhirnya menikahi wanita yang benar-benar dicintainya. Dia pantas mendapatkan itu karena dia sudah begitu baik. Saya minta kamu jangan pernah mengecewakan beliau Nur,” cerita Salma saat itu.
Aku sangat terharu mendengar penjelasan Salma. Walau aku tidak suka berada di posisi ku saat ini tapi aku berada diantara orang-orang yang berhati mulia dan memiliki keiklasan yang sangat luar biasa.
Aku tidak mengerti apa itu cinta, tapi apa yang dilakukan Salma adalah bukti cintanya pada Datuk dan apa yang Datuk lakukan untukku itu juga sebagai bukti cintanya pada ku. Dan mengapa aku tidak melakukan apa-apa untuk orang yang aku cintai? Aku malah sibuk memprotes keadaanku sehingga hatiku pun kabur melihat bahwa aku telah berada di ditengah-tengah orang yang dipenuhi rasa cinta.
Perlahan ku buka pintu kamar tempat Datuk dirawat. Ku lihat raut wajah tenangnya yang tengah asik mengotak-atik laptopnya. Jantungku seketika berdebar-berdebar melihat keelokan yang ada pada dirinya. Begitu terpukaunya aku sampai aku tidak sadar ada orang yang juga memperhatikanku dengan jarak yang lebih dekat.
”Lho kok malah mengintip, kayak orang lain aja Nur,” goda dr Yudha yang tidak ku sadari kehadirannya.
Aku jadi salah tingkah dibuatnya, untung saja tiba-tiba Aida muncul dan langsung memelukku. Datuk menyambut kedatangan Yudha dan Aida dengan senyum ramahnya.
”Lusa abang udah boleh pulang,” kata Yudha yang kami sambut dengan senyum bahagia.
”Alhamdulillah,” syukur Datuk.
”Aida, apa kamu sudah menikah?” tanya Datuk pada Aida ditengah-tengah obrolan kami.
Dengan senyum malu Aida menggeleng.
”Tunggu apa lagi Yud, kamu sudah cukup umur untuk menikah. Tidak perlu mencari jauh-jauh, yang dekat kan ada,” ujar Datuk.
Ku lihat Yudha dan Aida jadi salah tingkah begitu mengerti apa maksud pembicaraan Datuk. Aku hanya berdoa dalam hati semoga mereka memang berjodoh. Amiin...
***

bukan siti nurbaya capture 18


BUNGA DALAM VAS

 “Da, kayaknya aku jatuh cinta.”
“Apa…?? Jatuh cinta? Sama siapa? Jangan main-main Nur, kamu udah punya suami,” cerocos Aida.
“Mang kamu pikir aku jatuh cinta sama siapa?”
“Mana aku tau, kamu belum kasi tau.”
“Makanya tanya donk sama siapa.”
“Sama siapa Siti Nuraini?”
“Sama Datuk.”
“Ya elah Nur, nikahnya udah lama kamu baru jatu cinta sama dia sekarang?”
Aku tertawa melihat ekspresi Aida. Aida adalah orang pertama yang tau tentang perasaanku ini. Aku sudah menunggu kesempatan ini untuk memberi tau Aida. Untungnya Aida bisa meluangkan waktunya untuk bertemu deganku di Taplau.
Setelah beberapa hari mengenali perasaanku, akhirnya aku yakin bahwa aku telah jatuh cinta. Walaupun dia adalah suamiku tapi aku tetap merasa malu punya perasaan seperti ini. Aku pernah jatuh cinta pada dr Yudha, tapi rasanya tidak seaneh sekarang. Kali ini benar-benar sulit di lukiskan.
Mungkin seperti cinta ombak yang berlari dengan cepat untuk mengatakan aku cinta padamu wahai pantai. Atau seperti cinta musim semi di Jepang yang tidak sabar mengatakan aku rindu padamu bunga sakura. Atau mungkin juga seperti cinta siang yang tidak sabar mengatakan aku membutuhkan mu matahari. Rasa ini benar-benar aneh dan aku tidak mengerti perumpamaannya.
“Kamu udah kasih tau Datuk?” tanya Aida kemudian.
Aku menggeleng.
“Emang harus dikasi tau ya Da? Caranya gimana?” tanyaku.
Aida menarik napas panjang dan menghirup air kelapa mudanya.
“Ya bilang I love you, atau aku sayang kamu suamiku, aku cinta padamu,” ujar Aida sambil menirukan gaya seorang pangeran mengungkapkan cinta pada seorang putri.
