Sabtu, 26 Maret 2011

bukan siti nurbaya capture 18


BUNGA DALAM VAS

 “Da, kayaknya aku jatuh cinta.”
“Apa…?? Jatuh cinta? Sama siapa? Jangan main-main Nur, kamu udah punya suami,” cerocos Aida.
“Mang kamu pikir aku jatuh cinta sama siapa?”
“Mana aku tau, kamu belum kasi tau.”
“Makanya tanya donk sama siapa.”
“Sama siapa Siti Nuraini?”
“Sama Datuk.”
“Ya elah Nur, nikahnya udah lama kamu baru jatu cinta sama dia sekarang?”
Aku tertawa melihat ekspresi Aida. Aida adalah orang pertama yang tau tentang perasaanku ini. Aku sudah menunggu kesempatan ini untuk memberi tau Aida. Untungnya Aida bisa meluangkan waktunya untuk bertemu deganku di Taplau.
Setelah beberapa hari mengenali perasaanku, akhirnya aku yakin bahwa aku telah jatuh cinta. Walaupun dia adalah suamiku tapi aku tetap merasa malu punya perasaan seperti ini. Aku pernah jatuh cinta pada dr Yudha, tapi rasanya tidak seaneh sekarang. Kali ini benar-benar sulit di lukiskan.
Mungkin seperti cinta ombak yang berlari dengan cepat untuk mengatakan aku cinta padamu wahai pantai. Atau seperti cinta musim semi di Jepang yang tidak sabar mengatakan aku rindu padamu bunga sakura. Atau mungkin juga seperti cinta siang yang tidak sabar mengatakan aku membutuhkan mu matahari. Rasa ini benar-benar aneh dan aku tidak mengerti perumpamaannya.
“Kamu udah kasih tau Datuk?” tanya Aida kemudian.
Aku menggeleng.
“Emang harus dikasi tau ya Da? Caranya gimana?” tanyaku.
Aida menarik napas panjang dan menghirup air kelapa mudanya.
“Ya bilang I love you, atau aku sayang kamu suamiku, aku cinta padamu,” ujar Aida sambil menirukan gaya seorang pangeran mengungkapkan cinta pada seorang putri.
“Aaahh, norak Da,” kataku.
“Habis gimana donk?” tanya Aida lagi.
“Aku nanya kamu malah nanya balik,” keluhku.
Aku dan Aida terdiam sesaat. Ngungkapin cinta saja kok repot. Apa lagi pada suami sendiri, seharusnya kan lebih mudah dan tidak perlu takut karena itu sunnah. Jika suami atau istri mengetahui pasangannya mencintai dirinya, akan menimbulkan rasa bahagia. Dan membahagiakan pasangan wajib hukumnya. Itulah salah satu nikmatnya pernikahan, halal untuk bilang cinta.
“Aha, aku ada ide Nur, menurut yang pernah aku dengar katakana cinta dengan bunga.”
“Itu kan cowok Da.”
“Nggak ada aturannya kok cewek nggak boleh ngasih cowok bunga. Tapi caranya beda donk,” jelas Aida.
Aku berfikir sejenak.
“Kok jadi kayak ABG gini ya Da, ngomongin cinta-cintaan di tepi pantai,” ujarku.
“Emang masih ABG kan? Asosiasi Baju Gamis,” ujar Aida.
Kalau sudah tidak ada ide aku Aida memang suka asal, tapi itu yang membuatnya makin menyenangkan. Dia selalu punya lelucon untuk mengembalikan suasana.
Cukup lama aku dan Aida mengobrol di warung tenda Taplau itu. Sekarang Taplau menjadi tempat yang cukup nyaman untuk duduk santai menikmati pemandangan laut. Mungkin ini adalah hikmah dari abrasi dan isu tsunami. Dulu banyak berdiri warung esek-esek tempat muda-mudi pacaran. Entah apa yang mereka lakukan dalam ruangan yang hanya berukuran 1.5 x 1 m itu.
Tapi sekarang semuanya sudah dimusnahkan sehingga karunia Allah yang sangat indah ini tidak tercemar dengan perbuatan oknum yang mengundang lidah untuk memakinya. Sekarang para jilbaber pun banyak yang berwisata ke Taplau ini. Tapi pada saat-saat tertentu daerah ini juga menjadi tempat anak muda meluapkan jiwa mudanya dengan hura-hura. Jalan yang mulus di sepanjang Taplau sering dijadikan arena balap liar oleh para anak muda. Polisipun tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan mereka.
Itulah sekilas wajah kota Padang yang juga dijuluki kota tercinta ini. Kota yang dikelilingi oleh Laut dan menawarkan pemandangan yang sangat indah. Dan kota ini adalah kebanggaan orang awak karena banyak kaum intelektual dilahirkan oleh universitas-universitas yang cukup berkualitas. Tidak hanya orang-orang yang berasal dari Sumatera Barat tapi juga dari luar propinsi atau pulau. Meski tidak sepopuler UI, UGM, ITB atau Unpad.
***
Minggu pagi usai merapikan kamar, aku menikmati suasana di halaman belakang. Tidak disangka bunga-bunga yang ada di taman itu sedang bermekaran, indah sekali.
“Katakan cinta dengan bunga,” saran Aida melintas dibenakku.
Ku dekati bunga mawar beraneka warna yang ada di pot dekat teras. Sayang sekali kalau bunga itu harus dipetik dan kemudian layu. Tapi akan lebih baik lagi jika dia layu setelah memberi kesegaran bagi orang lain meski tidak menikmatinya langsung di taman. Ku petik beberapa tangkai bunga mawar itu dan menaruhnya dalam vas. Setelah mengisi vas itu dengan air aku menaruhnya di atas meja ruang kerja Datuk. Beliau sedang lari pagi jadi aku bisa dengan leluasa masuk ke ruang kerjanya dan menaruh vas bunga itu.
Ku edarkan pandanganku menyisiri setiap sisi ruangan itu. Di atas sofa yang ada di tengah ruangan bantal dan selimut yang masih berantakan belum dirapikan. Aku mengambil inisiatif untuk merapikannya. Setelah semuanya rapi aku langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Pagi ini aku ingin sekali membuat nasi goreng untuk sarapan Datuk. Kata teman-teman di kontrakanku dulu, nasi goreng bikinanku enak. Dan semoga saja Datuk juga berpendapat begitu. Bu Zaedar ikut membantu mempersiapkan semua bahan-bahannya. Kira-kira 20 menit lagi Datuk sudah sampai di rumah untuk sarapan. Dan aku ingin sebelum dia datang nasi gorengnya sudah terhidang.
Sesuai perkiraan, 20 menit kmudian Datuk datang dan langsung menyantap nasi goreng bikinanku.
“Mmm… Kok rasanya beda dengan biasanya Dar?” tanya Datuk pada Bu Zaedar.
“Itu yang masak ibu dokter pak,” ujar Bu Zaedar.
Datuk langsug menoleh ke arahku.
“Enak,” komentarnya singkat.
Aku senang sekali karena Datuk memakan nasi goreng itu dengan lahap. Apakah Datuk bisa merasakan cinta dalam setiap butir nasi goreng itu. Mudah-mudahan saja. Usai sarapan dan baca Koran sebentar Datuk menuju ke ruang kerjanya.
Jantungku jadi berdebar-debar, sebentar lagi dia akan melihat bunga yang aku tarok di meja kerjanya. Aku benar-benar tidak tenang dibuatnya, bagaimana kalau dia tidak menyukainya.
Dugaanku bahwa Datuk tidak menyukai bunga dalam vas makin kuat karena sepanjang kebersamaan kami hari itu Datuk sama sekali tidak menyinggung masalah bunga dalam vas itu. Hatiku mulai resah, mungkinkah Datuk tidak memiliki perasaan yang sama padaku? Walau kami sudah menikah, dia belum pernah bilang kalau dia mencintaiku.
Sepertinya saran Aida salah kali ini. Aku benar-benar malu karena merasa apa yang ku lakukan itu norak dan sia-sia. Ternyata tidak mudah mengungkapkan rasa cinta pada seseorang yang kita cintai. Aidaaaaaaaa……
“Assalamualaikum Nur,” sapa Aida di seberang sana.
“Waalaikum salam, ada apa Da?”
“Nur, aku lagi pusing ni.”
“Kenapa?”
“Dokter Rahman mau ke Jerman jadi dia udah nggak bisa lagi membimbing ku, gimana ni?” jelas Aida panik.
“Kamu udah coba hubungi dosen yang bisa menggantikan?”
“Udah, tapi pada sibuk semua, aku jadi stress.”
“Tenang Da, pasti ada yang bisa gantiin,” hiburku.
Aku berfikir sejenak sampai sebuah nama muncul dibenakku.
“Gimana kalau dokter Yudha?”
“Ah jangan Nur, meninggal ntar pasienku karena aku nggak konsen,” ujar Aida.
“Jangan berlebihan gitu donk Da, kedepankan profesionalisme aja,” nasihatku.
“Tapi aku nggak tau harus bilang apa sama dia,”ujar Aida.