“Aaahh, norak Da,” kataku.
“Habis gimana donk?” tanya Aida lagi.
“Aku nanya kamu malah nanya balik,” keluhku.
Aku dan Aida terdiam sesaat. Ngungkapin cinta saja kok repot. Apa lagi pada suami sendiri, seharusnya kan lebih mudah dan tidak perlu takut karena itu sunnah. Jika suami atau istri mengetahui pasangannya mencintai dirinya, akan menimbulkan rasa bahagia. Dan membahagiakan pasangan wajib hukumnya. Itulah salah satu nikmatnya pernikahan, halal untuk bilang cinta.
“Aha, aku ada ide Nur, menurut yang pernah aku dengar katakana cinta dengan bunga.”
“Itu kan cowok Da.”
“Nggak ada aturannya kok cewek nggak boleh ngasih cowok bunga. Tapi caranya beda donk,” jelas Aida.
Aku berfikir sejenak.
“Kok jadi kayak ABG gini ya Da, ngomongin cinta-cintaan di tepi pantai,” ujarku.
“Emang masih ABG kan? Asosiasi Baju Gamis,” ujar Aida.
Kalau sudah tidak ada ide aku Aida memang suka asal, tapi itu yang membuatnya makin menyenangkan. Dia selalu punya lelucon untuk mengembalikan suasana.
Cukup lama aku dan Aida mengobrol di warung tenda Taplau itu. Sekarang Taplau menjadi tempat yang cukup nyaman untuk duduk santai menikmati pemandangan laut. Mungkin ini adalah hikmah dari abrasi dan isu tsunami. Dulu banyak berdiri warung esek-esek tempat muda-mudi pacaran. Entah apa yang mereka lakukan dalam ruangan yang hanya berukuran 1.5 x 1 m itu.
Tapi sekarang semuanya sudah dimusnahkan sehingga karunia Allah yang sangat indah ini tidak tercemar dengan perbuatan oknum yang mengundang lidah untuk memakinya. Sekarang para jilbaber pun banyak yang berwisata ke Taplau ini. Tapi pada saat-saat tertentu daerah ini juga menjadi tempat anak muda meluapkan jiwa mudanya dengan hura-hura. Jalan yang mulus di sepanjang Taplau sering dijadikan arena balap liar oleh para anak muda. Polisipun tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan mereka.
Itulah sekilas wajah kota Padang yang juga dijuluki kota tercinta ini. Kota yang dikelilingi oleh Laut dan menawarkan pemandangan yang sangat indah. Dan kota ini adalah kebanggaan orang awak karena banyak kaum intelektual dilahirkan oleh universitas-universitas yang cukup berkualitas. Tidak hanya orang-orang yang berasal dari Sumatera Barat tapi juga dari luar propinsi atau pulau. Meski tidak sepopuler UI, UGM, ITB atau Unpad.
***
Minggu pagi usai merapikan kamar, aku menikmati suasana di halaman belakang. Tidak disangka bunga-bunga yang ada di taman itu sedang bermekaran, indah sekali.
“Katakan cinta dengan bunga,” saran Aida melintas dibenakku.
Ku dekati bunga mawar beraneka warna yang ada di pot dekat teras. Sayang sekali kalau bunga itu harus dipetik dan kemudian layu. Tapi akan lebih baik lagi jika dia layu setelah memberi kesegaran bagi orang lain meski tidak menikmatinya langsung di taman. Ku petik beberapa tangkai bunga mawar itu dan menaruhnya dalam vas. Setelah mengisi vas itu dengan air aku menaruhnya di atas meja ruang kerja Datuk. Beliau sedang lari pagi jadi aku bisa dengan leluasa masuk ke ruang kerjanya dan menaruh vas bunga itu.
Ku edarkan pandanganku menyisiri setiap sisi ruangan itu. Di atas sofa yang ada di tengah ruangan bantal dan selimut yang masih berantakan belum dirapikan. Aku mengambil inisiatif untuk merapikannya. Setelah semuanya rapi aku langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Pagi ini aku ingin sekali membuat nasi goreng untuk sarapan Datuk. Kata teman-teman di kontrakanku dulu, nasi goreng bikinanku enak. Dan semoga saja Datuk juga berpendapat begitu. Bu Zaedar ikut membantu mempersiapkan semua bahan-bahannya. Kira-kira 20 menit lagi Datuk sudah sampai di rumah untuk sarapan. Dan aku ingin sebelum dia datang nasi gorengnya sudah terhidang.
Sesuai perkiraan, 20 menit kmudian Datuk datang dan langsung menyantap nasi goreng bikinanku.
“Mmm… Kok rasanya beda dengan biasanya Dar?” tanya Datuk pada Bu Zaedar.
“Itu yang masak ibu dokter pak,” ujar Bu Zaedar.
Datuk langsug menoleh ke arahku.
“Enak,” komentarnya singkat.
Aku senang sekali karena Datuk memakan nasi goreng itu dengan lahap. Apakah Datuk bisa merasakan cinta dalam setiap butir nasi goreng itu. Mudah-mudahan saja. Usai sarapan dan baca Koran sebentar Datuk menuju ke ruang kerjanya.
Jantungku jadi berdebar-debar, sebentar lagi dia akan melihat bunga yang aku tarok di meja kerjanya. Aku benar-benar tidak tenang dibuatnya, bagaimana kalau dia tidak menyukainya.
Dugaanku bahwa Datuk tidak menyukai bunga dalam vas makin kuat karena sepanjang kebersamaan kami hari itu Datuk sama sekali tidak menyinggung masalah bunga dalam vas itu. Hatiku mulai resah, mungkinkah Datuk tidak memiliki perasaan yang sama padaku? Walau kami sudah menikah, dia belum pernah bilang kalau dia mencintaiku.
Sepertinya saran Aida salah kali ini. Aku benar-benar malu karena merasa apa yang ku lakukan itu norak dan sia-sia. Ternyata tidak mudah mengungkapkan rasa cinta pada seseorang yang kita cintai. Aidaaaaaaaa……
“Assalamualaikum Nur,” sapa Aida di seberang sana.
“Waalaikum salam, ada apa Da?”
“Nur, aku lagi pusing ni.”
“Kenapa?”
“Dokter Rahman mau ke Jerman jadi dia udah nggak bisa lagi membimbing ku, gimana ni?” jelas Aida panik.
“Kamu udah coba hubungi dosen yang bisa menggantikan?”
“Udah, tapi pada sibuk semua, aku jadi stress.”
“Tenang Da, pasti ada yang bisa gantiin,” hiburku.
Aku berfikir sejenak sampai sebuah nama muncul dibenakku.
“Gimana kalau dokter Yudha?”
“Ah jangan Nur, meninggal ntar pasienku karena aku nggak konsen,” ujar Aida.
“Jangan berlebihan gitu donk Da, kedepankan profesionalisme aja,” nasihatku.
“Tapi aku nggak tau harus bilang apa sama dia,”ujar Aida.
“Kalau kamu nggak keberatan biar aku yang ngomong sama dia, gimana?” saranku.
“Iya deh, thanks ya Nur. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Pembicaraan yang sangat singkat. Pada hal tadinya aku ingin menelpon Aida untuk curhat, tapi sepertinya Aida sedang bingung saat ini dan dia lebih membutuhkan pertolonganku.
Aku berniat menelpon dokter Yudha saat itu juga, tapi rasanya tidak etis menelpon malam-malam begini. Aku takut mengganggu, akhirnya ku putuskan untuk membicarakan hal itu dengan dokter Yudha besok. Pastinya aku baru bisa menemuinya besok sore karena besok pagi aku harus balik ke desa nelayan dan bekerja sampai siang. Mudah-mudahan besok aku masih sempat menemuinya.
Keesokan hari usai shalat Subuh aku membantu Bu Zaedar mempersiapkan sarapan. Pagi ini Bu Zaedar masak bubur kacang hijau dan itu adalah salah satu sarapan kesukaan Datuk. Bubur kacang hijau itu tidak dicampur santan tapi hanya air dan diberi gula, pandan, garam dan jahe. Datuk sangat menjaga makanan yang hendak dikonsumsinya. Beliau lebih menyukai kuah bening dari pada kuah santan. Meskipun orang minang sangat menyukai makanan bersantan tapi Datuk tidak terlalu menyukainya. Santan bisa meningkatkan kolesterol dalam darah dan tentunya ini bisa meningkatkan resiko kena penyakit jantung. Wajar saja  Datuk terlihat kekar dan tidak gemuk seperti bapak-bapak pada umumnya.
Usai sarapan Datuk mengantarku ke desa nelayan. Di perjalanan kami tidak terlalu banyak bicara. Pada hal aku ingin sekali ada sebuah kalimat yang dilontarkannya mengenai bunga dalam vas itu. Tapi tidak terlihat sedikitpun perubahan dalam sikapnya. Beliau malah asik mendengarkan berita dari saluran radio.