“Kalau kamu nggak keberatan biar aku yang ngomong sama dia, gimana?” saranku.
“Iya deh, thanks ya Nur. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Pembicaraan yang sangat singkat. Pada hal tadinya aku ingin menelpon Aida untuk curhat, tapi sepertinya Aida sedang bingung saat ini dan dia lebih membutuhkan pertolonganku.
Aku berniat menelpon dokter Yudha saat itu juga, tapi rasanya tidak etis menelpon malam-malam begini. Aku takut mengganggu, akhirnya ku putuskan untuk membicarakan hal itu dengan dokter Yudha besok. Pastinya aku baru bisa menemuinya besok sore karena besok pagi aku harus balik ke desa nelayan dan bekerja sampai siang. Mudah-mudahan besok aku masih sempat menemuinya.
Keesokan hari usai shalat Subuh aku membantu Bu Zaedar mempersiapkan sarapan. Pagi ini Bu Zaedar masak bubur kacang hijau dan itu adalah salah satu sarapan kesukaan Datuk. Bubur kacang hijau itu tidak dicampur santan tapi hanya air dan diberi gula, pandan, garam dan jahe. Datuk sangat menjaga makanan yang hendak dikonsumsinya. Beliau lebih menyukai kuah bening dari pada kuah santan. Meskipun orang minang sangat menyukai makanan bersantan tapi Datuk tidak terlalu menyukainya. Santan bisa meningkatkan kolesterol dalam darah dan tentunya ini bisa meningkatkan resiko kena penyakit jantung. Wajar saja  Datuk terlihat kekar dan tidak gemuk seperti bapak-bapak pada umumnya.
Usai sarapan Datuk mengantarku ke desa nelayan. Di perjalanan kami tidak terlalu banyak bicara. Pada hal aku ingin sekali ada sebuah kalimat yang dilontarkannya mengenai bunga dalam vas itu. Tapi tidak terlihat sedikitpun perubahan dalam sikapnya. Beliau malah asik mendengarkan berita dari saluran radio.
“Senin depan para siswa SMU akan melaksanakan Ujian Akhir Nasional. Kecemasan mulai mendera siswa karena nilai kelulusan untuk tingkat SMU pada tahun ini naik menjadi 4,5. tidak sedikit orang tua siswa yang memprotes tingginya nilai kelulusan yang harus di capai oleh anak mereka.”
 Beberapa tahun belakangan ini untuk lulus sekolah dan melanjutkan pendidikan tingkat yang lebih tinggi memang cukup susah karena adanya target nilai yang harus di capai oleh seorang siswa untuk lulus dari sekolahnya. Para siswa harus berusaha lebih keras agar lulus. Di satu sisi tentu kebijakan yang sudah diterapkan beberapa tahun belakangan ini sanga positif karena siswa akan lebih bersungguh-sungguh saat ujian. Tapi sayangnya kualitas seorang siswa tidak bisa dilihat dari itu karena tidak sedikit siswa yang semasa sekolahnya memiliki prestasi yang bagus malah tidak lulus saat UAN.
“Aisyah juga akan ujian Nur?” tanya Datuk.
“Iya,” anggukku.
Tidak disangka adikku tercinta sebentar lagi akan lulus SMU dan jadi mahasiswa. Ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat. Baru saja kemarin aku yang lulus SMU, sekarang Aisyah pun sudah mau tamat. Dan tidak terasa juga aku sudah berada di kampung nelayan selama lebih dari 6 bulan. Waktu terasa sangat cepat berlalu.
“Aisyah mau kuliah dimana Nur?” tanya Datuk lagi.
“Kemarin dia bilang ingin kuliah di pulau Jawa, tapi Nur agak khawatir kalau dia kuliah jauh-jauh. Jadi nggak ada yang jaga ibu,” jelasku.
“Ibu kan bisa tinggal dengan kita, biar Ibu ditemani oleh Zaedar,” jawab Datuk.
Aku menoleh kearah Datuk, ku lihat dia tidak main-main mengatakan hal itu. Aku lega mendengarnya. Berarti Datuk mau menerima keluargaku tinggal bersama kami. Mudah-mudahan saja ibu bersedia.
Usai mengantarku Datuk langsung pergi. Aku pun menjalankan tugasku di puskesmas. Sesekali masalah bunga itu masih muncul di pikiranku. Kalau tau begini mungkin lebih baik aku tidak melakukannya kemarin.
Hari ini pasienku cukup banyak, sebagian besar dari mereka mengidap demam dan flu. Mungkin hal ini dipengaruhi karena cuaca yang tidak menentu dan sulit diprediksi. Begitu semua pekerjaanku di Puskesmas selesai, aku dan Ara berjalan bersama menuju rumah dinas. Siang itu cukup panas karena itu aku dan Ara mengambil langkah seribu agar cepat sampai di rumah. Rencananya usai shalat Zuhur aku akan menelpon dokter Yudha untuk memastikan keberadaannya dan membicarakan soal Aida.
Baru saja aku melipat mukena seusai shalat terdengar Ara memanggilku dari depan. Ku pasang jilbabku dan segera menuju ke ruang depan.
“Uni, ada yang nyari,” ujar Ara sambil menunjuk kepada laki-laki muda dengan pakaian bermotif bunga di depan pintu.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Anda dokter Nur Aini?”
“Iya.”
“Saya ke sini mengantarkan paket,” ujarnya sambil melambaikan tangan ke arah sebuah mobil pick up yang ada di halaman rumah dinas itu. 2 orang lainnya segera datang dengan membawa buket bunga. Mereka berdua bolak balik mengantarkan bunga dan memasukkannya ke dalam rumah setelah meminta persetujuanku. Kalau dihitung-hitung ada 20 buket bunga dari berbagai macam jenis yang kini tersusun rapi di ruang tamu yang kecil.
Setelah selesai, mereka pamit meinggalkan aku dan Ara yang bengong melihat rumah kami dipenuhi dengan bunga segar.
“Dari siapa semua ini uni?” tanya Ara.
Aku menggeleng karena bingung juga siapa yang memberikan bunga sebanyak ini. Aku berjalan mendekati bunga-bunga itu dan mengambil kartu yang terselip di buket bunga paling besar, mawar merah.
Terimakasih sudah memberi keindahan dan keharuman dalam kehidupan saya…
Erick
Aku terpaku melihat semua bunga-bunga itu yang ternyata dari Datuk. Aku hanya meletakkan 5 kuntum mawar dalam vas di meja kerjanya, tapi dia malah mengirimkanku 20 buket bunga. Aku benar-benar tidak tau harus berkata apa. Hanya air mata haru yang mengalir di pipiku. “Aku mencintaimu suamiku” bisikku lirih dalam hati.
Keberadaan banyak bunga di rumah dinas itu tidak membuatku lupa untuk menelpon dr Yudha dan janjian untuk bertemu. Kami sepakat untuk bertemu di RS M Jamil jam 2.00 siang ini. Walau matahari sangat terik Alhamdulillah aku bisa membuang semua rasa malasku untuk keluar rumah.
Begitu sampai di rumah sakit aku langsung menuju ruangan dr Yudha. Ternyata dia sudah menunggu di sana dan langsung mempersilahkan aku masuk dan duduk
”Ada apa Nur?” tanyanya membuka pembicaraan.
”Begini dokter, Aida teman saya butuh seorang pembimbing untuk menyelesaikan koasnya. Dokter Rahman yang biasa membimbing dia akan berangkat ke luar negeri jadi dia tidak ada pembimbing lagi. Jadi maukah dokter Yudha menggantikan dokter Rahman membimbing Aida?” tanyaku penuh harap.
”Kenapa dia tidak bicara langsung pada saya?” tanya dr Yudha kemudian.
Ah benar juga mengapa harus aku? Kenapa aku tidak berfikir kalau dr Yudha akan mempertanya masalah itu.
”Itu karena dokter juga pernah membimbing saya dan saya rasa bimbingan dokter juga akan sangat membantu Aida,” jawabku mencari alasan.
”Kenapa kamu yang bilang itu ke saya bukannya Aida?” tanyanya lagi.
”Nanti Aida akan bicara langsung pada dokter kalau dokter bersedia. Sekarang dia sedang di Padang Panjang dan dia minta pertolongan saya.” jawabku memberi alasan.
Dokter Yudha diam sesaat.
”Nanti akan saya kabari,” ujarnya singkat.
Karena merasa urusan ku sudah selesai aku berpamitan.
Sebelum aku menarik daun pintu aku kembali berbalik menghadap dr Yudha.
”Dokter, Aida adalah sahabat saya yang paling baik di dunia ini, saya harap dokter melihat dan sdikit membuka hati,” kataku lalu berlalu meninggal dr Yudha.
***