“Senin depan para siswa SMU akan melaksanakan Ujian Akhir Nasional. Kecemasan mulai mendera siswa karena nilai kelulusan untuk tingkat SMU pada tahun ini naik menjadi 4,5. tidak sedikit orang tua siswa yang memprotes tingginya nilai kelulusan yang harus di capai oleh anak mereka.”
 Beberapa tahun belakangan ini untuk lulus sekolah dan melanjutkan pendidikan tingkat yang lebih tinggi memang cukup susah karena adanya target nilai yang harus di capai oleh seorang siswa untuk lulus dari sekolahnya. Para siswa harus berusaha lebih keras agar lulus. Di satu sisi tentu kebijakan yang sudah diterapkan beberapa tahun belakangan ini sanga positif karena siswa akan lebih bersungguh-sungguh saat ujian. Tapi sayangnya kualitas seorang siswa tidak bisa dilihat dari itu karena tidak sedikit siswa yang semasa sekolahnya memiliki prestasi yang bagus malah tidak lulus saat UAN.
“Aisyah juga akan ujian Nur?” tanya Datuk.
“Iya,” anggukku.
Tidak disangka adikku tercinta sebentar lagi akan lulus SMU dan jadi mahasiswa. Ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat. Baru saja kemarin aku yang lulus SMU, sekarang Aisyah pun sudah mau tamat. Dan tidak terasa juga aku sudah berada di kampung nelayan selama lebih dari 6 bulan. Waktu terasa sangat cepat berlalu.
“Aisyah mau kuliah dimana Nur?” tanya Datuk lagi.
“Kemarin dia bilang ingin kuliah di pulau Jawa, tapi Nur agak khawatir kalau dia kuliah jauh-jauh. Jadi nggak ada yang jaga ibu,” jelasku.
“Ibu kan bisa tinggal dengan kita, biar Ibu ditemani oleh Zaedar,” jawab Datuk.
Aku menoleh kearah Datuk, ku lihat dia tidak main-main mengatakan hal itu. Aku lega mendengarnya. Berarti Datuk mau menerima keluargaku tinggal bersama kami. Mudah-mudahan saja ibu bersedia.
Usai mengantarku Datuk langsung pergi. Aku pun menjalankan tugasku di puskesmas. Sesekali masalah bunga itu masih muncul di pikiranku. Kalau tau begini mungkin lebih baik aku tidak melakukannya kemarin.
Hari ini pasienku cukup banyak, sebagian besar dari mereka mengidap demam dan flu. Mungkin hal ini dipengaruhi karena cuaca yang tidak menentu dan sulit diprediksi. Begitu semua pekerjaanku di Puskesmas selesai, aku dan Ara berjalan bersama menuju rumah dinas. Siang itu cukup panas karena itu aku dan Ara mengambil langkah seribu agar cepat sampai di rumah. Rencananya usai shalat Zuhur aku akan menelpon dokter Yudha untuk memastikan keberadaannya dan membicarakan soal Aida.
Baru saja aku melipat mukena seusai shalat terdengar Ara memanggilku dari depan. Ku pasang jilbabku dan segera menuju ke ruang depan.
“Uni, ada yang nyari,” ujar Ara sambil menunjuk kepada laki-laki muda dengan pakaian bermotif bunga di depan pintu.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Anda dokter Nur Aini?”
“Iya.”
“Saya ke sini mengantarkan paket,” ujarnya sambil melambaikan tangan ke arah sebuah mobil pick up yang ada di halaman rumah dinas itu. 2 orang lainnya segera datang dengan membawa buket bunga. Mereka berdua bolak balik mengantarkan bunga dan memasukkannya ke dalam rumah setelah meminta persetujuanku. Kalau dihitung-hitung ada 20 buket bunga dari berbagai macam jenis yang kini tersusun rapi di ruang tamu yang kecil.
Setelah selesai, mereka pamit meinggalkan aku dan Ara yang bengong melihat rumah kami dipenuhi dengan bunga segar.
“Dari siapa semua ini uni?” tanya Ara.
Aku menggeleng karena bingung juga siapa yang memberikan bunga sebanyak ini. Aku berjalan mendekati bunga-bunga itu dan mengambil kartu yang terselip di buket bunga paling besar, mawar merah.
Terimakasih sudah memberi keindahan dan keharuman dalam kehidupan saya…
Erick
Aku terpaku melihat semua bunga-bunga itu yang ternyata dari Datuk. Aku hanya meletakkan 5 kuntum mawar dalam vas di meja kerjanya, tapi dia malah mengirimkanku 20 buket bunga. Aku benar-benar tidak tau harus berkata apa. Hanya air mata haru yang mengalir di pipiku. “Aku mencintaimu suamiku” bisikku lirih dalam hati.
Keberadaan banyak bunga di rumah dinas itu tidak membuatku lupa untuk menelpon dr Yudha dan janjian untuk bertemu. Kami sepakat untuk bertemu di RS M Jamil jam 2.00 siang ini. Walau matahari sangat terik Alhamdulillah aku bisa membuang semua rasa malasku untuk keluar rumah.
Begitu sampai di rumah sakit aku langsung menuju ruangan dr Yudha. Ternyata dia sudah menunggu di sana dan langsung mempersilahkan aku masuk dan duduk
”Ada apa Nur?” tanyanya membuka pembicaraan.
”Begini dokter, Aida teman saya butuh seorang pembimbing untuk menyelesaikan koasnya. Dokter Rahman yang biasa membimbing dia akan berangkat ke luar negeri jadi dia tidak ada pembimbing lagi. Jadi maukah dokter Yudha menggantikan dokter Rahman membimbing Aida?” tanyaku penuh harap.
”Kenapa dia tidak bicara langsung pada saya?” tanya dr Yudha kemudian.
Ah benar juga mengapa harus aku? Kenapa aku tidak berfikir kalau dr Yudha akan mempertanya masalah itu.
”Itu karena dokter juga pernah membimbing saya dan saya rasa bimbingan dokter juga akan sangat membantu Aida,” jawabku mencari alasan.
”Kenapa kamu yang bilang itu ke saya bukannya Aida?” tanyanya lagi.
”Nanti Aida akan bicara langsung pada dokter kalau dokter bersedia. Sekarang dia sedang di Padang Panjang dan dia minta pertolongan saya.” jawabku memberi alasan.
Dokter Yudha diam sesaat.
”Nanti akan saya kabari,” ujarnya singkat.
Karena merasa urusan ku sudah selesai aku berpamitan.
Sebelum aku menarik daun pintu aku kembali berbalik menghadap dr Yudha.
”Dokter, Aida adalah sahabat saya yang paling baik di dunia ini, saya harap dokter melihat dan sdikit membuka hati,” kataku lalu berlalu meninggal dr Yudha.
***

bukan siti nurbaya capture 16


KAPAN PUNYA ANAK, NUR?

Pagi ini ku bangun dengan tubuh yang segar. Kicauan burung yang saling bersahutan bagaikan nyanyian alam yang memberi kedamaian. Rasa sepi yang tadi sempat muncul seolah sirna karena nyanyian itu. Walau berada di rumah yang sangat nyaman, aku merasa sepi. Datuk masih di luar kota dan baru akan pulang besok.
Untuk membuang rasa sepi, usai shalat subuh aku mengenakan pakaian olahraga dan jalan-jalan santai mengelilingi kompleks. Sudah banyak juga warga yang berlari-lari kecil di jalanan sepanjang komplek itu. Aktivitas olahraga juga terlihat di lapangan tenis yang ada di komplek itu. Minggu pagi begini memang enak untuk berolahraga dan bersilaturrahmi dengan para tetangga yang juga menikmati udara pagi ini dengan olahraga. Aku juga sempat berkenalan dan berbincang-bincang dengan beberapa orang tetanggaku.
Setelah lelah berjalan, aku duduk di dekat sebuah gerobak penjual susu kacang kedelai tempat aku pernah melihat Datuk duduk. Aku cukup heran melihat seorang tukang susu bisa masuk ke komplek ini dengan membawa gerobak yang berisi banyak susu kacang kedelai . Setahuku satpam yang menjaga gerbang komplek ini sangat tegas dan tidak membiarkan sembarang orang masuk ke sini. Tapi syukurlah, karena bisa menikmati susu kacang kedelai yang sehat pagi-pagi begini.
”Susu kacang kedelainya satu Pak, yang hangat ya,” pintaku pada pedagang yang sudah paruh baya itu.
Dengan ramah dia mempersilahkanku memilih sendiri rasa yang aku inginkan. Ku pilih susu kedelai hangat yang rasanya original. Ini adalah salah satu minuman kesukaanku. Dulu waktu masih kuliah, aku dan teman kontrakanku suka olahraga pagi setiap hari Sabtu dan Minggu di GOR Agus Salim. Setiap selesai olahraga kami selalu minum susu kedelai yang harganya hanya Rp 1.000,-. Murah dan sehat.