bukan siti nurbaya capture 17


SESUATU YANG TIDAK BIASA

Ternyata kebersamaan dengan ibu dan Aisyah tidak bisa berlangsung lama. Usai shalat subuh ibu dan Aisyah sudah siap-siap untuk pulang ke Bukittinggi karena Aisyah harus sekolah. Datuk meminta supirnya untuk mengantar mereka sampai ke rumah. Tentu saja ibu menolak, tapi Datuk berhasil meyakinkan mereka sehingga akhirnya ibu bersedia diantar.
Aku bisa meliha raut bahagia di wajah Aisyah. Tentu saja dia senang karena jarang-jarang bisa naik mobil pribadi. Aku jadi gemas melihat adikku itu. Aku berharap suatu saat ibu dan Aisyah bisa tinggal bersama denganku. Tapi tentunya atas izin Datuk. Aku mulai nggak tega membiarkan ibu mengurus rumah dengan kondisinya sekarang ini. Ibu seharusnya menikmati masa tua dengan banyak beristirahat bukannya bekerja. Belum lagi dalam hitungan bulan Aisyah akan kuliah, pastinya nanti ibu akan tinggal sendiri.
Sorot mataku tidak bisa berpaling melepas kepergian ibu. Memang jarak Bukittinggi-Padang tidaklah jauh, hanya 2 atau 3 jam perjalanan. Tapi waktu yang membuat jarak itu terasa sangat sulit ditempuh. Aku bekerja di puskesmas kampung nelayan sampai Jumat siang dan kemudian pulang ke rumahku. Hari Sabtu dan Minggu aku bersama Datuk. Beliau kerap membawaku bertemu dengan teman-teman bisnisnya. Dan sebagai seorang istri aku tidak boleh menolak, meski kadang aku harus memendam dalam-dalam rinduku untuk bertemu orang tuaku.
Kadang aku merasa sangat durhaka. Sebagai seorang anak aku belum bisa membahagiakan orang tuaku. Aku belum bisa membalas apa yang telah dilakukan ibu unukku. Aku masih sibuk dengan kehidupanku sendiri, bahkan saat aku menjadi seorang dokter, aku tidak tau kesehatan ibuku sendiri.
Sementara sebagai seorang istri aku tidak menjalankan tugasku layaknya seorang istri. Diam-diam aku sering merasa bersalah pada Datuk setiap kali aku melihatnya tidur di ruang kerja, lari pagi sendirian dan menghabiskan akhir pekannya dengan bekerja. Seorang suami tentu saja ingin menghabiskan waktu libur dengan menikmati kehangatan bersama keluarganya. Tapi aku malah tidak bisa menjalankan peranku sebagai penyejuk hatinya. Aku malah membuatnya seperti orang asing.
Apakah boleh, menikah karena terpaksa ku jadikan alasan untuk membenarkan semua tindakan ku ini? Apakah boleh aku membayar semua rasa kecewaku atas semua yang telah ditakdirkan Allah padaku dengan cara seperti ini? Aku tau semua ini tidak benar tapi aku tidak tau harus mulai dari mana untuk memperbaikinya.
Usai sarapan Datuk mengantarku ke desa nelayan. Pagi itu Datuk terlihat sangat berseri. Beliau mengenakan kemeja coklat tua dan celana dasar warna hitam. Terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
“Datuk itu berkharisma ya” kata-kata Aida kembali melintas di benakku. Dasar Aida, dia paling bisa menggodaku. Tapi memang benarkan?
“Kenapa kamu senyum Nur?” tanya Datuk mengagetkanku.
Seperti orang yang tertangkap basah aku jadi salah tingkah ditanya begitu. Apakah aku harus bilang kalau aku tersenyum karena mimikirkan dia atau harus mencari alasan lain yang lebih serius? Hah, lebih baik tidak memberi jawaban apa-apa.
“Kamu cantik hari ini,” kata Datuk tiba-tiba.
Apakah aku tidak salah dengar? Datuk barusan memujiku. Lagi-lagi aku salah tingkah. Baru kali ini ada laki-laki yang memujiku seperti itu, dan dia adalah suamiku sendiri. Jadi boleh donk aku sedikit bangga. Ternyata beginilah rasanya dirayu oleh seorang laki-laki.
Hari ini aku mengenakan baju gamis warna biru muda dan jilbab dengan warna senada. Stelan yang sedang ku pakai ini adalah oleh-oleh yang dibawakan Datuk untukku kemarin. Sebenarnya aku sangat suka dan nyaman mengenakan pakaian ini tapi aku sedikit canggung karena aku yakin baju ini pasti mahal. Dan aku tidak terbiasa memekai barang mahal. Tapi rezeki diberikan Allah bukan bertujuan agar kita mengeluh bukan?
Sesampai di depan rumah dinasku, Datuk membukakan pintu mobil dan mempersilahkan ku turun.
“Kamu yakin sudah sehat dan bisa bekerja hari ini?” tanya Datuk.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku benar-benar merasa sudah sehat, lagipula aku tau apa yang harus ku lakukan jika tiba-tiba nanti aku merasa sakit.
“Baiklah kalau gitu, kamu hati-hati dan jangan terlalu lelah. Nanti saya akan menginap di sini,” ujar Datuk.
Belum sempat aku menyetujuinya Datuk sudah menaiki mobilnya dan pergi usai memberi salam. Aneh, bukankah seharusnya hari ini dia berada di rumah istrinya yang lain? Mengapa dia malah mau menginap di rumah dinas yang sangat sederhana ini?
Hari ini banyak warga desa yang peduli padaku. Setiap ada yang berpapasan denganku mereka menanyai keadaanku. Saat aku akan membuang umbang-umbang yang ada di halaman rumah, Bapak Kepala Desa yang kebetulan lewat langsung menolongku. Ibu-ibu tetangga juga datang membawakan buah kelapa muda segar dan ikan yang sudah dimasak. Bahkan Zahara pun ikut-ikutan menjadi sangat over protektif. Saat aku akan mengangkat air galon ke atas dispenser dia langsung mengambil alih dan mengangkatnya sendirian.
“Uni jangan kerja berat-berat, nanti keguguran lho,” ujar Ara.
Aku melongo mendengar apa yang barusan dikatakannya. Keguguran? Siapa yang hamil? Aku jadi bingung.
“Siapa yang hamil?” tanyaku heran.
“Uni?” katanya.
Aku jadi tertawa dibuatnya.
“Jadi kamu kira uni hamil?” tanyaku di sela-sela tawaku.
Dengan muka nggak kalah bingung dia mengangguk.
“Dan ini semua karena kalian berfikir saya hamil?” tanyaku sambil menunjuk kelapa muda dan ikan goreng segar.
Lagi-lagi Ara mengguk.
Aku benar-benar tidak bisa menahan ketawa. Ku raih tangan Ara dan meletakkannya di perutku.
“Nggak buncitkan?” tanyaku menggoda.
“Ih uni kami kira uni hamil karena pingsan kemaren,” tawa Ara pecah begitu menyadari kekeliruannya dan orang desa.
Aku jadi heran, mengapa semua orang jadi membicarakan hal seputar anak. Kemarin Yudha dan ibu, sekarang Zahara dan orang desa. Sepertinya sakit kemarin menjadi arti khusus buat ku. Setidaknya ada yang bisa membuatku tertawa setelah kemarin mengalami hari yang cukup menakutkan.
Hari yang menyenangkan di desa nelayan. Warga desa yang sudah seperti keluar bagiku dan yang tidak ingin ku lewatkan adalah bermain bersama anak-anak pantai, tidak ketinggal ada Rosa di sampingku. Menikmati matahari terbenam sambil bermain, itu tidak pernah terlewatkan dan tidak pula terlupakan. Apalagi kalau ada jagung bakar, hhhmmm nikmat.
“Boleh saya bergabung di sini?” tanya Datuk yang kedatangannya tidak kami sadari.
“Hah tentu” jawabku sambil tersenyum.
Belum sempat Datuk beranjak dari tempatnya berdiri tiba-tiba bola kaki yang dimainkan oleh anak-anak pantai itu mendarat mulus di punggungnya. Datuk tampak kaget dengan kejadian itu, sementara anak-anak yang tadinya ribut juga tak kalah kaget. Ketakutan terlihat jelas di wajah mereka yang polos.
Datuk membalikkan badannya dan mengambil bola itu perlahan. Aku jadi khawatir Datuk akan memarahi mereka. Aku tidak bisa bayangkan kalau hal itu sampai terjadi. Aku makin cemas saat Datuk berjalan mendekati gerombolan anak-anak yang terlihat takut.
“Maaf Pak,” ujar salah seorang diantara mereka dengan suara bergetar.
Tapi ternyata Datuk bukannya memarahi mereka, malah dia ikut bermain dengan anak-anak itu. Bahkan dia tidak kalah heboh dibandingkan mereka. Saat anak dari timnya mencetak gol, dia ikut tos-tosan dengan mereka. Dengan cepat Datuk berbaur dengan anak-anak itu.
“Ternyata Datuk baik juga ya ni,” ujar Ara.
Aku hanya tersenyum sambil memperhatikan Datuk yang semakin asik bermain. Hhmm, kadang aku lupa betapa penyayangnya dia. Bahkan semua orang di lingkungan komplek pun sangat menghormatinya karena keramah-tamahannya. Dia disegani bukan ditakuti.
Entah mengapa matahari sore itu seakan kalah saing dengan Datuk. Buktinya mataku enggan beralih darinya. Apa mungkin karena kemeja coklat tua dan celana dasar warna hitam yang dikenaknnya? Entahlah… Yang jelas dia membuat matakku tidak bisa beralih darinya dan membawa tawa bagi anak-anak itu.
Sesuai janjinya malam ini Datuk menginap di rumah dinasku. Karena kamarnya hanya dua, Datuk tidur di kamarku. Aku canggung sekali berada satu kamar dengannya. Setelah 3 bulan menikah, ini kali ke kelimanya kami tidur satu kamar. Sebenarnya aku ingin mengungsi ke kamar Ara, tapi tidak mungkin karena aku tidak ingin Ara berfikir yang macam-macam.
Datuk tidur hanya beralaskan sebuah tikar karena di kamar ku hanya ada kasur singel. Aku menawarkan Datuk untuk tidur di atas kasur tapi dia menolak.
“Saya mengerti mengapa kamu sangat menyukai desa ini Nur,” ujar Datuk.
Aku tersenyum tipis.
“Tawa anak-anak itu mendamaikan hati. Saya seperti menemukan sebagian diri saya yang hilang.” Datuk menarik napas panjang, matanya menerawan seakan mengingat sesuatu.
“Dulu waktu saya seumuran mereka, saya tidak bisa menikmati kebebasan seperti itu. Bapak mendidik saya dengan sangat keras. Saya dipaksa belajar dan tingkah laku saya pun harus seperti bangsawan pada umumnya. Saya tidak sempat menikmati kebahagiaan masa kecil. Ibu yang sangat memahami saya meninggal saat saya benar-benar sedang butuh seseorang untuk mengadu dan mncurahkan semua isi hati saya. Saat Bapak dan ibu tiri saya mengalami kecelakaan dan meninggal pun saya harus menjalani hidup dengan sungguh karena harus mengurus usaha keluarga agar bisa bertahan hidup dengan Yudha. Yudha yang baru berumur 10 tahun kala itu belum benar-benar memahami apa yang terjadi. Tapi saya bersyukur karena memiliki dia dan bisa melihat dia tumbuh sampai sekarang. Dia adalah alasan terkuat saya untuk menjalani semuanya dengan sungguh-sungguh,” Datuk kembali menghela napas.
”Kamu tau Nur, anak-anak tadi mengingatkan saya pada 17 tahun yang lalu. Saat itu saya melihat segerombolan anak-anak sedang bermain bola kasti di lapangan dekat persawahan. Saya bermaksud mau melihat para petani memanen padi dan tiba-tiba bola itu mengenai kening saya hingga memar. Lalu seorang anak perempuan yang kira-kira berumur 7 tahun dan berambut panjang menghampiri saya. Dia menggulung rambutnya dan menggosokkannya ke kening saya. Gadis kecil itu berkata ’Kalau saya jatuh dan terluka, ibu selalu menggosokkan rambutnya ke luka saya dan setelah itu saya tidak merasa saki lagi.
Datuk menghentikan ceritanya. Sementara aku menatap wajah Datuk lekat-lekat. Lapangan yang diceritakannya itu adalah lapangan tempat aku dan ayah sering singgahi, dan gadis kecil yang diceritakannya itu adalah aku. Datuk membalas tatapanku.
”Saat itu saya merasakan sesuatu dalam hati saya dan saya berdoa semoga kelak gadis kecil itu akan menjadi bagian hidup saya, dan ternyata doa itu terkabul,” ujar Datuk.
Aku tidak sanggup berkata apa-apa dan hanya memandangi wajah Datuk yang tenang.
“Terimakasih Nur, kamu membawa damai dalam hidup saya,” ujar Datuk setengah berbisik.
Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa. Padahal baru saja aku merasa sangat berdosa karena tidak bisa membawa kesejukan baginya. Tapi ternyata Datuk malah merasakan kedamaian bersamaku. Aku makin tidak mengerti dengan sosok yang ada disampingku saat ini. Beberapa saat yang lalu aku masih melekatkan image yang tidak baik padanya. Tapi saat ini aku malah melihat dia sebagai manusia biasa yang punya kelemahan dan butuh orang lain untuk menguatkannya.
Entah kekuatan apa yang mendorongku, perlahan ku raih tangannya dan menggenggamnya erat. Tangan itu terasa lembut dan hangat seakan kasih sayangnya mengalir ke dalam jiwaku. Datuk mengingatkanku pada sosok Ayah yang sudah pergi untuk selamanya namun sering ku rindukan. Genggaman itu membuatku nyaman dan dikuatkan.
Aku merasa sesuatu terjadi di hatiku. Ada rasa ingin selalu dekat dengan Datuk. Rasa yang lebih dari sekedar mengagumi. Ada getaran halus di jiwaku yang dulu juga pernah ku rasakan pada Yudha, tapi kali ini lebih kuat. Ada asa ingin memiliki dan takut untuk kehilangan. Hah, mungkinkah ini cinta? Apakah aku telah jatuh cinta? Dan mungkin inilah yang dirasakan Datuk saat aku membantunya dulu.
***

bukan siti nurbaya capture 16


KAPAN PUNYA ANAK, NUR?

Pagi ini ku bangun dengan tubuh yang segar. Kicauan burung yang saling bersahutan bagaikan nyanyian alam yang memberi kedamaian. Rasa sepi yang tadi sempat muncul seolah sirna karena nyanyian itu. Walau berada di rumah yang sangat nyaman, aku merasa sepi. Datuk masih di luar kota dan baru akan pulang besok.
Untuk membuang rasa sepi, usai shalat subuh aku mengenakan pakaian olahraga dan jalan-jalan santai mengelilingi kompleks. Sudah banyak juga warga yang berlari-lari kecil di jalanan sepanjang komplek itu. Aktivitas olahraga juga terlihat di lapangan tenis yang ada di komplek itu. Minggu pagi begini memang enak untuk berolahraga dan bersilaturrahmi dengan para tetangga yang juga menikmati udara pagi ini dengan olahraga. Aku juga sempat berkenalan dan berbincang-bincang dengan beberapa orang tetanggaku.
Setelah lelah berjalan, aku duduk di dekat sebuah gerobak penjual susu kacang kedelai tempat aku pernah melihat Datuk duduk. Aku cukup heran melihat seorang tukang susu bisa masuk ke komplek ini dengan membawa gerobak yang berisi banyak susu kacang kedelai . Setahuku satpam yang menjaga gerbang komplek ini sangat tegas dan tidak membiarkan sembarang orang masuk ke sini. Tapi syukurlah, karena bisa menikmati susu kacang kedelai yang sehat pagi-pagi begini.
”Susu kacang kedelainya satu Pak, yang hangat ya,” pintaku pada pedagang yang sudah paruh baya itu.
Dengan ramah dia mempersilahkanku memilih sendiri rasa yang aku inginkan. Ku pilih susu kedelai hangat yang rasanya original. Ini adalah salah satu minuman kesukaanku. Dulu waktu masih kuliah, aku dan teman kontrakanku suka olahraga pagi setiap hari Sabtu dan Minggu di GOR Agus Salim. Setiap selesai olahraga kami selalu minum susu kedelai yang harganya hanya Rp 1.000,-. Murah dan sehat.
”Mbak ini orang baru ya di sini?” tanya Bapak itu dengan logat Jawa yang kental.
Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Tanpa pikir panjang aku duduk lesehan di pembatas jalan dekat Bapak itu jualan.
”Rumahnya yang mana mbak?” tanya si Bapak lagi.
”Nomor 9 A Pak,” jawabku
”Lho rumahnya Datuk ya Buk?”
”Iya... Bapak kenal sama beliau?”
”Ya kenal donk mbak, di sini siapa yang nggak kenal beliau. Orangnya baik begitu. Beliau itu langganan saya, usai olahraga beliau pasti minum susu kedelai saya ini,” cerocos si Bapak.
Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya.
”Mbak ini ponakannya toh?” tanyanya lagi.
Aku jadi geli sendiri mendengar pertanyaan si Bapak, ternyata perkiraannya tidak berbeda dengan kebanyakan orang. Aku sudah mulai terbiasa dengan pertanyaan seperti itu.
”Bukan Pak, saya istrinya,” jawabku sambil tersenyum dan kembali menyedot susu kedelaiku yang tinggal setengah.
”Oh maaf mbak, saya kira ponakannya. Habis mbak masih muda banget sih,” kata si Bapak lagi.
Aku lagi-lagi tersenyum dibuatnya. Aku memang sudah lebih tenang menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Pertanyaan si tukang susu kedelai belum seberapa menyakitkan dari pada pertanyaan orang-orang sebelumnya.
Dulu aku tidak sesabar ini menjawab pertanyaan orang-orang yang menilai buruk padaku. Dua bulan yang lalu, saat baru saja menikah, aku pernah membentak Nek Suir yang mengata-ngatai aku perempuan matre karena mau menikah dengan orang tua kaya. Dia menyindirku dengan mengatakan bahwa aku adalah tukang rebut suami orang dan perempuan tidak benar yang bersembunyi di balik jilbabku.
Aku benar-benar tidak bisa menahan emosi saat itu. Sebenarnya sudah lama aku menahan emosi pada nenek yang usianya hampir 70 tahun itu. Diusianya yang sudah lanjut dia bukannya berfikir bagaimana untuk mendekatkan diri pada Allah, tapi malah sibuk mencari kejelekan orang dan memfitnah orang lain.
Waktu ibu berhutang untuk keperluan kuliahku pun dia suka mengatai ibuku. Ibu tidak pernah melawan atau membantahnya, beliau hanya mendengarkan apa yang dikatakan Nek Suir. Tapi begitu dia mengataiku, aku tidak bisa tinggal diam, aku melontarkan kata-kata yang tidak kalah kasar padanya.
Aku tidak tau setan apa yang merasukiku. Aku benar-benar kehilangan kontrol dan akal sehatku. Untunglah ibu segera menenangkanku dan aku tidak pernah lupa yang dikatakan ibu pada saat itu.
“Tidak usah dimasukin ke dalam hati, anggap saja kamu sedang mendapat ujian kesabaran. Kalau kamu membalasnya dengan emosi berarti kamu tidak ada bedanya dengan orang itu. Dan harus berapa kali kamu memaki orang? Mungkin saja setelah ini akan ada lagi yang mengatakan hal yang sama. Allah Maha Tau apa yang kita lakukan, dan Dia tidak akan menutup hati semua orang akan kebenaran. Jadi jangan terlalu diambil hati, hadapi saja dengan senyuman ya nak,” nasihat ibu waktu itu.
Ternyata memang benar, itu bukan satu-satunya yang pernah membuatku sakit hati. Banyak lagi orang-orang yang kemudian menilaiku seperti itu. Tapi aku hanya berprinsip waktu akan menjelaskan semuanya. Dan selama aku tidak melakukan seperti yang dikatakan orang-orang, aku tidak perlu khawatir karena Allah Maha Tau.
Hhaahh… Minggu yang cerah, sungguh indah dunia di mataku pagi ini. Usai membayar susu yang ku minum aku mohon diri pada Bapak si tukang susu. Dia terlihat senang menerima beberapa uang ribuan dariku. Aku juga membawakan susu itu untuk Bu Zaedar dan Pak Ujang.
Dengan santai aku melangkah menuju rumah klasik dengan sentuhan modern itu. Satu tikungan lagi aku akan segera sampai di rumah yang seperti istana itu. Begitu hendak berbelok, sebuah suara memanggilku dari belakang. Dan kemudian sosok pemilik suara itu berlari kecil menghampiriku.
“Kamu udah nggak apa-apa?” tanya dokter Yudha.
Aku cukup kaget melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Aku mengangguk.
“Oh ya kemarin saya belum sempat bilang terimakasih,” ujarku kemudian.
“Ah nggak usah sungkan begitu,” ujarnya.
Meskipun hanya menggenakan kaos oblong warna putih, celana training dan sepatu sport Yudha tidak kehilangan kharismanya sebagai seorang dokter yang ramah dan baik hati.
“Oh ya, bagaimana rasanya tinggal di rumah ini?” tanya Yudha tiba-tiba.
“Sepi,” jawabku sekenanya.
“Makanya cepat beri saya ponakan donk biar rame,” ujarnya.
Hah, ponakan? Aku belum pernah berfikir sampai ke sana. Jangankan punya ponakan, bersentuhan dengan Datuk saja baru sekedar bersalaman. Ternyata banyak hal lain yang harus dilaksanakan setelah menikah.
“Oh ya, Dokter kapan menikah?” tanyaku spontan.