”Mbak ini orang baru ya di sini?” tanya Bapak itu dengan logat Jawa yang kental.
Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Tanpa pikir panjang aku duduk lesehan di pembatas jalan dekat Bapak itu jualan.
”Rumahnya yang mana mbak?” tanya si Bapak lagi.
”Nomor 9 A Pak,” jawabku
”Lho rumahnya Datuk ya Buk?”
”Iya... Bapak kenal sama beliau?”
”Ya kenal donk mbak, di sini siapa yang nggak kenal beliau. Orangnya baik begitu. Beliau itu langganan saya, usai olahraga beliau pasti minum susu kedelai saya ini,” cerocos si Bapak.
Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya.
”Mbak ini ponakannya toh?” tanyanya lagi.
Aku jadi geli sendiri mendengar pertanyaan si Bapak, ternyata perkiraannya tidak berbeda dengan kebanyakan orang. Aku sudah mulai terbiasa dengan pertanyaan seperti itu.
”Bukan Pak, saya istrinya,” jawabku sambil tersenyum dan kembali menyedot susu kedelaiku yang tinggal setengah.
”Oh maaf mbak, saya kira ponakannya. Habis mbak masih muda banget sih,” kata si Bapak lagi.
Aku lagi-lagi tersenyum dibuatnya. Aku memang sudah lebih tenang menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Pertanyaan si tukang susu kedelai belum seberapa menyakitkan dari pada pertanyaan orang-orang sebelumnya.
Dulu aku tidak sesabar ini menjawab pertanyaan orang-orang yang menilai buruk padaku. Dua bulan yang lalu, saat baru saja menikah, aku pernah membentak Nek Suir yang mengata-ngatai aku perempuan matre karena mau menikah dengan orang tua kaya. Dia menyindirku dengan mengatakan bahwa aku adalah tukang rebut suami orang dan perempuan tidak benar yang bersembunyi di balik jilbabku.
Aku benar-benar tidak bisa menahan emosi saat itu. Sebenarnya sudah lama aku menahan emosi pada nenek yang usianya hampir 70 tahun itu. Diusianya yang sudah lanjut dia bukannya berfikir bagaimana untuk mendekatkan diri pada Allah, tapi malah sibuk mencari kejelekan orang dan memfitnah orang lain.
Waktu ibu berhutang untuk keperluan kuliahku pun dia suka mengatai ibuku. Ibu tidak pernah melawan atau membantahnya, beliau hanya mendengarkan apa yang dikatakan Nek Suir. Tapi begitu dia mengataiku, aku tidak bisa tinggal diam, aku melontarkan kata-kata yang tidak kalah kasar padanya.
Aku tidak tau setan apa yang merasukiku. Aku benar-benar kehilangan kontrol dan akal sehatku. Untunglah ibu segera menenangkanku dan aku tidak pernah lupa yang dikatakan ibu pada saat itu.
“Tidak usah dimasukin ke dalam hati, anggap saja kamu sedang mendapat ujian kesabaran. Kalau kamu membalasnya dengan emosi berarti kamu tidak ada bedanya dengan orang itu. Dan harus berapa kali kamu memaki orang? Mungkin saja setelah ini akan ada lagi yang mengatakan hal yang sama. Allah Maha Tau apa yang kita lakukan, dan Dia tidak akan menutup hati semua orang akan kebenaran. Jadi jangan terlalu diambil hati, hadapi saja dengan senyuman ya nak,” nasihat ibu waktu itu.
Ternyata memang benar, itu bukan satu-satunya yang pernah membuatku sakit hati. Banyak lagi orang-orang yang kemudian menilaiku seperti itu. Tapi aku hanya berprinsip waktu akan menjelaskan semuanya. Dan selama aku tidak melakukan seperti yang dikatakan orang-orang, aku tidak perlu khawatir karena Allah Maha Tau.
Hhaahh… Minggu yang cerah, sungguh indah dunia di mataku pagi ini. Usai membayar susu yang ku minum aku mohon diri pada Bapak si tukang susu. Dia terlihat senang menerima beberapa uang ribuan dariku. Aku juga membawakan susu itu untuk Bu Zaedar dan Pak Ujang.
Dengan santai aku melangkah menuju rumah klasik dengan sentuhan modern itu. Satu tikungan lagi aku akan segera sampai di rumah yang seperti istana itu. Begitu hendak berbelok, sebuah suara memanggilku dari belakang. Dan kemudian sosok pemilik suara itu berlari kecil menghampiriku.