“Kemarin sih sudah ada rencana, tapi calonnya sudah diambil orang,” katanya dengan nada dan mimik serius.
“Oohh kan masih banyak yang lain Dok,” ujarku.
Yudha tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul. Sejenak aku memandang wajahnya dan menangkap gurat kesedihan di matanya. Siapakah orang yang telah tega mengambil pancaran indah dari mata orang yang diam-diam pernah ku cintai ini. Sementara aku saja ditolak olehnya tanpa satu patah katapun. Kejadian memalukan itu kembali terlintas dibenakku. Sungguh itu sangat memalukan karena pada saat itu aku tidak sadar bahwa tindakanku juga disaksikan oleh dua orang suster yang ada di ruangan dr Yudha.
”Nur,” panggil dr Yudha membuyarkan lamunanku.
“Oh ya ayo masuk dulu kita sarapan bersama,” ajakku mencairkan suasana hening yang tiba-tiba tercipta diantara kami.
“Nggak diajak pun saya bakalan masuk kok Nur,” ujarnya menggoda.
Aku tersenyum mendengarnya dan melangkah memasuki halaman rumah yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman hias itu. Beberapa pohon tinggi dan besar di halaman itu terlihat basah daun-daunnya karena embun yang tebal pagi ini. Burung-burung kecil bermain riang terbang dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Seperti rumah ku di desa saja pemandangan seperti ini.
“Pasti kamu nggak tau kalau semalam aku nginap di sini kan?” tanya dr Yudha sambil mengikuti lagkahku.
“Oh ya?” tanyaku tak percaya. Memang sejak kemarin aku tidak keluar kamar sama sekali, jadi aku tidak tau kalau dr Yudha menginap di rumah ku.
“Iya, begitu tau kamu sakit, Datuk memintaku menjaga kamu disini tapi aku nggak ngasih tau kamu biar kamu nggak canggung,” jelas dr Yudha.
“Terimakasih.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali terimakasih. Sungguh beruntung perempuan yang akan menjadi pendamping Yudha kelak. Dia adalah pria yang penuh rasa tanggungjawab dan memiliki kelembutan yang menentramkan. Tiba-tiba aku ingat Aida. Bagaimana kabar sahabatku itu. Setelah sarapan nanti aku harus menelponnya.
***
Aku mendapat kejutan hari ini. Usai shalat zuhur, Aida datang bersama ibu dan Aisyah. Aku senang sekali melihat mereka. Aku langsung memeluk ibu dengan sangat erat.
“Apa kabar mu nak?”
“Baik Bu.”
“Kok kamu bisa datang ke sini dengan ibu dan Aisyah Da?” tanyaku pada Aida.
“Kemarin usai gempa aku menelpon kamu tapi yang mengangkat telpon Zahara, dia bilang kamu sakit. Aku mau kasih tau ibu tapi takutnya beliau panik ya udah aku jemput aja sekalian,” jelas Aida.
“Tapi kok baru datang sekarang?” tanyaku sedikit merajuk.
“Iya maaf, waktu mau menjemput ibu aku dapat tugas mendadak,” jelas Aida.
Aku langsung memeluk sahabatku ku itu. Entah apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikannya.
“Terimakasih,” akhirnya hanya itu yang bisa ku katakan pada sahabatku itu.
“Rumah uni bagus ya? Pasti enak tinggal di sini,” ujar Aisyah.
“Ini bukan punya uni tapi punya Datuk Ai,” ujarku pada Aisyah.
”Rumah Datuk kan rumah uni juga, Ai mau tinggal di sini” lanjut Aisyah lagi.
Aku hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Aisyah. Aku sangat memahami pemikiran ABG seumuran dia. Pastilah rumah mewah dengan perabotan mahal menjadi impian semua orang. Apa lagi semua tontonan mengagung-agungkan kehidupan serba mewah seperti ini. Tapi mereka lupa bahwa keluarga lah yang paling penting. Jika boleh jujur aku lebih senang tinggal di rumah kami yang kecil di kampung karena ada ibu dan Aisyah di sana. Sementara di rumah ini penghuninya sedikit tapi ruangannya banyak.
“Nur apa ibu akan segera punya cucu?” tanya ibu tiba-tiba.  
Aku terenyuh mendengar pertanyaan ibu. Pertanyaan itu sudah dua kali aku dengar hari ini. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan ibu. Aku belum siap untuk itu. Bagiku untuk melakukan hubungan suami istri dibutuhkan cinta dan keiklasan. Dan masalahnya ada pada ku.
Berusaha tetap tersenyum aku menggeleng pelan. Aku tidak ingin ibu tau bagaimana hubungan ku dengan Datuk saat ini. Lagi pula memang tidak ada masalah. Toh semuanya juga disetujui oleh Datuk.
Ibu memandangku dengan tatapan penuh cinta.
“Belum rejeki,” ujar ibu pendek.
Untunglah perbincangan yang tidak ku harapkan itu terhenti oleh panggilan Bu Zaedar yang memberitahukan bahwa makan siang sudah terhidang. ’Terima kasih Bu Zaedar udah menyelamatkanku kali ini’ gumamku dalam hati.
Baru saja kami hendak melangkah ke ruang makan tiba-tiba aku mendengar suara mobil memasuki perkarangan. Begitu aku membuka pintu ku lihat Datuk berjalan dengan agak tergesa menghampiriku.
“Kamu nggak pa-pa kan Nur?” tanya Datuk dengan nada khawatir.
Aku menggeleng.
“Syukurlah ibu ada di sini,” Datuk segera menghampiri ibu dan menyalami beliau.
Datuk sangat menghormati ibu. Walaupun di mata orang-orang dia sangat tinggi dan disegani, di hadapan ibu dia tetap menjalankan perannya sebagai seorang menantu. Dia menyalami ibu dan mencium tangannya.
Tidak lama kemudian Yudha juga mencul dan menyalami ibuku.
“Sudah nggak sepi lagi kan?” katanya padaku sambil berlalu.
Aku melihat kearah kumpulan orang-orang itu. Seandainya setiap hari aku bisa menikmati kebersamaan seperti ini. Berkumpul dan makan di meja yang sama, setelah itu berkumpul di ruang keluarga dan bercerita tentang apa saja yang menyenangkan.
Sepanjang kebersamaan kami, Aida tidak terlalu banyak bicara. Aku tidak tau apa yang sedang difikirkan oleh sahabatku itu. Apa gerangan yang membuatnya merasa tidak nyaman?
“Kamu kok diam aja sih Da?” tanyaku pelan.
“Nggak kok Nur, nggak pa-pa,” jawabnya.
“Jangan bohong Da.”
“Bener nggak pa-pa,” jawabnya lagi.
“Aida…” aku mempelototinya.
Dia menoleh ke arahku dengan senyum cemas.
“Aku grogi karena ada dokter Yudha,” bisiknya malu-malu.
Aku jadi tersenyum geli melihat sahabatku itu. Ternyata itu alasannya. Apakah ada sesuatu yang bisa ku lakukan untuk sahabatku ini? Ku harap ada. Aku ingin melihat sahabatku mendapatkan cinta pertamanya. Dan dia juga berhak mendapat pendamping sebaik Yudha karena mereka adalah orang-orang tulus yang pernah aku temui. Jika saja Aida bisa bersama dengan Yudha, pastilah keluarga ini akan terasa sangat menyenangkan. Persaudaraan ku dengan Aida akan semakin kuat karena dia akan menjadi iparku. Seandainya . . .
Malam ini atas persetujuan Datuk aku meminta Ibu, Aisyah dan Aida untuk menginap. Alhamdulillah ibu dan Aisyah bersedia tapi Aida tidak bisa karena dia harus kembali ke Padang Panjang.
***

bukan siti nurbaya capture 15


BADAI PASTI BERLALU

Siang itu baru saja aku memejamkan mata dan melangkahkan angan ke gerbang mimpi. Aku benar-benar merasa tidak enak badan, sepertinya aku demam karena tadi malam aku hujan-hujanan dari desa sebelah. Tapi belum sempat aku tertidur, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara teriakan Ara membangunkanku.
”Uniiii, gempaaaaa...”
Aku langsung meloncat kaget begitu mendengar teriakan Ara. Gempa merupakan momok bagi warga Padang akhir-akhir ini karena santernya isu tsunami setiap kali terjadi gempa, apa lagi bagi warga yang tinggal di pesisir pantai. Gempa itu cukup kuat, bahkan aku sampai mual dibuatnya.
”Apakah bencana itu akan terjadi?” tanyaku dalam hati.
Meski ini bukan gempa pertama yang aku rasakan tapi tetap saja rasa takutku seperti orang yang pertama kali merasakan gempa. Bergegasku ku pakai jilbabku dan bersama-sama Ara berlari keluar rumah.
Jalanan telah dipadati warga yang khawatir rumahnya akan runtuh. Tak lama kemudian kepala desa mengomandoi agar kami semua lari ke bukit untuk menghindar jika terjadi tsunami. Dengan langkah agak sedikit gontai ku ikuti warga kampung nelayan berlari menuju bukit. Kepanikan terlihat jelas di wajah mereka yang mengungsi.
Begitu sampai di atas bukit, kami terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Ada yang komat-kamit, ada anak-anak yang menangis mencari ibunya dan ada orang tua yang menatap nanar ke arah pantai yang masih terlihat jelas dari bukit itu dan ada juga yang sibuk mengemasi barang-barang berharga milik mereka. Sedangkan aku duduk bersandar pada sebatang pohon, aku benar-benar pusing. Meski gempa telah berhenti tapi bagiku permukaan bumi masih belum rata. Lama aku tertunduk tanpa berani membuka mata.
Setelah satu jam gempa berlalu, kami masih tetap di bukit karena khawatir akan terjadi gempa lagi. Kepala desa meminta agar kami tetap di atas bukit sampai ada kepastian tidak akan terjadi tsunami. Sementara aku masih tetap duduk tenang di tempatku. Sesekali Ara menanyai keadaanku karena ia melihat wajahku sangat pucat. Aku benar-benar berharap jika memang harus sakit janganlah saat ini. Tapi makin lama tubuhku trasa makin lemah dan tidak bertenaga. Aku terus berdoa sampai ku rasakan sebuah tangan menyentuh bahuku lembut.
”Dokter Yudha...” bisikku lirih saat melihat sosok Yudha berdiri di depanku.
”Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya yang hanya ku jawab dengan anggukan kecil.
Perlahan dia duduk di sampingku dan menyodorkan sebotol air mineral padaku.
”Datuk memintaku datang ke sini untuk menjaga kamu karena beliau sedang di Jakarta,” kata Yudha.
”Terimakasih,” kataku lirih.
”Nur, kamu yakin baik-baik saja?” tanyanya lagi dengan nada cemas.
”Hhhhmmm...” aku mengangguk.
”Tapi kamu terlihat sangat pucat,” lanjutnya.
Ku coba untuk mengangkat kepalaku agar dia yakin aku baik-baik saja tapi tiba-tiba pemandanganku menjadi gelap dan aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.
***
Kepalaku terasa sangat berat begitu aku membuka mata. Ku coba mengedarkan pandanganku yang masih kebur ke sekitar. Entah apa yang telah terjadi tapi aku sangat mengenali tempat ku berada saat ini. Ini adalah kamar ku di rumah yang sangat mewah itu. Begitu aku benar-benar sudah sadar aku baru ingat bahwa tadi aku tidak sadarkan diri di atas bukit setelah melihat dokter Yudha.
”Alhamdulillah, bu dokter sudah bangun,” ujar Bu Zaedar.
Aku berusaha untuk bangkit dari tempat tidurku. Dengan sigap Bu Zaedar mengambil bantal dan menaruhnya di belakangku sehingga aku bisa bersandar dengan nyaman.
”Siapa yang membawa saya ke sini Bu?”
”Pak Yudha dan sekarang beliau masih ada di luar.”
Pastinya adik iparku itu yang membawaku ke sini karena dialah orang terkhir yang ku lihat sebelum aku pingsan tadi.
”Sebentar Bu saya ambilkan minum dulu,” ujar Bu Zaedar dan bergegas berjalan ke luar kamarku.
Tiba-tiba aku ingat pada Ara dan warga desa yang tadi mengungsi ke atas bukit. Ku raih handphone ku dan memencet nomor handphone Ara.
”Assalamualaikum,” sapa Ara di seberang sana.
”Waalaikumsalam warahmatullah, gimana keadaan kamu dan warga desa di sana Ra?” tanyaku.
”Tidak apa-apa Uni, semuanya aman terkendali. Tadi sudah ada pengumuman bahwa gempa itu tidak berpotensi tsunami jadi semuanya sudah kembali ke rumah masing-masing,” jelasnya.
”Alhamdulillah.”
Aku lega mendengarnya. Aku khawatir jika ada yang membutuhkan ku karena tiba-tiba ada yang sakit atau terluka. Syukurlah...
”Keadaan Uni gimana?”
”Alhamdulillah sudah tidak apa-apa.”
”Tadi uni tiba-tiba pingsan, untung saja ada dokter Yudha. Karena uni nggak sadar juga dia menggendong uni dan langsung membawa uni pulang.”
Apa...??? jadi Yudha menggendongku? Astaghfirullahalazhim. Aku benar-benar tidak enak dibuatnya. Entahlah ini salah atau tidak, yang jelas dia bukan mukhrimku walau sekarang kami sudah berstatus saudara ipar.
”Ya Allah mudah-mudahan Engkau ampuni aku jika itu salah,” doaku dalam hati.
”Ya sudah kalau gitu hati-hati di sana, Assalamualaikum...” ujarku mengakhiri pembicaraan dengan Ara.
”Waalaikumsalam warahmatullah...”
Tak lama kemudian Bu Zaedar pun datang membawa sebuah nampan. Di belakang Bu Zaedar ku lihat sosok dokter Yudha mengikutinya. Tapi langkahnya terhenti di depan pintu begitu menyadari aku tidak mngenakan jilbab.
Bergegas ku pasang jilbabku dan merapikan pakaianku agar tidak terumbar auratku. Dengan hati-hati Bu Zaedar menaruh nampan yang dibawanya di atas bofet. Dokter Yudha pun memasuki kamarku setelah mengucapkan salam.
”Bagaimana keadaanmu Nur?” tanyanya lembut.
”Alhamdulillah sudah mendingan,” jawabku.
Dokter Yudha duduk di samping tempat tidurku.
”Sekarang kamu makan dulu biar perutnya tidak kosong. Saya sudah siapkan obat untuk kamu,” ujarnya lagi.
”Saya suapin ya Bu dokter,” kata Bu Zaedar.
”Tidak usah, tapi Bu Zaedar di sini saja,” pintaku.
”Ya sudah, kalau kamu sudah tidak apa-apa saya pamit dulu. Kebetulan saya ada pekerjaan di Rumah Sakit,” pamit Dokter Yudha.
Aku mengangguk.
”Assalamualaikum,”
”Waalaikujmsalam warahmatullah.”
Aku memperhatikan punggung dokter Yudha saat berjalan meninggalkan kamarku. Hati kecilku masih memiliki getaran untuknya. Jika boleh aku jujur jauh di dalam lubuk hatiku aku ingin sekali dia ada di sampingku. Tapi itu jelas-jelas tidak mungkin karena dia bukan makhramku. Sekarang dia adalah adik iparku, dan seharusnyalah aku bersikap sebagai seorang kakak dan wanita yang sudah bersuami. Aku tidak boleh lagi memelihara rasa cinta yang dulu pernah ku rasakan padanya. Untunglah pikiranku segera buyar karena ada telpon dari Datuk.