“Kamu udah nggak apa-apa?” tanya dokter Yudha.
Aku cukup kaget melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Aku mengangguk.
“Oh ya kemarin saya belum sempat bilang terimakasih,” ujarku kemudian.
“Ah nggak usah sungkan begitu,” ujarnya.
Meskipun hanya menggenakan kaos oblong warna putih, celana training dan sepatu sport Yudha tidak kehilangan kharismanya sebagai seorang dokter yang ramah dan baik hati.
“Oh ya, bagaimana rasanya tinggal di rumah ini?” tanya Yudha tiba-tiba.
“Sepi,” jawabku sekenanya.
“Makanya cepat beri saya ponakan donk biar rame,” ujarnya.
Hah, ponakan? Aku belum pernah berfikir sampai ke sana. Jangankan punya ponakan, bersentuhan dengan Datuk saja baru sekedar bersalaman. Ternyata banyak hal lain yang harus dilaksanakan setelah menikah.
“Oh ya, Dokter kapan menikah?” tanyaku spontan.
“Kemarin sih sudah ada rencana, tapi calonnya sudah diambil orang,” katanya dengan nada dan mimik serius.
“Oohh kan masih banyak yang lain Dok,” ujarku.
Yudha tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul. Sejenak aku memandang wajahnya dan menangkap gurat kesedihan di matanya. Siapakah orang yang telah tega mengambil pancaran indah dari mata orang yang diam-diam pernah ku cintai ini. Sementara aku saja ditolak olehnya tanpa satu patah katapun. Kejadian memalukan itu kembali terlintas dibenakku. Sungguh itu sangat memalukan karena pada saat itu aku tidak sadar bahwa tindakanku juga disaksikan oleh dua orang suster yang ada di ruangan dr Yudha.
”Nur,” panggil dr Yudha membuyarkan lamunanku.
“Oh ya ayo masuk dulu kita sarapan bersama,” ajakku mencairkan suasana hening yang tiba-tiba tercipta diantara kami.
“Nggak diajak pun saya bakalan masuk kok Nur,” ujarnya menggoda.
Aku tersenyum mendengarnya dan melangkah memasuki halaman rumah yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman hias itu. Beberapa pohon tinggi dan besar di halaman itu terlihat basah daun-daunnya karena embun yang tebal pagi ini. Burung-burung kecil bermain riang terbang dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Seperti rumah ku di desa saja pemandangan seperti ini.
“Pasti kamu nggak tau kalau semalam aku nginap di sini kan?” tanya dr Yudha sambil mengikuti lagkahku.
“Oh ya?” tanyaku tak percaya. Memang sejak kemarin aku tidak keluar kamar sama sekali, jadi aku tidak tau kalau dr Yudha menginap di rumah ku.
“Iya, begitu tau kamu sakit, Datuk memintaku menjaga kamu disini tapi aku nggak ngasih tau kamu biar kamu nggak canggung,” jelas dr Yudha.
“Terimakasih.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali terimakasih. Sungguh beruntung perempuan yang akan menjadi pendamping Yudha kelak. Dia adalah pria yang penuh rasa tanggungjawab dan memiliki kelembutan yang menentramkan. Tiba-tiba aku ingat Aida. Bagaimana kabar sahabatku itu. Setelah sarapan nanti aku harus menelponnya.
***
Aku mendapat kejutan hari ini. Usai shalat zuhur, Aida datang bersama ibu dan Aisyah. Aku senang sekali melihat mereka. Aku langsung memeluk ibu dengan sangat erat.
“Apa kabar mu nak?”
“Baik Bu.”
“Kok kamu bisa datang ke sini dengan ibu dan Aisyah Da?” tanyaku pada Aida.
“Kemarin usai gempa aku menelpon kamu tapi yang mengangkat telpon Zahara, dia bilang kamu sakit. Aku mau kasih tau ibu tapi takutnya beliau panik ya udah aku jemput aja sekalian,” jelas Aida.
“Tapi kok baru datang sekarang?” tanyaku sedikit merajuk.
“Iya maaf, waktu mau menjemput ibu aku dapat tugas mendadak,” jelas Aida.
Aku langsung memeluk sahabatku ku itu. Entah apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikannya.
“Terimakasih,” akhirnya hanya itu yang bisa ku katakan pada sahabatku itu.