Usai minum obat aku merasakan tubuhku mulai sedikit ringan. Ku layangkan pandanganku ke hamparan kota Padang yang terlihat jelas dari jendela kamarku. Sore yang indah, matahari perlahan sembunyi di batas cakrawala tanpa awan menutupinya. Suasana sore itu benar-benar sangat damai dan tentram seolah tidak terjadi apa-apa hari ini.
Keindahannya seakan menghapus rasa takut dan cemas yang tadi sempat hadir. Hari kini telah berganti menjadi sangat indah.

***

bukan siti nurbaya capture 14


WHO IS DATUAK..??

Jumat sore Datuk menjemputku lalu membawaku pulang ke rumah kami. Lagi-lagi aku tidak bisa tidur di kamar yang luas itu. Aku duduk di balkon depan kamarku. Dari balkon ini aku bisa melihat halaman belakang yang luas dan pemandangan kota Padang malam hari. Lampu-lampu kota terlihat berkelap-kelip seperti bintang, indah sekali. Lampu yang ada di halaman belakang juga terlihat sangat indah. Taman di belakang rumah itu lebih bagus dari pada halaman depan karena ada kolam yang isinya ikan koi ukuran besar. Warnanya beraneka ragam dan mereka berenang hilir mudik mengelilingi kolam. Seandainya ibu dan Aisyah ada di sini mereka pasti juga akan menyukai pemandangan di sini. Lama sekali aku berada di balkon itu dan baru kembali ke kamarku kira-kira jam 11.00 WIB. Setengah jam kemudian aku baru tertidur.
Keesokan paginya aku bangun dengan tubuh yang segar. Usai shalat subuh aku menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk Datuk. Ternyata di dapur juga sudah ada Bu Zaedar yang sedang beres-beres.
“Ada yang bisa saya bantu Bu?” tanyaku.
“Ah tidak usah dokter, nggak banyak kok yang mau saya kerjakan,” tolaknya halus.
“Biasanya Bapak sarapan apa?” tanyaku lagi.
“Biasanya Bapak makan roti dan segelas kopi. Tapi nanti kira-kira jam setengah sembilan. Selesai shalat subuh Bapak biasanya jalan pagi mengitari komplek ini. Ibu Dokter tidak ikut?” tanya Bu Zaedar.
“Oh tidak…” jawabku.
Bu Zaedar sama sekali tidak tau kalau aku tidak sekamar dengan Datuk. Aku menuju balkon atas depan untuk melihat suasana sekitar komplek. Udara di sini segar sekali dan pemandangannya juga sangat bagus. Jalanan sekitar komplek itu terlihat sepi. Dari jauh aku melihat Datuk sedang berlari-lari kecil sambil sesekali mengayun-ayunkan tangannya. Tidak heran Datuk terlihat bugar dan tubuhnya tidak seperti Bapak-bapak kebanyakan. Tubuhnya masih terlihat tegap dan kekar.
Datuk itu kharismatik ya” kata-kata Aida terngiang di telingaku.
Aku jadi tersenyum sendiri mengingat apa yang dikatakan sahabatku itu. Hah, dia itu ada-ada saja. Aku belum pernah memperhatikan wajah Datuk lebih dari dua puluh detik jadi aku belum menangkap pancaran dari wajahnya. Tidak lama kemudian Datuk telah berada tidak jauh dari rumah kami seiring dengan matahari pagi yang mulai meninggi dan terasa hangat. Aku lihat Datuk sepertinya tengah menikmati matahari pagi itu di sebuah bangku batu di samping gerobak penjual susu kedelai.
Aku kembali ke dapur dan membantu Bu Zaedar mempersiapkan sarapan untuk Bapak.
“Buk, kebiasaan sehari-hari Bapak apa saja?” tanyaku sambil mengolesi selai di roti.
“Kalau pagi selesai shalat Subuh Datuk keliling komplek untuk olah raga, beliau baru pulang pukul delapan kurang lalu mandi. Pukul setengah sembilan beliau sarapan dan berangkat ke kota. Baru pulang lagi sebelum Maghrib, kalau beliau bawa pekerjaan pulang ke rumah, beliau bisa bekerja di ruang kerjanya seharian. Tapi kalau di rumah istri beliau yang lain saya tidak tau,” jelas Bu Zaedar.
Aku manggut-manggut.
“Bu dokter adalah orang yang beruntung bisa menikah dengan Bapak,” ujar Bu Zaedar yang membuatku kaget.
“Kenapa?” tanyaku heran.
Bagiku menikah dengan orang yang lebih pantas menjadi ayahku dan menjadi istri kesekian bukanlah sebuah keberuntungan tapi takdir yang sulit namun harus ku terima.
“Walau istri Datuk banyak, tapi ada-ada saja orang tua yang meminta Datuk menikahi anaknya,” jelas Bu Zaedar membuatku tidak percaya.
“Benarkah?” tanyaku dengan nada ragu.
“Iya, sebulan yang lalu saja ada ibuk-ibuk yang menawarkan anaknya yang baru berumur 20 tahun untuk menikah dengan Datuk, tapi Datuk menolaknya.”
“Kenapa?”
“Saya tidak tau”
“Sebenarnya istri Datuk ada berapa sih Buk?” tanyaku lagi.
“Datuk nggak cerita pada dokter?” tanya Bu Zaedar balik.
“Bapak bilang saya istri kelimanya tapi beliau belum cerita lebih banyak karena saya tidak mempertanyakannya,” jawabku.
Bu Zaedar memperhatikanku dengan tatapan heran.
“Bapak sudah menikah lima kali…” wanita paruh baya itu mulai bercerita.
“Istri Datuk yang pertama sudah meninggal 20 tahun yang lalu saat melahirkan, bayinya ikut meninggal. Dua tahun kemudian Bapak menikah lagi dengan seorang perawan tua dari desa dokter dan mereka memiliki satu anak yang sekarang berumur 15 tahun. Bu Dokter kenalkan dengan Salma?” tanya Bu Zaedar dan ku jawab dengan anggukan.
Salma adalah seorang guru SD yang tinggal di Kapau yang rumahnya sangat bagus itu. Dia baru menikah di umur 30 tahun dan menjadi gunjingan orang kampung karena dianggap perawan tua.
“Ketiga, Datuk menikah dengan seorang janda yang punya dua orang anak, tapi mereka hanya menikah setahun karena ternyata janda itu bukan wanita baik-baik. Dia hanya mengharapkan harta Datuk. Datuk menceraikan dia setelah ketahuan mencuri uang Datuk dalam jumlah yang tidak sedikit. Kemudian Datuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu bekas pegawainya di show room mobil namanya Aryuni. Lalu yang terakhir Bu Dokter,” jelas Bu Zaedar panjang lebar.
Berarti saat ini Datuk hanya memiliki tiga orang istri dan seorang anak kandung. Memiliki harta yang begini banyak tapi hanya memiliki seorang anak kandung dan seorang anak tiri. Sementara orang yang kehidupannya pas-pasan atau susah memiliki banyak anak. Bahkan waktu sekolah dulu aku punya seorang teman yang memiliki 10 orang saudara. Orang tuanya hanya petani biasa dan kehidupan mereka cukup memprihatinkan.
Bagaimana dengan saudara Datuk Buk?” tanyaku lagi.
“Datuk cuma dua bersaudara. Bapaknya orang Belanda dan ibunya orang Minang asli yang berasal dari desa Bu Dokter. Tapi saat Datuk berusia 15 tahun ibu beliau meninggal dan Bapaknya Datuk menikah lagi dengan orang Padang...”
Ya, aku memang pernah dengar tentang itu.
“Adik Datuk bernama Yudha van Bowell dia juga seorang dokter. Yudha adalah adik sebapak Datuk. Jarak umur mereka sangat jauh, 21 tahun. Begitu kedua orang tua mereka mendapat kecelakaan dan meninggal saat Yudha masih berusia 10 tahun, dia dibesarkan oleh Datuk. Alhamdulillah Yudha sudah jadi orang sekarang. Datuk amat sangat menyayangi orang-orang terdekatnya. Bahkan Datuk juga telah banyak membantu saya dan keluarga saya. Saat suami saya tidak dapat pekerjaan, Datuk memberi kami pekerjaan dan membantu biaya sekolah dua orang anak kami,” cerita Bu Zaedar.
Aku benar-benar tersanjung mendengar cerita tentang Datuk. Ternyata beliau adalah seorang yang bertanggungjawab dan sangat menyayangi keluarganya. Hanya satu yang disayangkan imagenya sebagai orang yang doyan kawin sudah terpatri di benak setiap orang.
Tapi sungguh aku sama sekali tidak tau tentang apa yang barusan diceritakan oleh Bu Zaedar. Aku jadi ingin tau lebih banyak tentang suamiku itu. Dengan seksama aku dengarkan setiap cerita Bu Zaedar sampai-sampai aku tidak melakukan apa-apa karena terpana melihat Bu Zaedar bercerita begitu semangat. Terlihat jelas bahwa Bu Zaedar sangat mengagumi sosok Datuk.
Pukul setengah sembilan kurang beberapa menit Datuk telah duduk di meja makan dan memakan roti dan menghirup kopi yang ku buatkan untuknya.
“Hhmm, enak sekali rasanya tidak seperti biasa, apa kamu yang membuatnya Nur?” tanya Datuk padaku yang duduk di sampingnya. Aku menganggukkan kepalaku. Beliau kembali menikmati roti sarapannya dan meminum kopi buatanku hingga habis.
“Apakah nanti siang kamu ada acara?” tanya Datuk padaku.
Aku menggleng.
“Nur maukan menemani saya nanti siang,” tanyanya lembut.
Aku mengangguk.
“Kita akan pergi habis Zhuhur,” kata beliau sambil mencuci tangannya di kobokan yang sudah tersedia. Datuk kemudian beranjak dan kembali ke kamarnya.
Aku bosan sekali berada di rumah sebesar ini. Begitu melihat pintu kamar Datuk aku jadi tergoda untuk melihat apa yang sedang beliau lakukan di dalam kamar itu. Tapi tanganku tertahan begitu akan mengetuk pintunya. Rasanya tidak mungkin aku masuk ke dalam tanpa alasan yang jelas. Untung saja aku mendapatkan akal. Aku segera turun menuju dapur, mengambil segelas air putih dan membawakannya untuk Datuk.
Begitu masuk ruangan itu aku terpana melihat sekelilingnya. Ruangan itu terasa dingin karena ber-AC, di sekelilingnya terdapat rak-rak yang dipenuhi oleh buku. Datuk duduk di belakang meja kerjanya dan sibuk mengotak atik laptop yang ada di depannya. Ternyata ruangan ini bukan kamar tapi pustaka dan ruang kerja Datuk. Tidak ada tempat tidur atau kasur di sana, hanya sebuah sofa panjang yang diatasnya ada bantal dan selimut. Jadi di sanalah Datuk tidur. Aku merasa sangat bersalah. Sementara aku tidur di kasur yang empuk, Datuk tidur di sofa. Alangkah berdosanya aku sebagai seorang istri.
“Nur…” panggil Datuk mengagetkanku. Aku jadi salah tingkah ketahuan melamun.
“Tarok airnya di sini saja,” pintanya dengan suara lembut.
Aku berjalan menuju meja beliau dan menaruh gelas berisi air putih itu di atas mejanya. Lagi-lagi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Lama aku berdiri terpaku di dekat meja Datuk tanpa berbuat dan berkata apa-apa. Aku memperhatikan wajah Datuk yang terlihat sangat serius.
Benar yang dikatakan Aida, Datuk terlihat berkharisma. Wajahnya putih bersih dengan mata yang teduh. Dia terlihat lebih muda dari umurnya walaupun garis wajahnya tetap menunjukkan umurnya jauh lebih tua dariku. Kalau diperhatikan secara seksama beliau memiliki kemiripan dengan Yudha. Dug..., tiba-tiba jantungku berdebar.
“Nur, kenapa berdiri saja? Duduklah,” pintanya mengagetkanku dan lagi-lagi aku salah tingkah dibuatnya.
Dengan wajah yang terasa memanas aku duduk di satu-satunya sofa yang ada di sana. Datuk kemudian menghampiriku dan menyerahkanku setumpuk map.
“Apa ini Pak?” tanyaku.
“Ini semua adalah daftar perusahaan kita,” jawabnya singkat.
Aku memperhatikan map-map itu dengan tatapan heran tanpa berani menyentuhnya.
”Kamu berhak tau apa saja harta suamimu,” ujar Datuk seolah bisa membaca pikiranku.
Aku membuka satu map yang paling atas. Itu adalah berkas kepemilikan Mall yang ada di kota Padang, lengkap dengan surat-surat lainnya. Lalu ku ambil lagi map selanjutnya yang berisi tentang surat kepemilikan 100 Ha kebun sawit di daerah Riau. Begitu juga map-map lainnya. Semua map itu berisikan semua aset milik Datuk, tidak hanya di Sumatera Barat tapi juga ada di Riau. Subhanallah, aku benar-benar tidak menyangka Datuk memiliki harta sebanyak itu. Pantas juga orang-orang berfikir aku menikah dengan pria tua karena harta. Hah, aku benar-benar tidak habis pikir.
***
Dua hari bersama Datuk di rumah kami dan berkunjung ke beberapa tempat, membuatku mengetahui banyak hal tentang suamiku itu. Datuk adalah orang yang ramah pada siapa saja. Tidak ada yang mencolok dari penampilan atau omongannya. Beliau tidak banyak bicara dan bicara yang penting-penting saja. Beliau terlihat akrab dengan siapa saja namun wibawanya sebagai seorang pemimpin tetap terlihat. Beliau juga adalah sosok yang perhatian dan peduli pada orang lain.
Beliau suka makan sayur dan buah-buahan. Dalam mobilnya beliau selalu membawa buah-buahan, terutama apel merah. Datuk membawaku ke beberapa perusahaannya. Beliau memperkenalkanku pada manager dan orang-orang penting lainnya di perusahaan itu.
”Bisa saja nanti jika saya tidak sempat mengecek keadaan di sini, Ibu Nur yang mengecek ke sini, dan saya harap kalian bisa membantu beliau,” ujarnya pada mereka.
Aku hanya tersenyum ketika mereka menoleh ke arah ku. Apa kah itu artinya Datuk mempercayakan perusahaannya padaku? Hah, aku kan tidak punya basic ilmu manajemen.
Sebelum mengantarku pulang ke rumah dinas, aku sempat menemani beliau mengecek salah satu mallnya yang ada di kota Padang, aku melihat sebuah laptop warna putih 10 inci di sebuah toko komputer di dalam mall itu. Aku sudah lama menginginkan sebuah laptop tapi aku belum sanggup membelinya. Apa lagi laptop itu luar biasa mahalnya, Rp 15 juta. Aku jadi ingat puskesmas yang semua datanya masih ditulis secara manual. Alangkah bagusnya jika di sana ada komputer meskipun hanya komputer biasa.
Aku teringat pada kartu debet yang diberikan Datuk padaku tempo hari. Jika aku mau  aku bisa saja membeli laptop atau komputer untuk puskesmas desa nelayan. Begini cerinya, tadi waktu berada di depan Mall, aku mampir dulu ke ATM, rencananya aku mau transfer uang untuk ibu dan adekku di kampung melalui ATM.
Usai mentransfer uang dari ATM ku, iseng ku masukkan ATM yang diberikan Datuk. Begitu aku melihat berapa jumlah saldo dalam ATM itu, berkali-kali aku meyebut nama Allah. Berulang-ulang aku menghitung jumlah nol yang tertera di sana sampai aku yakin dalam rekening itu ada uang sebesar Rp 100 juta. Subhanallah, aku hampir pingsan melihat jumlah uang sebanyak itu. Jangankan Rp100 juta, uang Rp 2 juta saja belum pernah tersimpan dalam rekeningku.
Dengan uang itu aku bisa saja membeli laptop yang kuinginkan bahkan barang-barang yang lain pun bisa aku beli.  Tapi aku tidak mau kehilangan kesederhanaan yang sudah dipupuk sejak aku kecil. Tidak sulit belajar menjadi orang kaya, tapi sangat sulit belajar menjadi orang yang sederhana. Aku tidak akan menghambur-hamburkan uang yang diberikan Datuk padaku.
Begitu sampai di rumah dinasku, Datuk memberikan sebuah kotak yang dibungkus rapi. Begitu beliau meninggalkan rumah dinas kecilku, ku buka kotak itu, ternyata isinya laptop yang ku lihat di mall tadi. Aku tidak menyangka ternyata Datuk mengetahui bahwa aku menyukai laptop itu.
Air mataku jatuh ketika itu juga. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku hanya terpana meliha laptop itu tanpa berani menyalakannya. Dan aku tidak tau apa yang aku tangisi. Apakah ini tangis bahagia atau malah tangis sedih? Sedih karena aku masih belum sadar dan aku lupa mensyukuri rahmat Allah yang memberiku suami yang begitu baik.
***
Pulang dari puskesmas aku teringan Rosa, sudah empat hari aku tidak bermain dengan bocah kecil itu. Usai shalat Ashar aku berkunjung ke rumahnya dan bermain bersamanya di tepi pantai seperti biasa. Dia banyak bertanya kenapa aku jarang mengunjunginya akhir-akhir ini.
“Oca suka kangen sama Ibu doktel karena ibu doktel udah jarang main ke rumah Oca,” ujarnya.
“Maaf ya sayang, Ibuk kan udah punya suami jadi setiap hari Jumat sampai Minggu, Ibu nggak bisa main sama kamu sayang,” jawabku.
“Kalau Ibu udah punya suami belalti bental lagi akan punya dedek donk?” tanyanya lugu.
Aku menjawabnya dengan tawa geli. Anak sekecil dia sudah tau tentang hal itu. Bagaimana mungkin aku punya anak, samapai detik ini Datuk belum pernah menyentuhku. Bagi wanita yang telah menikah itu adalah aib, tapi bagiku itu bentuk ketidaksiapanku menjalani semua ini. Hhhaahh...
Aku kembali teringat janjiku untuk memberikan Rosa kaki palsu agar dia bisa berjalan dan sekolah lagi. Dengan uang yang diberikan Datuk aku bisa saja membelikan kaki palsu buat Rosa kapan saja, tapi aku harus minta persetujuan Datuk. Kalau nanti beliau menjemputku aku akan membicarakan hal ini padanya dan memperkenalkan beliau pada Rosa.
Mata hari terbenam sore itu sangat indah. Sinar jingganya membentur awan membentuk siluet istana yang sangat megah. Sunggh indah dan sempurna alam ini diciptakan Allah SWT.
***