“Rumah uni bagus ya? Pasti enak tinggal di sini,” ujar Aisyah.
“Ini bukan punya uni tapi punya Datuk Ai,” ujarku pada Aisyah.
”Rumah Datuk kan rumah uni juga, Ai mau tinggal di sini” lanjut Aisyah lagi.
Aku hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Aisyah. Aku sangat memahami pemikiran ABG seumuran dia. Pastilah rumah mewah dengan perabotan mahal menjadi impian semua orang. Apa lagi semua tontonan mengagung-agungkan kehidupan serba mewah seperti ini. Tapi mereka lupa bahwa keluarga lah yang paling penting. Jika boleh jujur aku lebih senang tinggal di rumah kami yang kecil di kampung karena ada ibu dan Aisyah di sana. Sementara di rumah ini penghuninya sedikit tapi ruangannya banyak.
“Nur apa ibu akan segera punya cucu?” tanya ibu tiba-tiba.  
Aku terenyuh mendengar pertanyaan ibu. Pertanyaan itu sudah dua kali aku dengar hari ini. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan ibu. Aku belum siap untuk itu. Bagiku untuk melakukan hubungan suami istri dibutuhkan cinta dan keiklasan. Dan masalahnya ada pada ku.
Berusaha tetap tersenyum aku menggeleng pelan. Aku tidak ingin ibu tau bagaimana hubungan ku dengan Datuk saat ini. Lagi pula memang tidak ada masalah. Toh semuanya juga disetujui oleh Datuk.
Ibu memandangku dengan tatapan penuh cinta.
“Belum rejeki,” ujar ibu pendek.
Untunglah perbincangan yang tidak ku harapkan itu terhenti oleh panggilan Bu Zaedar yang memberitahukan bahwa makan siang sudah terhidang. ’Terima kasih Bu Zaedar udah menyelamatkanku kali ini’ gumamku dalam hati.
Baru saja kami hendak melangkah ke ruang makan tiba-tiba aku mendengar suara mobil memasuki perkarangan. Begitu aku membuka pintu ku lihat Datuk berjalan dengan agak tergesa menghampiriku.
“Kamu nggak pa-pa kan Nur?” tanya Datuk dengan nada khawatir.
Aku menggeleng.
“Syukurlah ibu ada di sini,” Datuk segera menghampiri ibu dan menyalami beliau.
Datuk sangat menghormati ibu. Walaupun di mata orang-orang dia sangat tinggi dan disegani, di hadapan ibu dia tetap menjalankan perannya sebagai seorang menantu. Dia menyalami ibu dan mencium tangannya.
Tidak lama kemudian Yudha juga mencul dan menyalami ibuku.
“Sudah nggak sepi lagi kan?” katanya padaku sambil berlalu.
Aku melihat kearah kumpulan orang-orang itu. Seandainya setiap hari aku bisa menikmati kebersamaan seperti ini. Berkumpul dan makan di meja yang sama, setelah itu berkumpul di ruang keluarga dan bercerita tentang apa saja yang menyenangkan.
Sepanjang kebersamaan kami, Aida tidak terlalu banyak bicara. Aku tidak tau apa yang sedang difikirkan oleh sahabatku itu. Apa gerangan yang membuatnya merasa tidak nyaman?
“Kamu kok diam aja sih Da?” tanyaku pelan.
“Nggak kok Nur, nggak pa-pa,” jawabnya.
“Jangan bohong Da.”
“Bener nggak pa-pa,” jawabnya lagi.
“Aida…” aku mempelototinya.
Dia menoleh ke arahku dengan senyum cemas.
“Aku grogi karena ada dokter Yudha,” bisiknya malu-malu.
Aku jadi tersenyum geli melihat sahabatku itu. Ternyata itu alasannya. Apakah ada sesuatu yang bisa ku lakukan untuk sahabatku ini? Ku harap ada. Aku ingin melihat sahabatku mendapatkan cinta pertamanya. Dan dia juga berhak mendapat pendamping sebaik Yudha karena mereka adalah orang-orang tulus yang pernah aku temui. Jika saja Aida bisa bersama dengan Yudha, pastilah keluarga ini akan terasa sangat menyenangkan. Persaudaraan ku dengan Aida akan semakin kuat karena dia akan menjadi iparku. Seandainya . . .
Malam ini atas persetujuan Datuk aku meminta Ibu, Aisyah dan Aida untuk menginap. Alhamdulillah ibu dan Aisyah bersedia tapi Aida tidak bisa karena dia harus kembali ke Padang Panjang.
***